Konten dari Pengguna

Jalan Baru Profesi Apoteker: Terima Kasih, Pak BGS

Ilham Hidayat

Ilham Hidayat

Apoteker Ber STR Kemenkes RI - Komisaris Klinik Pratama - Founder Komunitas AI Farmasi (PharmaGrantha AI)-Pemerhati Kebijakan Kesehatan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilham Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kredit gambar: Ilustrasi buatan AI menggunakan ChatGPT/DALL·E oleh Ilham Hidayat (dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kredit gambar: Ilustrasi buatan AI menggunakan ChatGPT/DALL·E oleh Ilham Hidayat (dokumen pribadi)

Membuka Jendela Perubahan

Tak banyak menteri yang berani menyentuh perkara internal profesi kesehatan secara langsung dan mendasar. Tapi Pak Budi Gunadi Sadikin, dengan keberaniannya yang khas, telah menandai satu babak penting dalam sejarah profesi apoteker. Dengan disahkannya UU No. 17 Tahun 2023 dan berbagai regulasi turunannya, atmosfer profesi ini mulai terasa lebih segar—seperti dibukakan jendela setelah bertahun-tahun pengap.

Kebijakan baru yang memungkinkan STR berlaku seumur hidup, serta pengurusan SIP tanpa perlu rekomendasi organisasi profesi (OP), bukan sekadar langkah administratif. Ini adalah pengakuan terhadap otonomi profesional dan kepercayaan negara pada tenaga kesehatan. Biaya yang dulu dirasa mencekik kini mulai masuk akal, bahkan dalam beberapa aspek justru menjadi pintu pembuka bagi mereka yang ingin tumbuh dan berkembang.

Multi Bar: Demokrasi yang Menghidupkan

Salah satu warisan paling penting dari perubahan ini adalah sistem multi-bar organisasi profesi. Dahulu, satu suara mewakili semua, kadang terlalu bising di atas tapi terlalu sunyi di bawah. Kini, ruang untuk menyatakan pendapat terbuka lebih luas. Suara-suara dari akar rumput—yang selama ini hanya terdengar sebagai bisik-bisik di grup WhatsApp—mulai menemukan jalannya sendiri.

Kehadiran organisasi profesi alternatif bukan ancaman, tapi justru energi baru dalam ekosistem. Mereka yang selama ini merasa terpinggirkan, kini punya pilihan. Demokrasi profesi bukanlah chaos, melainkan kesempatan untuk tumbuh melalui dialektika. Profesi apoteker tidak boleh dibelenggu dalam satu wacana tunggal. Kita tidak sedang membelah tubuh profesi, kita sedang memperkuat jantungnya.

SKP untuk Semua, Belajar Tanpa Beban

Transformasi lain yang patut diapresiasi adalah pengelolaan SKP oleh pemerintah melalui sistem yang lebih terpusat, transparan, dan murah. Ini membuka akses bagi semua apoteker untuk belajar, bukan hanya mereka yang mampu membayar mahal.

Kemudahan ini bukan berarti menurunkan standar. Justru sebaliknya, ini membangun semangat belajar sepanjang hayat yang lebih merata. Pendidikan profesi kini diarahkan sebagai sarana pertumbuhan, bukan sekadar kewajiban administratif. Fokus telah bergeser dari beban biaya menjadi perluasan kesempatan.

Kolegium Baru: Mendengar, Bukan Menggurui

Tapi satu hal yang benar-benar menyentuh adalah hadirnya Kolegium Farmasi yang baru—dengan wajah segar, telinga yang terbuka, dan langkah yang lebih membumi. Di tengah riuh rendah debat nomenklatur, otoritas, hingga standardisasi praktik, kolegium ini memilih untuk mendengar lebih dulu.

Ini hal langka. Lembaga biasanya lahir dengan ego dan mandat. Tapi yang ini lahir dengan kesadaran bahwa perubahan tidak bisa dibangun di menara gading. Mereka yang turun mendengar, berdialog, dan memahami—itulah pemimpin peradaban profesi yang sejati. Dan itu dimungkinkan oleh ruang reformasi yang dibuka oleh BGS.

Membangun Peradaban Apoteker

Yang sedang kita bangun bukan hanya regulasi, bukan sekadar aturan main, tapi peradaban apoteker. Sebuah ekosistem yang memberi ruang bagi profesionalisme tumbuh, suara didengar, dan kompetensi dihargai.

Pak BGS telah memberikan oksigen baru di tengah ruang yang dulu nyaris kehabisan napas. Profesi ini mulai hidup kembali, bukan karena semua sudah sempurna, tapi karena kita diberi ruang untuk memperbaikinya bersama-sama.

Terima kasih, Pak Menteri. Langkah Anda bukan hanya teknokratis, tapi historis. Semoga semangat perubahan ini bisa dijaga dan dirawat oleh semua elemen profesi. Karena sejatinya, peradaban dibangun bukan oleh kekuasaan, tapi oleh keberanian mendengar dan kehendak untuk berubah.

Teruslah melangkah, Pak Menteri. Kami para apoteker siap menyongsong peradaban baru ini dengan penuh semangat dan keterbukaan.