Tak Ada Bir yang Benar-benar Menyehatkan

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada 2015 Matt Fitzgerald pernah menulis dalam bukunya yang berjudul The New Rules of Marathon and Half Marathon Nutrition tentang manfaat meminum bir. Menurutnya, bir mengandung antioksidan dan vitamin B, serta etanol dan silikon, yang membantu mencegah osteoporosis dan dapat menumbuhkan jaringan tulang baru. Setahun kemudian, pernyataannya seakan didukung oleh kampanye PETA (People for the Ethical Treatment of Animals) yang menegaskan bahwa bir lebih sehat untuk Anda daripada susu!
Pernyataan-pernyataan tersebut bukanlah yang pertama dan memancing perdebatan tentang manfaat bir. Masyarakat telah mengonsumsi minuman semacam itu selama lebih dari ratusan tahun; sepanjang waktu itu baik dan buruknya bir senantiasa diperdebatkan. Sebelum ungkapan kontroversial dari Fitzgerald dan PETA, di Eropa Abad Pertengahan juga pernah tersiar kepercayaan massa bahwa bir dan anggur mengandung sejumlah besar kalori yang menjadikannya (konon) lebih sehat daripada air.
Pada intinya, satu hal yang mesti dipertegas: minuman tersebut mengandung alkohol. Meminumnya berlebihan, lebih dari 15 gelas seminggu untuk pria dan lebih dari delapan gelas seminggu untuk wanita, dapat menyebabkan penyakit hati, pankreatitis, dan tekanan darah tinggi. Dan untuk lebih ditegaskan, Centers for Disease Control mengatakan, konsumsi minuman beralkohol secara harian dapat meningkatkan risiko wanita terkena kanker payudara.
Kalau begitu, akan aman-aman saja jika mengonsumsinya tak berlebihan? Tidak juga. Menurut hasil penelitian Universitas Victoria, yang dibagikan dalam Journal of Studies on Alcohol and Drugs, minum bir dalam jumlah sedang tidak akan membuat Kita lebih sehat sama sekali. Penegasan ini seirama dengan hasil penelitian dari dari Selandia Baru yang mengatakan bahwa minum alkohol dalam jumlah sedang bisa membuat Kita lebih mungkin terkena tujuh jenis kanker.
Bahkan, dua tahun yang lalu, pengadilan Jerman memutuskan bahwa bir tidak dapat dipasarkan sebagai produk bermanfaat. Keputusan ini bukan main-main, mengingat betapa terkenalnya masyarakat Jerman gemar meminum bir.
Jadi mengapa, setelah bukti-bukti yang jelas tersebut, masih saja muncul kampanye bir sehat seperti dilakukan produsen Miller Lite atau Michelob?
"Perbedaannya terletak pada dosisnya. Meminumnya secara moderat tampaknya baik untuk jantung dan sistem peredaran darah, dan mungkin melindungi terhadap diabetes tipe 2 dan batu empedu. Meminumnya secara banyak adalah penyebab utama kematian yang bisa dicegah di kebanyakan negara," begitu jawaban dari Harvard School of Public Health.
Memang, ada manfaat-manfaat yang tak bisa disembunyikan dari bir (terutama yang berkadar alkohol rendah). Bagaimanapun, hal ini tak lantas menjadikannya layak dipromosikan sebagai minuman sehat, karena kita tahu dampak buruknya bisa lebih banyak. Manfaat bir pun tak bisa disejajarkan dengan susu atau air putih sekalipun.
