Konten Media Partner

Cerita Ridwan Kamil Teteskan Air Mata Saat Desain Museum Tsunami Aceh

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Museum Tsunami Aceh, karya desain Ridwan Kamil. Foto: Abdul Hadi/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Museum Tsunami Aceh, karya desain Ridwan Kamil. Foto: Abdul Hadi/acehkini

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bercerita, sempat meneteskan air mata saat mendesain Museum Tsunami Aceh. Proses pembangunan museum mulai dari desain dan pengerjaan fisik berlangsung sejak 2007. Museum diresmikan pada 2009.

"Sebagai arsitek saya sudah mendesain banyak bangunan, tapi mendesain bangunan yang paling emosional dan meneteskan air mata saat mendesain Museum Tsunami," kata Ridwan Kamil dalam peringatan 17 tahun Tsunami Aceh di Ulee Lheue, Banda Aceh, Ahad (26/12).

kumparan post embed

Gempa 9,2 Skala Richter dan tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004. Lebih dari 200 ribu meninggal dalam bencana ini. Masyarakat Aceh mengenangnya saban tahun.

Ridwan Kamil atau akrab disapa Kang Emil, mendesain bangunan Museum Tsunami Aceh bukan hanya untuk mengingat peristiwa tsunami, tapi juga tempat belajar mitigasi bencana. "Bagaimana anak cucu kita belajar menyambut masa depan yang lebih baik dan selamat," ujarnya.

kumparan post embed
Ridwan Kamil memberikan sambutan dalam peringatan 17 tahun tsunami Aceh. Foto: Abdul Hadi/acehkini

Ia sengaja mendesain Museum Tsunami Aceh yang terlihat terbuka karena berpikir untuk menghadirkan tempat yang tidak angker. "Orang bisa tiap hari jika rindu, butuh istirahat silahkan datang tanpa perlu masuk ke dalamnya," tuturnya.

"Dengan adanya karya ini, terus nenemani perjalanan gemilang masyarakat Aceh di masa depan."

kumparan post embed

Pada Sabtu kemarin, Kang Emil sempat mengunjungi Museum Tsunami. Dia berkeliling sambil membuat video pribadi di dalam museum dan mengupload ke media sosialnya.

Kang Emil mengatakan terakhir kali mengunjungi Museum Tsunami pada 2017 lalu. Dia mengapresiasi pengelola yang menjaga museum itu tetap rapi dan bersih hingga kini.

“Kalau saya lihat ini perawatannya sangat baik semenjak peralihan dari Pemerintah Pusat ke Pemda Aceh,” kata Kang Emil.

kumparan post embed