Air Bersih Masih Terkendala di Banda Aceh, Pj Wali Kota Tinjau PDAM Tirta Daroy
·waktu baca 3 menit

Penjabat Wali Kota Banda Aceh, Bakri Siddiq melakukan peninjauan ke Water Treatment Plant (WTP) Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) atau PDAM Tirta Daroy di kawasan Lambaro, Aceh Besar, Rabu (13/7/2022). Kendati baru seminggu bertugas, dia mengakui mendapat banyak keluhan dari pelanggan air bersih.
“Saya berharap Perumdam Tirta Daroy agar dapat lebih optimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya 53 ribu lebih pelanggan setianya. "Karena air adalah kebutuhan dasar, dan menyangkut hajat hidup orang banyak," kata Bakri.
Begitu tiba di WTP Lambaro, Bakri langsung meninjau instalasi pengolahan air minum dari hilir ke hulu. Mantan Kabiro Perencanaan dan Kerja Sama Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) ini juga mengecek progres pembangunan reservoir baru berkapasitas 2.000 meter kubik di sana.
Selama peninjauan, pj wali kota yang turut didampingi sejumlah pejabat Kota Banda Aceh dan para direktur Perumdam Tirta Daroy.
Hasil peninjauannya, Bakri mengungkapkan kapasitas produksi air Perumdam Tirta Daroy sudah mencapai 700 liter per detik. Sejatinya, angka tersebut sudah lebih dari jumlah yang dibutuhkan masyarakat. "Jika kita compare dengan penduduk kota-50 ribu lebih pelanggan-normalnya 500 liter per detik sudah cukup. "
Namun yang menjadi problem, dalam proses distribusi masih terjadi kebocoran air yang mencapai 30 persen dari total kapasitas produksi. "Ini sangat besar, sekitar 200 liter per detik kebocorannya. Kalau begitu, tidak semua air yang kita produksi tidak mengalir sampai ke rumah para pelanggan," ujarnya.
Problem yang kedua, air bersih layak minum produksi WTP Lambaro, berubah warna dan berbau saat mengalir ke keran rumah warga. "Ini juga berdasarkan sejumlah komplain warga yang masuk ke saya. Akar masalahnya adalah perpipaan yang sudah usang, punya tahun 70-an. Banyak yang rusak atau bocor sehingga air tanah bisa masuk."
Belum lagi kendala keterbatasan produksi pada musim kemarau Agustus hingga Oktober, "Akibat debit air sungai Krueng Aceh berkurang yang selama ini menjadi sumber air baku WTP Lambaro," sebutnya. Dia berharap masyarakat agar dapat memanfaatkan air sesuai kebutuhan sehingga tidak mubazir.
Menyikapi sejumlah persoalan, Bakri menyebutkan harus ada tindak lanjut secara cepat. Pihaknya pun mengharapkan dan akan melobi pemerintah pusat melalui kementerian untuk 'hadir' dalam bentuk budgeting. "Sebenarnya dalam kondisi normal, pemkot juga harus ada sharing berupa penyertaan modal kepada Perumdam Tirta Daroy."
Terkait dengan kinerja Perumdam Tirta Daroy sendiri, Bakri menilai sudah bagus dan berupaya maksimal. "Hanya saja, perlu lebih mengoptimalkan lagi pelayanan kepada masyarakat, karena yang menilai kan masyarakat. Menyangkut pelayanan publik, dari persentase 100, jika ada 10 persen saja yang komplain, kita belum sukses," ungkapnya.
Hal lainnya, Bakri juga mengungkapkan, masih sedikit perusahaan air minum milik pemerintah daerah di Indonesia yang bisa mendapatkan keuntungan atau profit. "Kita bersyukur juga Tirta Daroy sudah bisa break event, meningkatkan profit, bahkan menyumbang PAD. Tapi saya menekankan dan ingin Perumdam Tirta Daroy mandiri dulu dan melayani masyarakat dengan optimal,” tutupnya. []
