Suku Havasupai, Penduduk Asli Grand Canyon

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sekitar 5,5 juta turis mengunjungi Grand Canyon setiap tahun, jarang yang sadar bahwa tempat itu sebenarnya adalah desa.

Foto: wikimedia.org
Sebelum kedatangan pemukim Eropa, Grand Canyon adalah rumah alam bagi suku Havasupai. Dahulu, orang Havasupai bisa menjelajahi 1,6 juta hektar wilayahnya, namun keindahan alamnya telah menarik hasrat pemerintah untuk membudidayakannya.
Hingga pada 1882, menurut BBC International hamparan luas milik Havasupai itu menyusut jadi 518 hektar.
Dalam periode selanjutnya, banyak suku asli Amerika yang dipindahkan dari tanah kelahiran mereka secara paksa. Havasupai pun menjalani serangkaian perlawanan mengenai hak wilayah leluhur mereka.
Mereka cukup cerdik, ketika Presiden Franklin Delano Roosevelt membuka Grand Canyon part di National Park Service pada 1919, orang-orang Havasupai menawarkan keahlian mereka sebagai tour guide agar bisa tetap tinggal di desanya.
Havasupai bermakna orang-orang dari perairan biru-hijau. Mereka tinggal di dekat Air Terjun Havasu, dan telah diam-diam hidup di pedalaman Arizona, Amerika Serikat, selama lebih dari seribu tahun.
Penduduk percaya, eksistensi merekalah yang membuat Air Terjun Havasu tetap mengalir. Curah hujan di sana sangat sedikit, oleh karenanya keberadaan air terjun di area tandus Grand Canyon bagai keajaiban. Meski sebenarnya itu bukan mistis, karena sumber Air Terjun Havasu berasal dari mata air bawah tanah yang berusia 30.000 tahun.
Saat ini, cuma ada tiga cara untuk sampai di Desa Supai: menaiki kereta keledai melalui ngarai, berjalan kaki dan mendaki bukit, atau naik helikopter. Pengunjung boleh tinggal di desa ini untuk beberapa hari pada bulan Februari sampai November, jika mendapatkan izin khusus dari Dewan Suku Hasupai.
