Aceh-Amerika 1873: Sidang Parlemen Amerika Riuh (3)

Konten Media Partner
24 Maret 2019 21:08
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Lukisan perang Belanda di Aceh. Foto: KITLV Museum
zoom-in-whitePerbesar
Lukisan perang Belanda di Aceh. Foto: KITLV Museum
ADVERTISEMENT
Maret menjadi bulan penting sejarah Aceh. Belanda memaklumatkan perang setelah berhasil mempengaruhi Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Usai membombardir pelabuhan Kulaa Batee, Aceh Barat Daya, kapal Potomac kembali ke Amerika Serikat. Tindakan ini mendapat kecaman dari sebagian politisi di Amerika, seperti George Bencroft, yang waktu pengeboman Kuala Batu berada di atas kapal Potomac. Sebagian surat kabar di Amerika juga mengecam hal itu, salah satunya Nile’s Weekly yang berbasis di New York.
Pada 23 Juli 1832, senator Henry AS Dearborn dari Partai Republik Massachusetts yang beroposisi dengan pemerintah, mengajukan mosi tidak percaya, meminta agar Presiden Jackson menyampaikan kepada konggres mengenai intruksi kepada Kapten Kapal Potomac, John Downes untuk menggempur Kuala Batee, serta laporan tentang peristiwa tersebut.
Mosi tidak percaya ini diterima oleh sidang perlemen. Pada hari itu juga Presiden Jackson memenuhi permintaan konggres, tapi ia meminta agar hal tersebut tidak dipublikasikan, sebelum laporan lanjut diterimanya.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya dalam sidang konggres lajutan, Sabtu malam 24 Juli 1832, permintaan Presiden Jackson itu diperdebatkan. Anggota konggres senator Henry AS Dearborn berpendapat bahwa hal itu harus dipublikasi. Artinya, permintaan Presiden Jackson harus ditolak. Alasanya, jika peristiwa itu ditutup-tutupi, maka Kapten Kapal Potomac, John Downes akan mendapat sorotan jelek dari publik Amerika.
Sebaliknya, Ketua Komisi Angkatan Laut, Michael Hoffman dari partai Demokrat New York, menantang pendapat Henry AS Dearborn. Menurutnya, perstiwa penyerangan Kuala Batee itu baru boleh dipublikasi setelah ada laporan lebih lanjut.
Kemudian saat dilakukan pemungutan suara, mosi yang disampaikan Henry AS Dearborn kalah. Persoalan ini pun kemudian diserahkan kepada komisi urusan luar negeri Amerika Serikat yang pro-pemerintah. Presiden Jackson pun kemudian tidak pernah menyinggung kasus Kuala Batee tersebut dalam laporan tahunannya. Kasus dipetieskan.
Ilustrasi penyerangan Amerika ke Kuala Batee, Aceh. Foto: Ist
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyerangan Amerika ke Kuala Batee, Aceh. Foto: Ist
M Nur El Ibrahimy dalam bukunya, Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, menilai tindakan Amerika tersebut kemudian dimanfaatkan Belanda untuk kepentingan menaklukkan Aceh. Sudah menjadi kebiasaan negara-negara barat pasa masa itu, memilih jalan pintas melalui jalan perang untuk menyelesaikan masalah. Aksi milter lebih dikedepankan dari pada diplomasi.
ADVERTISEMENT
Setelah peristiwa itu, Belanda merasa sudah mendapat jalan menginvansi Aceh. Reputasi Aceh sudah tercoreng di mata internasional, khususnya Amerika Serikat. Kekacauan di perairan Aceh terus dilakukan Belanda dengan berbagai provokasi.
Di tengah upaya Belanda untuk menaklukkan Aceh, Sultan Aceh mengutus para diplomatnya ke Singapura. Tim diplomat yang diketuai Syahbandar Panglima Tibang, menjumpai konsul Amerika Serikat, Italia, dan Perancis di Singapura.
Tim diplomat Aceh ini sudah merancang draf kerja sama pertahanan antara Kerajaan Aceh dengan Amerika Serikat. Konsul Amerika di Singapura, Mayor Studer sudah menyetujui hal tersebut, dan akan mengirimnya ke Amerika untuk mendapat persetujuan Gedung Putih. Armada angkatan laut Amerika yang sedang berada di Laut Cina Selatan akan diarahkan untuk merapat ke Aceh.
ADVERTISEMENT
Hal itu kemudian diketahui Belanda melalui para broker perang di Singapura, salah satunya Tengku Muhammad Arifin, putra mahkota Moko-moko yang kerajaan ayahnya sudah ditaklukkan Belanda. Arifin pernah minta perlindungan kepada raja Aceh, tapi kemudian balik gagang menjadi mata-mata Belanda di Singapura.
Tengku Muhammad Arifin. Foto: Ist
zoom-in-whitePerbesar
Tengku Muhammad Arifin. Foto: Ist
Menyadari langkah diplomat Aceh tersebut, sebelum Amerika bertindak, Belanda mempercepat pengiriman armada perangnya dan memproklamirkan perang terhadap Kerajaan Aceh. Celakanya lagi, Panglima Tibang tersandera di Singapura dalam politik Belanda yang dikenal dengan sebutan “membeli kebaikan musuh dengan suapan.” Belanda dengan bantuan Arifin berhasil menekan Panglima Tibang untuk membelot. Sebuah pengkhianatan terbesar dalam sejarah Aceh.
Hingga kini terkenal dalam masyarakat Aceh jika seseorang berkhianat terhadap sesuatu, maka langsung dilabeli dengan sebutan “Biek Pang Tibang” alias keturunan Panglima Tibang. Peristiwa membelotnya diplomat Aceh itu ditulis dengan baik oleh HC Zentgraaff dalam buku ‘Atjeh’. [bersambung]
ADVERTISEMENT
Penulis: Iskandar Norman
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020