Ukiran Prasejarah dari Afrika yang Mengagumkan

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Niger utara, sekitar setengah jalan dari kota Agadez dan Arlit, terdapat singkapan bebatuan yang merupakan petroglyph (gambar yang dipahat diatas batu-batuan). Wilayah bebatuan ini dikenal dengan sebutan Dabous, adalah rumah bagi sejumlah besar ukiran prasejarah yang menggambarkan sapi dan binatang liar. Bebatuan tersebut diukir ketika masa prasejarah di Afrika, yang masih rimbun oleh pepohonan dan danau.
Ukiran terkenal di Dabous adalah ukiran Jerapah yang berukuran besar. Ukiran itu sangat mirip seperti jerapah aslinya, dan diukir pada lempengan batu yang hampir rata tetapi miring. Terletak diketinggian delapan meter, membuatnya tidak terlihat seperti terbuat dari tanah. Salah satu jerapah adalah laki-laki, dan yang lebih kecil adalah perempuan. Tinggi jerapah jantan 6,35 meter, diukur dari ujung telinga hingga ujung kaki belakangnya. Keduanya dibuat dengan menggabungkan beberapa teknik, seperti mengikis dan menghaluskan area tertentu, mengukir garis besar, dan mengukir relief rendah dari pola tubuh jerapah.
Setiap jerapah memiliki garis gores yang keluar dari mulut atau hidungnya, dan berliku menjadi sosok manusia kecil. Motif ini tidak biasa dalam seni cadas Sahara, tetapi maknanya menjadi misteri. Banyak yang menyebutkan garis tersebur merupakan simbol jerapah yang diburu atau bahkan dijinakkan, atau mungkin mencerminkan hubungan agama, mitos atau budaya. Namun bisa jadi itu adalah gambar manusia yang ditambahkan setelah ukiran jerapah itu selesai.
Ukiran tersebut dibuat sekitar 6.000 hingga 8.000 tahun yang lalu. Pada periode ini, wilayah Sahara adalah sabana yang luas dengan berbagai suku hidup disana. Kebanyakan suku tersebut melakukan kegiatan sebagai pemburu-pengumpul, nelayan, dan petani. Ditambah kehadiran Hewan liar seperti bovid, jerapah, burung unta, kijang, singa, badak juga memenuhi wilayah Afrika yang subur. Terbukti dari penemuan 800 seni cadas di wilayah ini yang menggambarkan hewan-hewan liar itu. Sangat mudah membayangkan bagaimana manusia di masa lalu duduk di singkapan berbatu untuk menyaksikan hewan liar merumput dan mengabadikan mereka di atas batu.
Ukiran jerapah itu sangat luar biasa, telah bertahan ribuan tahun dalam iklim gurun yang keras. Sayangnya Petroglyph atau ukiran batu itu kini rusak akibat ulah tangan manusia, bahkan terdegradasi oleh grafitti.
Pada tahun 1999, cetakan palsu petroglyph dibuat untuk melestarikan warisan prasejarah itu. Salah satunya dengan gips yang dibuat dari aluminium dan disimpan di bandara Agadez.
Sumber : africanrockart.britishmuseum.org | amusingplanet.com
