Tragedi Kanjuruhan: Belum Bisakah Menyadarkan Mereka?

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNNES, sedang belajar di Pekanan Rakjat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Abu Sofyan Maldini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasca pertandingan antara Arema FC melawan Persik Kediri yang berakhir 3-0 untuk kemenangan Persik, terjadi insiden pelemparan batu pada bus Persik Kediri yang diduga dilakukan oleh suporter Aremania. Ini menjadi sesuatu yang memalukan, seperti yang kita ketahui kurang dari tiga tahun yang lalu terjadi sebuah peristiwa kelam yang menghilangkan nyawa 135 Aremania di Stadiom Kanjuruhan. Apakah peristiwa di Kanjuran tersebut belum dapat membuat mereka untuk belajar?
Malam Kelam di Kanjuruhan
1 Oktober 2022 menjadi malam yang suram bagi sepak bola Indonesia. Siapa akan menyangka pertandingan antara Arema dan Persebaya harus berakhir dengan tragedi kelam. 135 orang harus kehilangan nyawanya. Represifitas dari aparat kepolisian menjadi faktor penyebab utama dalam tragedi ini. Polisi yang memukul menenbakan gas air mata ke arah suporter menyebabkan terjadinya chaos di dalam stadion. Para suporter kemudian berlarian menyelamatkan diri menuju pintu keluar stadion, namun saat itu pintu gerbang belum di buka alhasil menyebabkan penumpukan suporter yang berdesak-desakan ingin keluar terutama di pintu gerbang 13 dan 14. Banyak suporter kemudian terjepit, sesak napas, bahkan terinjak-injak karena kekacauan tersebut. Akibatnya 135 orang meninggal baik saat terdesak di dalam stadion maupun ketika sudah dilarikan kerumah sakit.
Pasca tragedi Kanjuruhan, liga di Indonesia diberhetikan sementara. Di ajang lain seperti kualifikasi Piala Asia U 17 yang kebetulan digelar di Indonesia, diselenggarakan tanpa penonton untuk menghormati tragedi kanjuruhan. Selain itu, liga-liga di Eropa juga melakukan penghormatan dengan melakukan mengheningkan cipta sebelum laga dimulai. Hal di atas menunjukan rasa simpati dunia atas tragedi kanjuruhan.
1 Oktober untuk Sebuah Pembelajaran
Tragedi kanjuruhan semestinya harus dijadikan sebagai pembelajaran dalam sepak bola di Indonesia. Kedewasaan para suporter dalam menyikapi suatu hasil pertandingan harus dirubah. Seperti halnya yang terjadi di Kanjuruhan, hasil yang didapatkan Arema atas Persebaya yang tidak memuaskan suporter membuat mereka melakukan hal onar dengan masuk ke dalam lapangan hingga polisi menghalau mereka dengan gas air mata. Hal tersebut menunjukan bahwa mereka sendiri yang memicu terjadinya persitiwa tersebut. Namun apakah suporter di Indonesia benar-benar belajar dari targedi Kanjuruhan?
Peristiwa kelam tersebut agaknya hanya menjadi angin lalu yang lewat begitu saja. Suporter-suporter di Indonesia seperti tidak belajar dari peristiwa tersebut, banyak gesekan dan pertikian antar kelompok suporter yang terjadi karena hal-hal sepele. Yang terbaru terjadi di Malang pada Minggu malam 11 Mei 2025, bus yang membawa pemain dan official dari Persik Kediri dilemapari batu oleh oknum yang diduga dari kelompok suporter Aremania. Kejadian tersebut dilatarbelakangi karena kekalahan Arema 0:3 atas tamunya Persik Kediri. Hal ini menunjukan sikap tidak dewasa yang masih melekat dalam diri suporter Indonesia. Seharusnya mereka dapat belajar dan sadar dari tragedi Kanjuruhan yang menghilangkan 135 nyawa kawan mereka. Apakah masih kurang “135” untuk menyadarkan mereka?
