Sepak Bola Tak Ramah Untuk Wanita Sejak Dulu

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada jarak lebih dari 100 tahun antara profesionalisme wanita dan pria dalam sepak bola, dan itulah yang membuat olahraga ini seakan tak adil dari aspek gender.

Pada Hari Natal 1917, sekitar 10 ribu penonton jadi saksi pertandingan dua tim sepak bola wanita di Preston, Inggris. Antusiasme tumbuh, Dick Kerr and Co Ammunitions Factory sukses menang 4-0 atas Arundel Coulthard Factory, dan para pemain dari kedua tim ialah buruh pabrik.
Tiga tahun kemudian, jumlah penontonnya lebih gila lagi, pertandingan Dick Kerr's Ladies melawan St Helen's Ladies disaksikan oleh 53 ribu orang di Stadion Goodison Park, Kota Liverpool.
Sayang, itu semua terhenti pada tanggal 5 Desember 1921, ketika Football Association (FA) melarang wanita bermain sepakbola. Dilansir The Guardian, FA saat itu bilang, "Permainan sepak bola tak sesuai untuk wanita dan tak dapat didukung lagi."
Butuh waktu 50 tahun bagi para wanita Inggris untuk kembali merumput. Sampai pelarangan itu akhirnya dicabut seiring dengan terbentukanya Women's Football Association (WFA) pada tahun 1971.
Para wanita juga sudah dapat berkarier secara profesional dalam sepak bola, dan mereka didukung oleh Undang-undang Diskriminasi Seks yang disahkan tahun 1975.
Foto: thesun.co.uk

Nianpun begitu, masih terlalu sulit untuk para wanita mendapatkan keuntungan finansial yang signifikan dalam sepak bola. Pada tahun 1989 saja, hanya empat saluran televisi di Inggris yang mau memberi liputan reguler, dan ini berdampak pada nilai gaji yang mereka dapatkan.
Bandingkan saja, saat ini pesepak bola pria bergaji tertinggi sedunia Carlos Tevez menerima 615 ribu poundsterling (Rp 10,9 miliar) per minggu. Sedangkan Marta Viera da Silva, pesepakbola wanita bergaji tertinggi, hanya menerima sekitar delapan ribu poundsterling per minggu.
Semua ketimpangan ini tak terlepas dari pengaruh masa lalu, di mana profesionalisme karier sudah didapatkan para pria pada tahun 1860-an.
