Konten dari Pengguna

Tradisi Kuliner di Balik Kisah Wabah Kelaparan di India

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kematian anak-anak di Bengal 1943 | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Kematian anak-anak di Bengal 1943 | Wikimedia Commons

Sejarah India mencatat adanya bencana kelapan yang melanda salah satu wilayah negeri itu, Bengal. Namun peninggalan kelaparan itu bukan hanya sekadar cerita dari masa lampau, ada pula warisan tradisi kuliner di sana.

Kelaparan di Bengal terjadi pada tahun 1943. Saat itu, Pemerintah Kolonial Inggris mencatat ada korban sebesar 100 ribu jiwa dari kelaparan tersebut. Di sisi lain, sejarawan memperkirakan korban tewas sesungguhnya ada di angka dua hingga tiga juta orang.

Berdasarkan studi, kelaparan di Bengal tahun 1943 diakibatkan oleh kesalahan pembuatan kebijakan oleh Pemerintah Inggris yang dipimpin Perdana Menteri Winston Churchill. Adapun kebijakan yang dimaksud adalah penerapan pembatasan impor biji-bijian semasa perang. Asupan makanan yang seharusnya mengalir untuk warga sipil India beralih ke tentara Inggris serta orang-orang Eropa.

Kelaparan benar-benar membuat orang Bengal mengalami kesulitan hidup, bahkan untuk hanya sekadar makan sehari-hari. Terdesak keadaan, saat itu banyak orang berusaha bertahan hidup dengan mengkonsumsi sejenis keong yang disebut dengan googli, daun ubi yang biasa disebut kochu shaak, serta nasi lembek khichuri.

Anak-anak kurang gizi di Bengal 1943 | Wikimedia Commons

Kisah orang Bengal yang memakan keong dengan daun ubi untuk bertahan hidup di tengah wabah dituangkan oleh penulis Sailen Sarkar dalam karyanya yang berjudul Monontorrer Shakkhi, atau kesaksian wabah.

"Meski kedua makanan tersebut sudah dikenal sebelum kelaparan, itu menjadi semakin banyak dimakan selama wabah terjadi," ujar Sarkar. "Mereka kekurangan apa pun sehingga harus bertahan dengan makanan semacam itu. Makanan tersebut tidak mengenyangkan atau bergizi, tetapi apa pun yang bisa ditemui dijadikan makanan." pungkasnya.

Kini, kendati kelaparan sudah lama berlalu, kebiasaan memakan googli, kochu shaak, dan khichuri ternyata masih bertahan. Makanan-makanan tersebut masih ada dan dikonsumsi hingga saat ini.

Referensi: