Cara Komunitas di Aceh Barat Tumbuhkan Semangat Membaca di Tengah Pandemi
Komunitas di Aceh Barat menggelar Lapak Baca, program membaca buku gratis di ruang publik sebagai wadah agar masyarakat lebih dekat dengan literasi, meski di tengah pandemi.

Sejumlah anak dan orang dewasa antusias membaca dan memilih buku yang terpajang berderet di trotoar Jalan Merdeka, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Aceh, Minggu (20/11). Sejak pukul 15.00 WIB, pengunjung memadati pergelaran Lapak Baca itu. Mereka duduk berlesehan, bersandar di batang pohon, hingga di atas sepeda motor.
"Untung saja cuacanya cerah," kata Ketua Komunitas Literasi Community, Mariani, sambil menata buku.
Komunitas yang dipimpin Mariani menjadi penggerak literasi di Aceh Barat. Mereka menggelar Lapak Baca, program membaca buku gratis di ruang publik. Dalam kegiatannya, Mariani bekerja sama dengan perpustakaan daerah dan komunitas lain, seperti Basajan Creative School dan Jambo Baca Meulaboh.
Menurut Mariani, Lapak Baca gratis perlu digelar di tempat umum sebagai wadah agar masyarakat lebih dekat dengan literasi, meski di tengah pandemi COVID-19. Ia memilih lokasi keramaian seperti pinggir jalan menuju tempat wisata agar menarik perhatian warga yang berlalu lalang.
"Sengaja kami buat di tempat keramaian. Selama ini saya melihat masyarakat senang dengan literasi, hanya kurang ruang saja," ujarnya.
Adapun buku-buku yang disediakan di sana jumlahnya ratusan judul. Mulai dari genre anak-anak hingga umum. Mariani menyebut, buku-buku tersebut sebagian besar disediakan perpustakaan daerah. Sisanya koleksi pribadinya bersama teman-teman komunitas baca lainnya.
“Selain membuka lapak baca, kami juga mengadakan diskusi, misalnya ada yang tidak mengerti apa yang dibaca, nanti kami diskusikan, dan kami merekomendasikan buku-buku yang layak mereka baca dan sesuai dengan umurnya,” jelasnya.
Rencananya, kegiatan bacaan gratis ini rutin dilakukan minimal dua pekan sekali dengan lokasi berbeda, termasuk sampai ke desa-desa. Hambatan yang dialami Mariani hanya mengenai tempat, karena digelar di ruang terbuka sangat tergantung dengan cuaca.
”Kalau hujan otomatis kami bubar, selain itu, area lapaknya, karena ini tempat umum jadi kadang lokasi yang kami jadikan tempat lapak baca itu tempat orang berjualan. Walaupun sebenarnya kami sudah survei tempat. Kami memilih lokasi yang ramai dan tempat nongkrong orang,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Aceh Barat, Aris Munandar menilai inisiatif komunitas Mariani membuat Lapak Baca sangat bagus. Selain sosialisasi literasi, menurutnya, langkah itu sebagai langkah meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat.
Aris mengaku sesudah pandemi menyerang, perpustakaan cenderung sepi. "Kegiatan itu semoga mendapat antusiasme dari masyarakat, agar budaya baca lebih meningkat," ujarnya.
Ia menyebut, inovasi demikian perlu dikembangkan untuk meningkatkan literasi bacaan. Bukan hanya di perkotaan, kegiatan itu menurut Aris harus digelar sampai ke desa-desa. “Karena perpustakaan adalah sarana informasi untuk masyarakat umum dan bukan di kota saja,” katanya.
Hal senada juga disampaikan salah seorang pengunjung, Ami Oktayusfa. Ia menyebut kegiatan ini sangat bermanfaat dan punya daya tarik karena berlokasi di pinggir jalan dan tempat keramaian. "Kami bisa membaca gratis, orang-orang jadi tertarik untuk membaca," sebutnya.
