Konten dari Pengguna

Terlalu Cerdas Rupanya Tidak Baik

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pexels.com

Adakalanya kita berpikir begitu mudah bila kita dianugerahi sebuah kepintaran pada level maksimal. Kita bakal merasa hidup akan lebih bahagia karena jabatan dan prestasi akan mudah untuk diraih.

Tetapi suatu yang berlebihan - terutama dalam hal kepintaran - tentu tak melulu baik dan mempunyai konsekuensinya. Sebuah thread dari Quora dengan judul "Kapan Kepintaran Menjadi Sebuah Kutukan?" memaparkan dampak bila kita menjadi sosok yang terlalu pintar di lingkungan masyarakat, berikut rangkumannya:

1. Lebih Sering Berpikir Dibandingkan Melampiaskan Emosi

Seorang penulis Marcus Geduld, mengatakan ia secara umum mengerti cara kerja emosi orang-orang pintar dan cara menjelaskannya pada orang lain. Sayangnya ia menilai mereka yang pintar tidak sanggup mengekspresikannya.

"Ini adalah masalah biasa bagi orang pintar, terutama mereka yang doyan bicara," jelas Geduld. "Mereka menganggap kata-kata bagaikan asap penghalang, dan semuanya akan efektif ketika kata-katanya benar. Orang yang kurang pintar lebih membalas perlakuan orang dengan pelampiasan fisik. Mereka akan marah-marah, memukul, berlari, berteriak, menangis terisak, menari, melompat kegirangan." Pengamatan Geduld menyoroti perbedaan antara keterampilan kognitif dan emosional.

Para ilmuwan tidak dapat mengatakan dengan pasti apa dan bagaimana kedua faktor tersebut berhubungan, tetapi beberapa penelitian menarik menunjukkan bahwa kecerdasan emosi yang tinggi diimbangi dengan kemampuan kognitif yang rendah, setidaknya di tempat kerja. Dengan kata lain, akan terlihat bahwa orang yang super pintar mungkin tidak perlu bergantung pada keterampilan emosional untuk menyelesaikan masalah.

2. Orang-orang Mengharapkan Dirimu Selalu Berprestasi

"Dirimu otomatis berharap menjadi yang terbaik, tak peduli apa pun itu," tulis Roshna Nazir dalam situs yang sama. "Dirimu tak mempunyai seseorang untuk membicarakan mengenai kelemahan dan ketidaknyamanan dirimu sendiri." Jika hal tersebut terjadi, rasa panik bagi mereka yang mengharapkan yang terbaik dalam hidupnya.

"Situasi ini membuat Anda sangat berhati-hati tentang kegagalan sehingga kadang-kadang Anda tidak berani mengambil risiko karena takut apa yang akan terjadi jika kalah," tulis Saurabh Mehta.

Dalam kutipan "Smart Parenting for Smart Kids" yang diposting di PsychologyToday.com, penulis menulis bahwa para orang tua umumnya sangat cemas tentang prestasi anak-anak mereka, apakah sama pintarnya di rumah dengan di sekolah.

Sayangnya di dalam situs tersebut writer menjelaskan mengenai harapan besar dari orang tua mampu menekan fokus anak untuk belajar. Di sinilah yang disayangkan, karena seorang anak atau manusia lainnya bisa saja terjatuh kala menggapai impiannya dan terus memberi tekanan dan berharap lebih bukanlah suatu hal yang baik.

3. Tak Belajar Arti dari Kerja Keras

Orang-orang cerdas merasa mereka dapat bertahan dengan sedikit usaha dibandingkan orang lain. Tetapi IQ yang tinggi tidak selalu mengarah langsung ke kesuksesan, dan orang yang sangat cerdas mungkin tidak pernah ada usaha untuk mengembangkan kemampuan mereka lebih jauh. Menurut user Quora yang lain, Kent Fung,

"Kecerdasan menjadi masalah ketika mereka tahu sudah memilikinya sejak awal sehingga mereka tidak perlu susah-susah bekerja keras untuk berkembang, dan karena itulah mereka tidak mempunyai etos kerja yang bagus."

Satu studi menemukan bahwa seberapa keras Anda bekerja akan berkorelasi negatif dengan jenis kecerdasan tertentu. Para peneliti mengusulkan bahwa orang yang sangat cerdas mungkin merasa mereka tidak perlu bekerja keras untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

4. Bikin Sebal Orang Lain

Mereka yang cerdas kadang kala terlalu jemawa, sombong, dan pamer akan kemampuannya. Misalnya ketika ada seseorang salah sebut dalam sebuah percakapan, mereka yang cerdas langsung menyanggahnya dengan pengetahuannya. Maksudnya tentu baik, tetapi harus dalam kasus ini kecerdasan IQ harus dibarengi dengan kecerdasan EQ.

Perlu diingat, dalam beberapa situasi tak semua orang sama dengan menerima pembenaran atau koreksi dari orang lain. Orang cerdas yang tak sensitif ketika menyuarakan koreksi terhadap orang lain di depan publik akan membuat orang tersebut malu dan merasa diserang. Risikonya apa? Bisa membuat sebal, kehilangan teman dan lebih parah menjadikannya musuh.

"Ketika dirimu mengoreksi orang setiap saat mereka akan berhenti bergaul atau berbicara denganmu," jelas Raxit Karramreddy.

5. Banyak Pikiran

Terlalu cerdas mungkin ada baiknya, tetapi ketika tidak bersanding dengan decision making yang bagus maka mereka akan sulit menemukan keputusan yang tepat karena terlalu lama menimbang-nimbang.

"Kecenderungan menganalisis secara berlebihan dan segala konsekuensinya, akan membuat keputusan sulit diambil," ungkap Tirthankar Chakraboty.

6. Mengerti Banyak Hal yang Belum Diketahui

Menjadi super-cerdas sering berarti menghargai alam pikir diri sendiri. Tetapi sekuat apa pun, mereka yang cerdas tidak akan pernah bisa mempelajari atau memahami segalanya.

Pengguna Quora, Mike Farkas menulis bahwa kecerdasan adalah kutukan ketika mem-publish thread berjudul "semakin Anda tahu, semakin Anda merasa semakin sedikit Anda tahu."

Pengamatan Farkas mengingatkan sebuah studi klasik yang dibuat oleh dua Psikolog Amerika Serikat, Justin Kruger dan David Dunning, yang menemukan bahwa semakin kurang cerdas Anda, semakin Anda melebih-lebihkan kemampuan kognitif Anda dan begitu pula sebaliknya.

Dalam satu percobaan misalnya, siswa yang mendapat skor terendah pada tes akan menerka apakah sudah menjawab hampir sebagian tesnya. Sementara itu, mereka yang mencetak skor tertinggi akan bersikap pesimistis dan paranoid dengan bertanya-tanya apakah pertanyaan dalam soal sudah dijawab benar semua atau tidak.

Sumber: iflscience.com | pychologytoday.com