Konten dari Pengguna

Tarek Pukat, Tradisi Menjaring Ikan di Aceh

Tim ACEHKINI

Tim ACEHKINIverified-green

Partner kumparan 1001 Media

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tim ACEHKINI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nelayan merawat tradisi Tarek Pukat di Gampong Jawa, Banda Aceh, Sabtu sore (9/2). Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Nelayan merawat tradisi Tarek Pukat di Gampong Jawa, Banda Aceh, Sabtu sore (9/2). Foto: Suparta/acehkini

Matahari hampir tenggelam, Sabtu (9/2), ketika Iwan dan sejumlah temannya dengan perlahan menarik pukat dari laut di Pantai Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Mereka tak sekadar mencari nafkah, tapi juga merawat tradisi.

Mereka berdiri berderetan, tali melilit pinggang berkait tali pukat panjang yang menjulur masuk ke laut.

Di Aceh, tradisi ini dikenal dengan Tarek (Tarik) Pukat, tradisi penangkapan ikan yang legal dan telah dilakoni sejak masa Kesultanan Aceh, warisan abad ke-16. Hampir di seluruh pesisir Aceh, bisnis nelayan ini terawat.

Nelayan merawat tradisi Tarek Pukat di Gampong Jawa, Banda Aceh, Sabtu sore (9/2). Foto: Suparta/acehkini
Warga menyaksikan sambil menunggu ikan hasil Tarek Pukat di Gampong Jawa, Sabtu sore (9/2). Foto: Suparta/acehkini

Sebelum ditarik, pukat terlebih dahulu disauhkan ke laut menggunakan sebuah perahu. Jaraknya berkisar 500 meter dari bibir pantai.

Pukat disauhkan melingkar, kedua ujung talinya tetap berada di pantai. Ikan-ikan yang disasar terperangkap di tengahnya.

Kedua ujung tali itulah yang ditarik oleh Iwan dan temannya. Mereka dibagi dalam dua kelompok. Satu kelompok biasanya lima orang. Butuh waktu sekitar dua jam untuk berhasil menarik seluruh pukat ke atas pantai.

"Ini kami lakukan tiga kali dalam sehari, seperti kita minum obat," tutur Iwan ditemui acehkini, Sabtu (9/2).

Pukat ditarik dengan tali ke daratan. Foto: Suparta/acehkini.
Para penarik pukat sedang beraktivitas, Sabtu sore (9/2). Foto: Suparta/acehkini

Di Gampong Jawa, Tarek Pukat dilakukan tiga kali sehari: pagi, siang, dan sore. Jika cuaca dan ketinggian air lautnya bagus, kegiatan ini juga dilakukan malam hari.

Iwan sudah 12 tahun menjadi penarik pukat. Ia tak menangkap ikan ke tengah laut seperti nelayan pada umumnya. Meski kini ikan yang didapat dari hasil Tarek Pukat tak banyak, ia tetap bertahan dengan pekerjaan digelutinya itu.

Sore itu, pukat yang ditarik oleh dia dan temannya tak berhasil memperoleh ikan banyak. Bahkan satu keranjang berdiameter 30 sentimeter pun tak penuh.

"Lagi minim, biasanya dua hingga tiga keranjang penuh," kata dia.

Ikan hasil tangkapan langsung dijual ke pembeli. Foto: Suparta/acehkini
Ikan hasil tangkapan langsung dijual ke pembeli. Foto: Suparta/acehkini

Ikan itu langsung dijual ke pembeli yang telah menunggu di pondok tepi pantai.

Per keranjang ikan, mereka bisa mendapatkan uang sebanyak Rp 600 ribu. Jumlah tersebut dibagi toke dan nelayan penarik pukat.

"Setiap uang yang diberikan untuk kami telah dipotong untuk makan dan minum," katanya.

Banyak pembeli ikut menunggu di sana, menunggu ikan segar selesai dilabuhkan. Zuraida misalnya, pembeli yang berhasil mendapatkan dua kantong plastik berisi ikan.

"Baru kali ini berkesempatan membeli ikan di sini," tutur Zuraida, Sabtu (9/2).

Zuraida mengaku sudah dua kali menunggu nelayan selesai menarik pukat. Sedari awal, ia memang berniat membeli ikan yang baru diangkat dari laut dan masih segar. Apalagi belum tersentuh es.

"Ini lebih murah dan segar dibandingkan yang dijual di Pasar Peunayong. Saya ketagihan, besok saya kembali lagi ke sini," ucap Zuraida.

Zuraida tak seorang diri. Saban hari, ratusan warga memadati Pantai Gampong Jawa, untuk menyaksikan nelayan Tarek Pukat sembari menanti matahari tenggelam di ujung Pulau Sumatra itu.

Reporter: Habil Razali