kumparan
10 Mei 2019 15:27

Berbuka Nikmat dengan Mie Aceh, Ingat Jangan Pedas

Membuat mie Aceh goreng, untuk disiapkan sebagai makana berbuka. Foto: Adi Warsidi/acehkini
Makanan yang satu ini tak mengenal musim, maupun hari tertentu. Mie Aceh selalu ada, kapan saja anda menginginkannya. Rak-rak penjual mie Aceh umumnya melekat di warung-warung kopi, ada juga warung khusus menjual makanan khas itu.
ADVERTISEMENT
Di bulan Ramadan, mie Aceh tetap digemari para pembeli di Banda Aceh dan Aceh umumnya sejak pukul 17.00 WIB, atau jelang waktu berbuka. “Tak pernah sepi, pembelinya ramai sekitar pukul enam sore,” kata Cek Mun, pemilik warung Mie Aceh di kawasan Ulee Kareng, Banda Aceh, Kamis (9/5/).
Mun mengakui, di bulan Ramadan, pengunjung warungnya tetap sama seperti di luar Ramadan, kendati jam buka lebih terbatas. “Siang tidak buka selama puasa, tapi jumlah pelanggan hampir sama saja,” katanya.
Mie Aceh yang dibungkus beralas daun pisang, nikmatnya berbuka. Foto: Adi Warsidi/acehkini
Pembeli datang jelang berbuka, memesan dibungkus untuk disantap di rumah. Sebagian lainnya datang khusus usai tarawih ke warungnya. Mie goreng paling banyak permintaan untuk berbuka puasa.
Mie Aceh memang khas berbeda dengan mie lainnya dari segi bentuk. Ukurannya sedikit lebih besar dari mie biasanya. Lebih mirip mie hokkian atau spaghetti. Bahan utamanya dari tepung, dan berwarna kuning atau kerap disebut mie kuning yang diolah tanpa pengawet.
ADVERTISEMENT
Meraciknya gampang-gampang susah, mengatur lama memasak maupun takaran bumbu. Ini membuat mie Aceh beda rasa pada beberapa warung di Aceh. Kendati semua warung memakai mie kuning sebagai bahan dasar.
Mie kuning sebagai bahan dasar mie Aceh. Rahasianya pada bumbu warisan leluhur. Foto: Adi Warsidi/acehkini
Rahasia nikmatnya mie Aceh terletak pada bumbunya, konon diwariskan turun-temurun oleh para leluhur Aceh. Bumbunya terdiri rempah-rempah; cabai kering, bawang putih, dan kemiri, bawang merah, dan juga kacang tanah, serta sedikit lada. Bumbu digiling halus dan berwarna merah.
Saat memasak mie Aceh, penjual kerap menambahkan tomat atau saus, kecap. Bahkan bisa bernilai tambah jika mencampurkan daging, udang, dan kepiting, tentunya rasanya semakin maknyus. Saat memakannya, mie Aceh ditambah acar, irisan bawang dan kerupuk melinjo.
Ada tips khusus bagi penyuka mie Aceh saat Ramadan. Pesanlah kepada pembuatnya, jangan terlalu pedas, karena bisa mengganggu perut anda yang telah lama kosong. Bisa-bisa, nikmatnya berbuka akan menghalangi ibadah tarawih anda.
Warung mie Aceh milik Cek Mun di Ulee Kareng, Banda Aceh. Foto: Adi Warsidi/acehkini
Henny, penyuka mie Aceh mengatakan tak pernah bosan menikmati kuliner itu. “Saat berbuka puasa, paling enak disantap dengan paduan air kelapa muda. Air kelapa mampu menghilangkan rasa pedas mie Aceh,” katanya.
ADVERTISEMENT
Bagi anda yang menjadi wisatawan di Banda Aceh, sungguh mudah menemukan rak-rak mie Aceh di warung-warung kopi yang bertebaran di setiap sudut kota. Atau warung khusus yang menjual mie Aceh saja. Pastinya, kuliner warisan leluhur Aceh selalu menggoda. []
Mie Aceh dengan kerupuk dan acar, untuk menu berbuka puasa. Foto: Adi Warsidi/acehkini
Reporter: Adi Warsidi
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan