Konten dari Pengguna

‘Omon-omon’ 19 Juta Lapangan Kerja

Abu Sofyan Maldini

Abu Sofyan Maldini

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNNES, sedang belajar di Pekanan Rakjat

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abu Sofyan Maldini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang-orang yang antusias mendaftar kerja ketika acara Job Fair. ANTARA FOTO/Yudi Manar/Spt.
zoom-in-whitePerbesar
Orang-orang yang antusias mendaftar kerja ketika acara Job Fair. ANTARA FOTO/Yudi Manar/Spt.

Pada 27 Mei 2025, acara Job Fair yang diadakan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi berakhir dengan kericuhan. Hal tersebut lantaran ribuan orang berebut untuk memindai kode QR yang digunakan untuk registrasi dalam acara tersebut. Ini menjadi sebuah ironi di negeri ini, bagaimana sulitnya mencari lapangan pekerjaan, tingginya gelombang PHK, dan ekonomi Indonesia yang tidak jelas arahnya membuat meningkatnya angka pengangguran. Terus bagaimana upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan dengan janjinya mengadakan 19 juta lapangan kerja? Apakah 19 juta lapangan kerja cuma sekedar ‘omon-omon’ belaka?

Antara Pengangguran, PHK, dan Ekonomi Indonesia yang tidak Jelas Arahnya

Sulitnya mencari pekerjaan sudah menjadi permasalahan tahunan di Indonesia. Menurut BPS per Februari 2025, sebanyak 7,28 juta orang masih dalam keadaan menganggur. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, seperti sistem seleksi lowongan kerja yang terkadang mendiskriminasi beberapa golongan, gelombang PHK dimana-mana, hingga Ekonomi Indonesia yang tidak jelas arahnya.

Beberapa perusahaan membuat sistem seleksi yang terkadang dianggap tidak masuk akal, seperti usia maksimal perekurutan 25 tahun. Ini menjadi sebuah diskriminasi bagi beberapa golongan, salah satunya mereka yang baru-baru lulus S-1. Bagaimana tidak, lulus dari Sarjana tingkat pertama normalnya diumur 22-23 tahun. Itu pun jika lulus tepat waktu, terus bagaimana nasib mereka yang lulusnya terlambat? Jika hal tersebut masih terus berlanjut mereka hanya punya kurang lebih 3 tahun untuk mencari pekerjaan atau semakin sulit lagi bila sudah di atas usia 25 tahun.

Dikutip dari BBC News Indonesia, Reza seorang Sarjana Komputer mengatakan bahwa mencari pekerjaan saat ini susah, karena lowongan kerja saat ini batas usianya kebanyakan 25 tahun dan ada beberapa 27 tahun. Ia yang sudah berusia 30 tahun ketika diwawancara merasa terdiskriminasi perihal batas usia tersebut. Selain itu, sistem nepotisme dalam perekrutan semakin menyulitkan orang-orang dalam mencari pekerjaan.

Gelombang PHK yang terjadi dimana semakin memperparah kondisi ini. Salah satunya yang terjadi di PT. Sritex Tbk pada Februari lalu, sebanyak lebih dari 10 ribu karyawan Sritex mengalami PHK oleh perusahaannya. Ditambah selama caturwulan pertama di 2025 sebanyak 24.036 orang telah terdampak PHK oleh perusahaan. Banyaknya gelombang PHK yang terjadi tak lepas dari efesiensi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan agar dapat bertahan di tengah ekonomi Indonesia yang tidak jelas arahnya.

Kondisi ekonomi Indonesia yang semakin melemah berdampak pada banyak perusahaan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tak mencapai 5 % diawal 2025 berdampak pada menurunnya investor yang datang. Semakin tingginya biaya produksi di tambah mata uang rupiah yang semakin tidak ada harga, memperburuk keadaan finansial para pelaku usaha. Kondisi Ekonomi Indonesia yang tak jelas arahnya ini menjadi salah satu faktor mengapa banyaknya gelombang PHK dilakukan oleh perusahaan pada karyawannya.

Menagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja

Terus bagaimana upaya pemerintah dalam mengatasi masalah sulitnya lapangan pekerjaan? Salah satu upaya pemerintah dalam menghadapi permasalahan ini adalah dengan berjanji menyediakan 19 juta lapangan kerja. janji yang diucapkan oleh Wakil Presiden Gibran ketika masa kampanye. Ia berkata akan menyediakan 19 juta lapangan pekerjaan dengan 5 juta diantaranya pekerjaan green job yang menurutnya adalah peluang kerja di masa depan sebagai bentuk pelestarian lingkungan.

Namun apakah janji tersebut benar-benar terealisasikan? Selama 8 bulan menjabat seperti tidak ada keseriusan dari pemerintah dalam mengatasi permasalahan ini. Mereka hanya sibuk untuk menjaga kekuasaannya saja. Pemerintah seperti menutup mata terhadap realita rakyatnya sendiri. Apakah janji 19 juta lapangan pekerjaan itu akan terealisasikan atau hanya sekadar ‘omon-omon’ belaka seperti janji manisnya?