Konten Media Partner

Bintang Bulan Berkibar Saat Milad ke-45 GAM, Polisi: Coba Turunkan tapi Dihalau

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bendera bintang bulan dikibarkan saat milad ke-45 GAM di Lhokseumawe, Aceh. Foto: warga
zoom-in-whitePerbesar
Bendera bintang bulan dikibarkan saat milad ke-45 GAM di Lhokseumawe, Aceh. Foto: warga

Bendera Bintang Bulan berkibar dalam peringatan upacara milad ke-45 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Masjid At-Tahrir Kandang, Desa Meunasah Manyang, Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (4/12). Polisi mengklaim sempat hendak menurunkan bendera itu, tapi dihalau massa.

"Kita lakukan langkah-langkah persuasif. Sempat dorong-dorongan saya, Dandim dengan massa dorong-dorongan. Kita coba turunkan, dihalau mereka," kata Kepala Kepolisian Resor Lhokseumawe, Ajun Komisaris Besar Eko Hartanto, Sabtu.

Polisi akhirnya memberi waktu bagi mantan kombatan GAM yang tergabung dalam Komite Peralihan Aceh (KPA) itu untuk melaksanakan upacara sampai selesai. Bintang Bulan bertahan sekitar 30 menit sebelum diturunkan pada akhir upacara.

"Tidak ada (pengibaran Bintang Bulan) di tempat lain, cuma itu saja," kata Eko.

instagram embed

Pengibaran Bintang Bulan dilakukan oleh tiga orang pengerek bendera. Mereka mengenakan pakaian putih. Saat detik-detik Bintang Bulan dinaikkan ke tiang, ratusan orang yang hadir memberi hormat. Pengibaran bendera ini diiringi dengan kumandang azan.

Setelah pengibaran bendera, petinggi KPA menyampaikan amanat upacara. Berikutnya, doa bersama dan santunan anak yatim digelar di dalam masjid. Dalam beberapa gambar yang diperoleh acehkini, sejumlah aparat polisi dan TNI hadir di lokasi.

Gerakan Aceh Merdeka dideklarasikan oleh almarhum Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada 4 Desember 1976 di puncak gunung Tjokkan, Tiro, Kabupaten Pidie. Cicit Pahlawan Aceh Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman itu ingin memisahkan Aceh dari Indonesia.

kumparan post embed

Setelah deklarasi itu dan hari-hari berikutnya hingga hampir tiga dekade kemudian, konflik bersenjata melanda Aceh. Perang berakhir setelah GAM dan Indonesia berdamai di meja perundingan di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005. Nota kesepahaman yang ditandatangani itu kini dikenal MoU Helsinki.

MoU Helsinki memerintahkan GAM untuk membubarkan pasukan bersenjata bernama Tentara Neugara Aceh (TNA) dan memotong senjata mereka. Mantan kombatan lalu bernaung dalam Komite Peralihan Aceh. Sementara GAM, tetap hidup saban 4 Desember.[]