Konten dari Pengguna

Susahnya Memecahkan Manuskrip Voynich yang Super Misterius

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama enam abad, Manuskrip Voynich selalu menggoda untuk dipecahkan. Namun, itu terlalu sulit.

Susahnya Memecahkan Manuskrip Voynich yang Super Misterius
zoom-in-whitePerbesar

Foto: wshu.org

Buku setebal 246 halaman ini ditulis pada awal abad ke-15 di Eropa Tengah. Isinya membingungkan, diuraikan menggunakan bahasa yang tak dikenal, diagram tak jelas maksudnya, dan gambar-gambar aneh.

Semenjak ditemukan oleh Wilfrid Voynich pada tahun 1912, banyak ahli bahasa mencoba memecahkan kode-kodenya. Sayang, tak ada yang bisa, termasuk Alan Turing --pemecah enigma Nazi-- juga gagal menerjemahkannya.

Lalu, muncullah sekelompok peneliti dari University of Alberta. Mereka menggunakan bantuan Artificial Intelligent (AI) dengan teknik penguaraian algoritma demi mengungkap bahasa terenkripsi di dalam Manuskrip Voynich.

Secercah jawaban muncul kemudian, buku yang sempat dikira memakai bahasa Arab itu ternyata ditulis dengan teks bahasa Ibrani yang diacak urutan hurufnya. Serta, berkat dibantu Google Translate, peneliti mulai dapat memprediksi bahwa Manuskrip Voynich mungkin menjelaskan tentang ilmu herbal atau kimia.

Tetapi, itu sama sekali tak menyelesaikan masalah. Baru 10 halaman saja yang bisa diurai. Lambatnya proses dikarenakan kata-kata dalam buku itu juga ditulis tanpa huruf vokal.

Lebih rumit lagi karena sulit sekali menemukan ahli bahasa Ibrani kuno yang masih hidup saat ini. "(Perlu) seseorang dengan pengetahuan bagus mengenai Ibrani sekaligus ahli sejarah," Greg Kondrak, ahli bahasa komputasi dan anggota tim peneliti, dilansir Science Alert dua minggu lalu.