Konten dari Pengguna

Vali-e-Asr, Masjid yang Ditolak Penduduk Teheran

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketiadaan menara dan kubah menjadi alasan kemarahan warga.

Vali-e-Asr, Masjid yang Ditolak Penduduk Teheran
zoom-in-whitePerbesar

Senantiasa muncul perdebatan sengit tatkala membicarakan 'ciri khas Islam' dan 'indikator budaya jazirah Arab'. Sekat-sekatnya muskil, bias oleh beragam dalil dan kekuatan sejarah, sehingga sukar menentukan batas di antara keduanya.

Kepelikan serupa berlaku untuk arsitektur masjid. Rumah ibadah bagi umat Muslim yang hampir selalu memiliki kemiripan konstruksi di seluruh dunia: memiliki menara dan kubah. Lantas, tatkala Reza Daneshmir dan Catherine Spiridonoff menghindari pembangunan masjid dengan dua elemen tradisional tersebut, mereka pun menjadi bahan amukan massa di Iran.

Masjid Vali-e-Asr buatan Daneshmir dan Spiridonoff di Teheran seharusnya dibuka beberapa bulan lalu, namun pendanaannya dipotong karena kontroversi dan interior bangunan. Masjid itu seharusnya memiliki ruang doa yang besar, pusat budaya, dan lengkap dengan tempat tinggal bagi imam, nian sampai sekarang masih tertunda penyelesainnya.

“Masjid adalah tempat untuk beribadah, dan Alquran tidak menentukan struktur khusus untuk itu,” pembelaan Daneshmir dinukil dari The Guardian. Generasi arsitek muda yang mengikuti jejak pre-revolutionary avant garde itu juga menolak desain masjid yang memiliki menara dan kubah terlalu megah, dengan menganggapnya justru akan menimbulkan sikap ria.

Walau belum selesai, rancangan Masjid Vali-e-Asr sudah cukup kentara. Daneshmir dan Spiridonoff memenangkan komisi untuk desaiinya pada 2008, dengan bentuk luar masjid yang menyerupai posisi sujud saat salat.

Atapnya berpola curvaceous, menyapu ujung runcing dari tanah di arah kiblat dan semakin meninggi ke belakang. Sementara jendela-jendela sempitnya terletak di celah sempit yang melekat pada struktur berundak-undak untuk memungkinkan keindahan cahaya matahari ke dalam masjid.

“Kami mencoba mendesain masjid ini dengan kesopanan, kesederhanaan dan itikad baik, dan bukan masjid yang akan mendapatkan kebanggaan dari ketinggian strukturalnya.”

Di kubu berlawanan, para pemrotes menilai bentuk yang disajikan Daneshmir dan Spiridonoff sebagai penghinaan, khususnya sebab ukuran masjid lebih pendek ketimbang Teater Kota Teheran yang berada di lokasi yang sama.

"Masjid telah dikorbankan untuk Teater Kota," tulis koran lokal Mashregh News. Sedangkan Daneshmir berdalih rancangan tersebut disengaja guna saling melengkapi konstruksi, untuk menghindari bentrok bayang-bayang di antara dua bangunan yang sama-sama krusial untuk warga Teheran.

Sekarang, demi menghentikan keluhan, pihak berwenang berniat mengubah Masjid Vali-e-Asr yang belum tuntas menjadi pusat budaya Islam, dengan kemungkinan adanya beberapa perubahan fisik.

Sumber: theguardian.com | arabnews.com