Konten dari Pengguna

Teka-teki Rekontruksi Patung Laocoön and His Sons, Bukti Jenius Michelangelo?

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Patung Laocoön and His Sons dengan penggambaran dari wujud patung yang asli | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Patung Laocoön and His Sons dengan penggambaran dari wujud patung yang asli | Wikimedia Commons

Dalam mitologi Yunani, seorang pendeta Troya diceritakan telah diserang dan dibunuh bersama dengan kedua putranya oleh seekor ular raksasa, karena telah mencoba membongkar tipu daya pada kisah Kuda Troya. Kisah ini kemudian diceritakan kembali oleh banyak penyair Yunani terkenal, seperti Quintus Smyrnaios dan Apollodorus.

Penggambaran dari kisah ini tertuang menjadi sebuah karya seni patung yang terbuat dari marmer: diberi nama Laocoön and His Sons. Patung ini menjadi salah satu ukiran kuno paling terkenal di Roma, Italia, sejak tahun 1506; dan sekarang masih dipajang di Vatikan.

Pada patung tersebut, terdapat tiga sosok pria. Di tengah berdiri sosok Laocoön, dengan tubuh berototnya menahan cengkeraman dari dua ular yang melingkari kaki dan lengannya. Tangan kirinya berhasil menangkap satu ular, namun usaha tersebut sia-sia. Kepala ular telah berada tepat di atas pinggul Laocoön dan siap untuk memberi gigitan. Sedangkan tangan kanannya terlihat ditekuk ke belakang punggungnya, sembari ditekan oleh gigitan ular yang sama.

Di sebelah kanan, terdapat putra bungsunya yang sepenuhnya telah terlilit oleh ular kedua. Ia mencoba untuk mendorong kepala ular tersebut menjauh dari tubuhnya, tetapi si ular berhasil menggigitnya. Di bawah pengaruh racun yang mengalir melalui pembuluh darahnya, ia hampir tidak dapat berdiri.

Kakak laki-laki di sebelah kiri, menyaksikan keduanya dengan perasaan ngeri dan putus asa. Sementara ia juga sedang berusaha untuk melepaskan pergelangan kakinya dari ekor ular kedua.

Patung Laocoön and His Sons dengan penggambaran dari Jacopo Sansovino dan Raphael | Wikimedia Commons

Ketika ditemukan tahun 1506 (masa Paus Julius II), Laocoön and His Sons tidaklah dalam kondisi utuh. Ada beberapa bagian yang hilang, seperti lengan kiri pada anak bungsu, tangan kanan pada anak sulung, serta beberapa lilitan ular. Tetapi, bagian hilang yang paling signifikan dan menarik perhatian adalah pada lengan kanan sosok Laocoön.

Paus Julius II ingin agar bagian yang hilang tersebut dapat dipulihkan. Ia kemudian mengadakan sebuah kontes untuk melihat siapa saja yang dapat menghasilkan versi terbaik dalam pemulihan tangan ini.

Beberapa seniman, seperti Michelangelo, menyarankan agar lengan Laocoön yang hilang harus ditekuk ke belakang, seolah-olah dia sedang mencoba untuk menarik ular dari arah punggungnya. Seorang pelukis dan arsitek dari Italia, Raphael, menyukai versi lengan yang memanjang tanpa ditekuk. Dan pada akhirnya, Jacopo Sansovino dinyatakan sebagai pemenang, dengan versi merentangkan tangannya — ide yang selaras dengan Raphael.

Patung ini lantas diperbaiki pada tahun 1532, sekitar dua dekade kemudian, oleh Giovanni Antonio Montorsoli. Hasil perbaikannya kemudian bertahan sampai tahun 1906.

Akan tetapi, pada tahun 1906 itu, ditemukan pula potongan ukiran lengan yang ditekuk ke belakang, tak jauh dari lokasi ditemukannya patung Laocoön and His Sons sebelumnya. Dari hasil penelitian, dikonfirmasi bahwa potongan ukiran tangan ini adalah bagian yang hilang.

Bagian lengan ini kemudian diserahkan ke Museum Vatikan. Jadi, tahun 1957, pihak Museum Vatikan pun menghapus restorasi Montorsoli dan menempelkan potongan patung tangan yang tertekuk. Walhasil, apa yang kini terlihat merupakan penggambaran dari wujud patung yang asli; dan konstruksi ini sesuai dengan ide Michelangelo. [*]