Konten dari Pengguna

Seni Matematika, Buku Pop-up dari Abad Ke-16

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu halaman dalam Euclid’s Elements | Flickr/University of Glasgow Library
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu halaman dalam Euclid’s Elements | Flickr/University of Glasgow Library

Perkembangan buku unik dengan gaya pop-up rupanya tidak hanya terkenal pada zaman sekarang. Pasalnya, pada tahun 300 Sebelum Masehi, ada salah satu buku berjudul Euclid’s Elements dengan topik matematika dasar (dan merupakan buku paling berpengaruh dalam sejarah sains dunia) yang menjadi salah satu contoh desain pop-up klasik.

Bahkan, buku Euclid’s Elements diperkirakan merupakan salah satu karya matematika paling awal yang pernah dicetak (saat mesin cetak baru pertama kali ditemukan). Buku tersebut juga diyakini sebagai buku cetak kedua (setelah Alkitab) yang pernah diterbitkan ketika pada tahun 1482.

Tepat pada era Ratu Victoria, Euclid’s Elements diresmikan menjadi buku acuan standar di setiap sekolah. Gaya buku berbentuk pop-up pada masa lampau ini terbilang amat unik, jika dilihat dari perkembangan teknologi pada masanya. Untuk itu, tak sedikit peneliti kekinian mulai beranggapan bahwa metode ajar pada masa klasik telah mulai berkembang dengan ditemukannya buku matematika bergaya pop-up.

Euclid’s Elements pun diketahui pertama kali diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris pada tahun 1570 oleh Sir Henry Billingsley. Di sini, sejarah mencatat bahwa ia merupakan seorang pedagang Inggris, yang kemudian dengan upayanya mampu membawanya menjadi seorang wali kota di London. Ia juga sarjana matematika lulusan Universitas Cambridge, yang dikenal fasih menerjemahkan teks dari bahasa Yunani.

Henry Billingsley si penerjemah ulung

Melalui buku terjemahannya, Euclid’s Elements begitu dikenal oleh para cendekiawan, yang kemudian begitu tertarik untuk mengembangkan isi dari matematika dasar. Maka tak heran, dengan ketenarannya, Henry mampu menerjemahkan tiga belas buku Euclid (matematikawan dari Alexandria, Mesir) serta menambahkan tiga karya tambahan yang berkaitan dengan Euclid.

Euclid sedang mengajar | Wikimedia Commons

Dengan gaya pop-up, buku tersebut dinilai sangat membantu dalam menerapkan konsep teori yang dituliskan. Bentuk ilustrasi gambar berbentuk diagram lipat tiga dimensi pun memiliki nuansa seni tersendiri.

Terutama dalam bidang sains, gaya ini cenderung berbeda dari teks teori yang sudah tersebar sebelumnya. Sehingga fitur pop-up yang yang unik di bidang sains adalah cara lain untuk menjelaskan secara mudah teori matematika yang kini sudah dianggap sulit oleh sebagian banyak orang.