Konten dari Pengguna

Studi Terbaru Ungkap Otak Berpotensi Membengkak Setelah Terkena Stroke

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Stroke adalah kondisi dimana pasokan darah menuju otak terganggu
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Stroke adalah kondisi dimana pasokan darah menuju otak terganggu

Stroke adalah suatu kondisi dimana terganggunya pasokan darah menuju otak, bisa juga diakibatkan karena adanya penyumbatan atau pembuluh darah yang pecah. Otak apabila tanpa darah tidak akan berfungsi dengan normal, sehingga sebagian sel-sel yang ada di otak akan mati dan tidak berfungsi.

Dalam sebuah studi terbaru yang diteliti dari University of Rochester, mengungkapkan bahwa stroke secara tidak langsung dapat menyebabkan sistem gylmphatic, yaitu jalur khusus untuk membersihkan limbah beracun pada otak bisa mengenai dan membanjiri sel-sel penting pada otak. Hal ini dapat mengakibatkan kemungkinan terjadinya edema serebral, yaitu pembengkakan otak yang dapat berpotensi menuju kematian.

Fenomena yang diamati sejauh ini baru dilakukan pada otak tikus. Namun, dengan ini nampaknya para peneliti dapat mempersiapkan diri apabila seandainya hal tersebut juga dapat menimpa otak manusia. Ditambah lagi, para peneliti juga berharap agar penelitian ini dapat membantu mereka untuk lebih memahami stroke yang terjadi pada manusia dengan lebih baik lagi.

“Memahami dinamika yang terjadi, bisa menunjukkan sebuah jalan untuk menuju strategi baru dalam menghadapi stroke,” kata Maiken Nedergaard, co-direktur dari University of Rochester Medical Center.

Foto: Ketika seseorang terkena stroke jaringan sel-sel otak akan kekurangan nutrisi dan oksigen

Dari hasil penelitian, setelah terkena stroke, sel-sel otak menjadi kekurangan nutrisi dan oksigen, sehingga sel-sel tersebut menjadi tidak berfungsi dan terdepolarisasi. Gelombang listrik dapat memicu neuron terdekat, gelombang hiperaktif, dan gelombang penghambatan pada otak.

Semua ini melepaskan sejumlah besar kalium dan neurotransmiter di otak, yang mengakibatkan dinding pembuluh darah menyempit sehingga darah tidak bisa masuk. Dengan pembuluh darah yang kosong ini, cairan yang dibuang melalui sistem glymphatic ini akan membanjiri sel-sel otak dan menyebabkan pembengkakan pada otak itu sendiri.

Memang semua terdengar menjadi lebih menyeramkan, namun peneliti berharap apa yang mereka kerjakan dapat mengurangi kerusakan yang terjadi setelah terkena stroke, khususnya pada kondisi edema serebral ini.

Sumber: sciencedaily.com | knowridge.com | iflscience.com

Sumber foto: pixabay.com