Belajar Bangkit dari Lele Pandan Sari: Kisah Desa Berseri di Batas Aceh

Konten Media Partner
22 Desember 2022 11:33
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pemuda Desa Pandan Sari dulu tidak memanfaatkan potensi ekonomi besar di kampungnya. Kini bangkit dengan wirausaha budidaya lele.
Misnadi (kiri) dan rekannya melakukan budidaya lele. Foto: dok. Misnadi
zoom-in-whitePerbesar
Misnadi (kiri) dan rekannya melakukan budidaya lele. Foto: dok. Misnadi
Perasaan gelebah mendekap Misnadi empat tahun lalu. Ia resah lantaran sebagian pemuda di desanya: Pandan Sari, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, Aceh, kerap berbuat kriminal.
"Teman-teman di sini minim kegiatan positif," kata pria 32 tahun ini. "Itu jadi pekerjaan rumah bagi saya."
Sejak 2016, Misnadi merasa memiliki tanggung jawab mengubah keadaan anak muda di desanya karena menjadi Ketua Pemuda Pandan Sari. Amanat ini ia pegang sampai 2021.
"Saya belajar untuk berbuat kegiatan positif," tuturnya kepada acehkini, Rabu (21/12/2022).
Pandan Sari terpaut lebih dari 600 kilometer dari Kota Banda Aceh, ibu kota provinsi. Desa ini justru dekat dengan provinsi Sumatra Utara yang berjarak puluhan kilometer. Kebun kelapa sawit mengelilingi desa.
Selain kebun sawit, Misnadi melihat potensi lain di desanya: budidaya ikan air tawar. Tahun 2018, ia mulai pelihara lele. Alasan lain, ia mencium peluang besar karena lele di pasar Aceh Singkil selama ini dipasok dari Sumatra Utara.
Modal awal dan pelatihan diperoleh dari corporate social responsibility (CSR) PT Perkebunan Lembah Bhakti (PLB) Astra. Pandan Sari termasuk desa terdekat dari area kebun kelapa sawit milik perusahaan itu. Misnadi menilai perusahaan harus ikut berkontribusi bagi warga sekitar.
"Dari situlah kami mengembangkan bisnis kecil budidaya lele," tuturnya.
Kelompok budidaya lele di Pandan Sari melakukan rapat. Foto: dok. Misnadi
zoom-in-whitePerbesar
Kelompok budidaya lele di Pandan Sari melakukan rapat. Foto: dok. Misnadi
Semula pemuda yang bergabung dalam barisan Misnadi tak banyak. Hanya sepuluh orang. Mereka bikin kelompok bernama Satria Muda Maju Bersama. Kolam budidaya juga tidak luas: hanya berbahan terpal ukuran 3x3 meter. Tiga ribu benih lele ditabur ke sana.
Karena masih coba-coba, masa panen perdana itu agak lama: sekitar 3-4 bulan. Beda dengan sekarang bisa cepat dalam waktu 2,5 bulan. Selain praktik, anggota kelompok juga ikut berbagai pelatihan. Ilmu baru ihwal teknik budidaya mulai diperoleh.
"Setelah ikut pelatihan, kami baru tahu bahwa yang diterapkan pada awal budidaya salah," kata Misnadi.
Masuk musim panen perdana, anggota kelompok belum meraup untung. Karena uang dari penjualan hasil panen tidak semuanya dinikmati Misnadi dan kawan-kawan. Tapi dipakai untuk membeli bibit lele yang kemudian dibagikan gratis ke pemuda lain.
"Dari sana, mereka mulai berminat budidaya lele. Kami harus memberi contoh dulu baru bisa bicara kepada mereka yang belum melakukan," ujarnya.
Misnadi menyeleksi penerima bibit ini untuk memilih mereka yang berminat besar. Sejak awal diberitahukan bahwa yang diberikan cuma benih dan ilmu budidaya. Mereka tetap harus merogoh kocek untuk kolam dan pakan. Walakin, mereka sangat antusias ikut budidaya.
Sekarang pembudidaya lele di Pandan Sari mencapai 47 orang. Usia mereka semua di bawah 40 tahun. Luas kolam pun kini beragam: ada 10x50 meter dan 10x30 meter. "Hampir 70 persen kolam tanah, 10 persen kolam terpal, dan 20 persen kolam bulat bioflok," kata Misnadi.

Tembus Pasar, Raup Jutaan per Bulan

Sekitar Maret 2021, budidaya lele di Pandan Sari memasuki masa panen raya. Benih yang ditabur bersamaan, musim panen pun tiba berbarengan. Lele segar lantas disuplai ke pasar-pasar terdekat. Tapi ada yang marah sebab panen besar itu.
Produk dari lele siap dipasarkan. Foto: dok. Misnadi
zoom-in-whitePerbesar
Produk dari lele siap dipasarkan. Foto: dok. Misnadi
Penjual lele penerima pasokan dari Sumatra Utara kelabakan ketika lele Pandan Sari masuk pasar. Lele lokal hasil budidaya Misnadi dan pemuda lain dijual Rp 23 ribu per kilogram. Harga ini terbilang murah dibanding lele dari luar Rp 26 ribu per kilogram.
"Jadi ada konflik dengan pedagang yang biasa menerima suplai lele dari Sumatra Utara. Ada persaingan bisnis," kenang Misnadi.
Lele Pandan Sari tampaknya jadi pemenang di tengah persaingan itu. Mereka kini justru memiliki pelanggan sendiri. Pembelinya mayoritas warga memesan untuk kenduri hingga pedagang pasar. Selebihnya warga yang beli langsung dengan datang ke kolam. "Sekarang banyak pelanggan, kami tidak perlu ragu," ujarnya.
Berencana kirim ke luar daerah? "Kebutuhan pasar lokal saja belum terpenuhi," jawab Misnadi.
Mencegah harga anjlok saat musim panen, anggota kelompok membuat sistem rotasi masa tabur benih. Karena itu, masa panen juga tak berbarengan.
Siasat ini diterapkan untuk memenuhi permintaan pasar saban hari, sedangkan panen 2,5 bulan sekali. "Rotasi panen mengatur jadwal tabur benih. Jadi, masa panen bisa jadi mingguan." Soal pendapatan, tiap pembudidaya rata-rata bisa meraup Rp 3 juta per bulan.
Karena kesuksesan di kewirausahaan ini, Pandan Sari terpilih jadi Kampung Berseri Astra (KBA) 2021. "Alhamdulillah kami terpilih dan masuk 17 besar," katanya.

Bukan Lele Biasa, Jadi Bakso hingga Kerupuk

Makin hari, pembudidaya lele di Pandan Sari bertambah. Antisipasi harga jual turun pada puncak panen, Misnadi berinovasi dengan mengolah produk turunan dari lele. Februari 2022, dia membuat bakso, salai, abon, dan kerupuk berbahan lele. "Kami coba awalnya untuk konsumsi sendiri," ujarnya.
Ia menyodorkan produk olahan ini ke pembeli lele utuh yang kerap datang ke kolam. Konsumen ternyata tertarik. "Sekarang kekurangan lele untuk membuat produk turunannya, terakhir ada pesanan yang harus dipending."
November 2022, produk itu ikut dalam kegiatan UMKM di Jakarta yang digelar Astra International.
Saat mengikuti pameran UMKM di Jakarta. Foto: dok. Misnadi
zoom-in-whitePerbesar
Saat mengikuti pameran UMKM di Jakarta. Foto: dok. Misnadi
Kini empat tahun telah berlalu dan kolam lele bertabur di Pandan Sari. Misnadi sudah agak tenang. Pemuda di desanya mulai sibuk dengan kegiatan positif dan juga meraup rupiah.
"Mereka bisa belajar konsep mengubah nasib tanpa harus berbuat kriminal. Kebangkitan alhamdulillah ada, mereka mulai mengerti bahwa dunia ini tidak sempit," kata Misnadi. []