Kita Tidak Kehilangan Pengetahuan Lingkungan, Kita Kehilangan Hati Nurani

Saya merupakan alumnus S1 Teknik Sipil dari Universitas Kahuripan Kediri. Saat ini, saya berprofesi sebagai Pendamping Desa di lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT).
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Imam Sahroni Darmawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak-anak sekolah difoto ibunya dengan latar belakang banjir. Fotonya lucu. Disebarkan. Mendapat tanda hati.
Tidak ada yang benar-benar heran lagi.
Barangkali yang paling tenggelam bukan rumah-rumah itu, melainkan kemampuan kita untuk merasa terganggu.
Di Jakarta, orang sudah hafal gang mana yang lebih dalam, jalan mana yang masih bisa dilalui. Di sungai-sungai Jawa dan Madura, popok bayi mengambang bersama kantong kresek dan sisa stirofoam dari nasi bungkus sedekah kemarin. Kita mengirim makanan untuk sesama, tapi lupa bahwa wadah makanan itu akan bertahan lima ratus tahun setelah kita mati. Air masuk ke rumah-rumah, dan manusia tetap sibuk memastikan koneksi internetnya stabil.
Banjir bukan lagi bencana. Ia sudah menjadi bagian dari navigasi harian, seperti kemacetan dan polusi. Sesuatu yang dikeluhkan, difoto, diunggah, lalu dilupakan sampai musim hujan berikutnya.
Ada kekeliruan besar yang selama ini menggerakkan seluruh percakapan kita soal lingkungan. Kita percaya masalahnya adalah ketidaktahuan bahwa jika cukup banyak orang diberi informasi soal pemanasan global, polusi mikroplastik, kepunahan spesies, sesuatu akan berubah. Maka kita produksi dokumenter, cetak poster daur ulang, viralkan foto beruang kutub yang kurus di atas es yang mencair.
Namun, pengetahuan ternyata tidak otomatis melahirkan nurani.
Kita tahu semuanya. Tentang plastik. Tentang karbon. Tentang laut yang mati perlahan. Manusia modern mungkin adalah spesies paling terdidik dalam sejarah—dan pada saat yang sama, paling lihai merasionalisasi kehancuran yang dihasilkannya sendiri.
Bumi tidak dihancurkan oleh manusia yang tidak tahu. Ia dihancurkan oleh manusia yang tahu, lalu membiasakan diri untuk tidak peduli.
Dan saya mengatakan ini sambil sadar bahwa saya sendiri tidak sepenuhnya bebas dari pola yang saya kritik. Saya juga menikmati kenyamanan yang dibangun dari rantai ekstraksi panjang yang nyaris tak terlihat. Terkadang, saya takut generasi setelah kita tidak akan mewarisi bumi yang rusak, tetapi mewarisi kemampuan untuk menganggap kerusakan itu normal. Bahwa itulah yang benar-benar diwariskan: bukan krisis planetnya, melainkan anestesinya.
Filsuf Jerman, Max Weber, menyebut modernitas sebagai Entzauberung der Welt—penghilangan keajaiban dari dunia. Alam, dalam epistemologi pra-modern, bukan sekadar objek. Ia adalah subjek yang berbicara, yang dihuni makna di luar kalkulasi manusia. Hutan bukan simpanan kayu. Sungai bukan saluran air. Keduanya adalah sistem kehidupan yang mengatur keseimbangan tak terlihat, yang tak boleh sembarangan diperlakukan.
Modernitas mengakhiri itu semua. Alam direduksi menjadi natural resources dan kata itu sudah mengandung vonis sejak awal: bahan baku yang menunggu diekstraksi.
Namun, yang lebih berbahaya dari penghilangan keajaiban itu adalah penggantinya.
Yaitu kenyamanan.
Peradaban modern dibangun di atas satu janji sederhana: manusia tidak perlu lagi merasa tidak nyaman. Dan demi memenuhi janji itu, kita membakar hutan, menguras laut, menggali gunung, mendorong sawit hingga ke tepi habitat terakhir orang utan, menambang nikel dari perut pulau-pulau kecil yang tanahnya tidak pernah sempat dikenali namanya.
Krisis ekologi mungkin pada akhirnya hanyalah akumulasi dari miliaran keputusan kecil manusia yang terlalu takut hidup sedikit lebih sulit.
Bukan kejahatanlah yang menghancurkan bumi, melainkan ketidakmampuan menanggung batas.
Dan sekarang, bahkan alam itu sendiri telah dikonversi menjadi estetika.
Manusia modern tidak lagi melihat hutan sebagai ekosistem, tetapi melihatnya sebagai konten drone resolusi tinggi. Matahari terbenam harus cukup dramatis untuk layak diunggah. Gunung harus cukup fotogenik untuk worth dikunjungi. Hari ini, manusia lebih sering merekam hujan ekstrem daripada memikirkan mengapa musim berubah. Kita hidup di zaman ketika kebakaran hutan bisa menjadi konten cinematic dengan musik yang menenangkan di latar belakangnya.
Kamera menjadi cara paling efektif untuk menciptakan jarak emosional dari kenyataan.
Empati berubah menjadi performa. Kepedulian berubah menjadi konten. Dan konten seperti sampah terus diproduksi, terus mengalir, tanpa pernah benar-benar terurai.
Kemudian, ada soal agama. Dan ini perlu dikatakan bukan sebagai serangan, melainkan sebagai duka.
Hampir seluruh tradisi besar keagamaan memiliki akar teologis yang menempatkan alam sebagai sesuatu yang suci. Teks-teksnya ada. Perintahnya tertulis. Namun, yang terjadi adalah kompromi yang memukau.
Kita membangun masjid dan gereja dengan pendingin udara yang menyala sepanjang hari, lalu berbicara tentang kesederhanaan spiritual di dalamnya. Pengajian-pengajian besar menghasilkan gunung botol air sekali pakai setiap minggunya. Ritual-ritual suci meninggalkan jejak sampah yang bertahan jauh lebih lama dari doa-doa yang dilantunkan.
Barangkali masalahnya bukan karena manusia modern kehilangan agama, melainkan karena agama sendiri terlalu lama dipisahkan dari tanah, sungai, dan pohon. Spiritualitas menjadi sangat langit-sentris, sangat sibuk dengan keselamatan vertikal, sehingga bumi diperlakukan sekadar ruang transit menuju tujuan yang lebih penting. Manusia terlalu sibuk mencari jalan menuju surga sampai lupa menjaga satu-satunya dunia yang benar-benar ia tinggali.
Di sinilah letak krisis yang paling jarang dibicarakan: bukan krisis data, bukan krisis teknologi, melainkan krisis imajinasi moral.
Peradaban modern sangat maju dalam memperkirakan keuntungan, tetapi sangat buruk dalam membayangkan kehilangan. Kita memiliki simulasi digital untuk masa depan pasar saham, tetapi tidak memiliki kapasitas emosional untuk membayangkan kepunahan sebagai pengalaman manusia yang nyata. Manusia modern bisa membayangkan kota di Mars, tetapi gagal membayangkan cucunya hidup tanpa air bersih.
Psikolog Stanley Cohen menyebutnya sebagai states of denial—bukan ketidaktahuan, melainkan pengetahuan yang sengaja tidak diintegrasikan ke dalam kesadaran moral. Kita tahu hutan dibabat untuk perkebunan sawit. Kita tahu sawit itu memasok bahan baku produk yang kita gunakan setiap pagi. Kita tahu, kita tetap memakai produk itu, dan kita merasa baik-baik saja. Karena di antara pengetahuan dan tindakan, ada jarak yang sangat panjang, dan jarak itu diisi oleh normalisasi, abstraksi, serta sistem yang tidak memiliki wajah tunggal untuk disalahkan.
Tidak ada seorang pun yang merasa bersalah karena tidak ada seorang pun yang merasa benar-benar bertanggung jawab.
Ini bukan kegagalan sistem semata, melainkan juga kegagalan karakter kolektif. Kegagalan nurani yang terorganisir dengan sangat rapi.
Saya tidak tahu bagaimana akhir cerita ini.
Yang saya tahu: selama kita terus mereduksi krisis ini menjadi soal teknis panel surya, regulasi emisi, sedotan stainless steel, kita akan terus melewatkan lapisan terdalam persoalannya. Solusi teknis tanpa transformasi moral hanyalah cara memperlambat kehancuran dengan lebih elegan.
Bumi, pada akhirnya, mungkin akan pulih. Hutan tumbuh kembali dalam skala geologis. Laut menemukan keseimbangannya lagi setelah tekanan berkurang. Alam memiliki waktu yang tidak dimiliki manusia.
Yang belum tentu selamat adalah kita sendiri.
Barangkali, kiamat ekologis tidak datang ketika bumi berhenti menopang manusia, tetapi ketika manusia berhenti merasa terganggu oleh kehancurannya sendiri. Bukan sebagai ledakan besar, bukan sebagai akhir yang dramatis, melainkan sebagai sesuatu yang jauh lebih sunyi—spesies yang perlahan kehilangan kemampuan untuk merasa bahwa ada sesuatu yang telah hilang.
