Konten dari Pengguna

Walau Khas, Kuliner Meksiko Bukanlah Produk Asli Pribumi

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seporsi tortilla, steak, kacang, dan nasi. | Wikimedia Commons/Guido (CC)
zoom-in-whitePerbesar
Seporsi tortilla, steak, kacang, dan nasi. | Wikimedia Commons/Guido (CC)

Stephanie Elizondo Griest, penulis asal Meksiko yang banyak menulis segala hal tentang Meksiko, menelusuri arsip digital resep kuno Meksiko dengan harapan menemukan jawaban mengenai keaslian makanan negaranya.

Rasa keingintahuan muncul, setelah ia menikmati makanan yang dianggap khas Meksiko. Tetapi, dari momen situ juga timbul keraguan dari diri Stephanie terhadap keotentikan makanan-makanan tersebut.

Keraguan Stephanie meloncat ke informasi abad 15. Saat itu, penjelajah Spanyol menginvasi Kekaisaran Aztec dan menaruh kekaguman dengan kuliner setempat. Menurut sarjana Jeffrey M. Pilcher dalam bukunya Planet Taco: A Global History of Mexican Food, para penjajah takut mengadopsi terlalu banyak makanan pribumi, agar mereka tidak menjadi seperti mereka. Jagung yang menjadi makanan utama Aztec dipandang sebelah mata oleh penjajah Spanyol, bahkan para pendeta melarangnya.

Jadi, agar tidak terlalu kepribumian, selama berabad-abad, sumber-sumber makanan yang dibawa orang Spanyol di atas kapal dari Eropa, seperti sapi, babi, gandum, minyak zaitun, dan anggur, dipadukan dengan bahan dan teknik masak pribumi asli.

Tindakan setengah-setengah itu untuk membentuk masakan mestizo. Secara harfiah mestizo berarti "darah campuran".

Taco, salah satu makanan khas Meksiko | Pixabay/adamlot

Untuk menelusuri evolusi makanan Meksiko, Stephanie juga mengulik Koleksi Buku Masakan Meksiko di Universitas Texas di San Antonio (UTSA). Ia menemukan, di antara 2.000 jilidnya terdapat satu set buku resep tulisan tangan yang diwariskan melalui keluarga Meksiko sejak tahun 1789. Halaman-halaman yang berjumbai mengungkapkan ribuan resep yang dicatat oleh ibu rumah tangga.

Buku-buku lama itu disusun dalam paragraf yang dibaca hampir seperti puisi prosa. Lainnya dirinci secara ketat dengan rencana makan, pengaturan tempat makan, dan ilustrasi tentang cara membekukan kue.

Dari semua sumber itu, Stephanie mengetahui:

Ketika Meksiko masih menjadi koloni, makanan yang dibuat sebagian besar adalah hidangan Spanyol seperti gazpacho.

Bahkan ada pula pengaruh makanan Turki, Yunani, dan Perancis. Pada zamannya, ragam makanan itu tidaklah murah di Meksiko

Stephanie Griest pada akhirnya menyimpulkan, makanan Meksiko telah mengalami proses asimilasi dari masa ke masa. Tortilla, quesso, dan telur divorciados, adalah contoh dari sekian banyak kuliner Meksiko yang lahir dari proses asimilasi.

Meski begitu, Makanan Meksiko adalah ungkapan cinta dan kebanggaan tersendiri bagi orang Meksiko. Terlepas dari originalitas kepribumiannya. [*]