Sisi Licik Kuil di India, Menjual Rambut yang Dikurbankan

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Padahal, banyak wanita di antara mereka rela menggunduli rambut untuk dipersembahkan kepada Dewa Wisnu.

Legenda mengatakan bahwa Dewa Wisnu pernah dipukul kepalanya saat dia kecil. Sebagian kepalanya jadi botak; seorang putri surgawi melihat kondisi tersebut. Sang putri lantas memotong sebagian rambutnya, lalu dengan menggunakan kekuatan magis dia tanamkan di kulit kepala Dewa Wisnu.
Tuhan sangat terkesan dengan pengorbanannya. Sehingga didiktekan kepada semua Bhakta (mereka yang berbakti kepada Tuhan) agar menawarkan rambut mereka ketika datang ke tempat peribadatan.
Dari sanalah kebiasaan mencukur rambut di Kuil Hindu bermula, sebagai tanda pengorbanan dan keikhlasan. Dahulu, rambut-rambut pada akhirnya akan dibuang ke sungai. Tetapi, seiring waktu, beberapa kuil malah memanfaatkannya untuk mendulang dana.
Salah satu tempat paling kontroversi adalah Kuil Venkateswara, yang terletak di Bukit Tirumala, Andhra Pradesh, India. Dipercaya sebagai kuil terkaya dalam hal penerimaan sumbangan, dengan rata-rata per harinya dikunjungi 50.000 sampai 100.000 jemaah; puluhan ribu di antara mereka menjalani ritual cukur rambut.
Di dunia industri, rambut orang India paling dicari. Selain karena terjamin bagus, sebagian besar wanita pedesaannya tidak pernah menggunakan pewarna buatan. Beberapa rambut bahkan terurai sangat panjang, membuat harganya pun kian mahal.
Rambut berkualitas terbaik terkadang dijual seharga 800 dolar AS per kilo. Sementara rambut dengan panjang lebih dari 18 inci sudah pasti berharga di atas 300 dolar AS atau 450 dolar AS.
Great Lengths International, perusahaan pengolah rambut asli yang berbasis di Italia, merupakan salah satu pembeli terkemuka. Perusahaan ini memasok ekstensi rambut ke 60 negara berbeda dan memiliki lebih dari 40.000 salon. Di salon mereka yang terletak di London, ekstensi rambut Great Lengths bisa mencpai harga lebih 1.100 dolar AS dengan daya tahan selama enam bulan.
Sementara banyak jemaat mulai mengetahui sisi licik pengurus kuil, mereka berdalih bahwa hasil penjualan rambut dikumpulkan dan disumbangkan kembali kepada komunitas lokal, untuk mendanai bantuan medis, pendidikan, proyek infrastruktur lainnya.
Benar atau tidaknya pernyataan pengurus kuil, yang pasti banyak jemaat tidak tahu bahwa kurban rambut mereka ternyata bakal dijual. Pihak kuil semestinya memberikan transparansi sebelum kurban, agar tak muncul kesalahpahaman.
