Konten Media Partner

Dilema Ikatan Cinta di Masa Corona

ACEHKINIverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi prosesi pernikahan di masa corona. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi prosesi pernikahan di masa corona. Foto: Suparta/acehkini

Tujuh bulan lebih sejak kasus pertama penderita virus corona diumumkan di Indonesia, COVID-19 menjadi kisah ngeri yang ‘menghantui’ ruang publik. Namun, kengerian lebih sering terdengar di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Bandung, Bogor, Medan.

Di Aceh yang muncul adalah kengerian lain, ketika Forkopimda Aceh mengeluarkan seruan jam malam untuk dua bulan ketika baru ada 5 kasus yang muncul, 2 di antaranya meninggal. Namun kebijakan itu hanya bertahan sepekan karena kritik keras publik, terutama di sosial media, yang membayangkan darurat militer dan darurat sipil muncul kembali.

Hingga Juni 2020, kasus COVID-19 di Aceh masih tergolong rendah. Dilaporkan melonjak drastis pada pertengahan Juli 2020. Kini kasus telah meledak, tercatat sampai saat ini sudah 5.421 orang terkonfimasi virus corona.

Beberapa orang terkenal, dan saya kenal secara pribadi pun terpapar virus corona. Kini beberapa fasilitas kesehatan terpaksa tidak beroperasi, karena tenaga kesehatan banyak yang terinfeksi. Hingga kini, telah 5 dokter meninggal di Aceh karena Corona.

kumparan post embed

Kematian para tenaga Kesehatan, entah karena kelelahan atau terinfeksi seperti mengiris hati. Mereka berada di garda terdepan melawan virus, tapi juga ambruk oleh virus itu. Di sisi lain, pemerintah baik lokal dan nasional seperti enggan transparan atas penanganan COVID-19, baik terhadap perkembangan virus itu sendiri, data yang dianggap terdampak virus, hingga politik anggaran.

Tiba-tiba saya teringat kisah yang viral enam bulan lalu, tentang dokter Michael Robert Marampe yang positif terinfeksi COVID-19. Ia yang selama ini merawat pasien justru harus ganti menjalani perawatan sebelum akhirnya lunglai, dan dinyatakan meninggal dunia.

Saat itu yang membuat sedih, Michael telah mengikat janji dengan seorang gadis, Tri Novia Septiani namanya. Mereka bahkan sempat menggeser pernikahan karena Michael harus berjuang di gugus tugas terdepan penanganan virus corona. Tanggal pernikahan yang seharusnya dihelat pada 11 April 2020, diundur menjadi 12 September 2020. Mereka menyimpan harapan indah, mengharap virus Corona segera usai. Namun, hari bahagia itu tak pernah datang. Michael meninggal ‘dibunuh’ virus.

Michael dan tunangannya, bukan satu-satunya kisah cinta sejoli yang terpisah virus corona di dunia. Ada banyak kejadian yang mirip seperti, orang-orang yang berpisah jiwa-raga karena panggilan hati, kode etik atau sumpah profesi.

kumparan post embed

Meskipun menyedihkan, entah kenapa kisah cinta selalu menarik untuk disimak. Kisah cinta dan pandemi menjadi campuran memabukkan. Barangkali itu pula yang membuat novel karya penulis pemenang Hadiah Nobel Kolombia, Gabriel Garcia Marquez; Love in the Time of Cholera (1988) menjadi rujukan.

Aceh dan Pesta Cinta di Tengah COVID-19

Namun ada juga kisah cinta lain yang berakhir bahagia, sayangnya dilaksanakan di tengah duka dan virus masih membahana. Pesta-pesta pernikahan di kota-kota besar di Aceh, dilaksanakan dengan gala yang meriah, tak terkecuali di Banda Aceh tempat virus paling terjangkit di seluruh Aceh. Padahal sejak 18 September 2020, Wali Kota Banda Aceh telah meminta camat bertanggungjawab mengeluarkan surat izin keramaian sebagai Ketua Gugus COVID-19.

Namun, orang-orang berkumpul di masa yang menegangkan ini berpotensi besar meningkatkan penyebaran virus. Apalagi para undangan yang tidak mematuhi aturan protokol yang dianjurkan seperti memakai masker. Bukan hanya di Banda Aceh, rekan-rekan saya di daerah juga menyaksikan bagaimana pesta pernikahan tak kurang meriahnya di tengah gemerlap virus di mana-mana.

Cinta dua anak manusia tentu berharap pada penyatuan dalam pernikahan. Di Aceh, perayaan pernikahan melalui kenduri bukan hanya soal berkumpul dan makan-makan. Itu adalah ekspresi sosio-kultural yang menentukan marwah dalam masyakarat. Tentu saja, keperluan orang untuk menikah tak dapat dihalang.

Bahkan pada masa Aceh berstatus Darurat Militer sekalipun, ketika banyak kantor pemerintahan tidak dapat bekerja, orang-orang tetap menikah tanpa KUA. Cinta tak terbatas oleh legalitas negara, bahkan sebenarnya dalam banyak hal, negara tidak bisa mengerangkeng percintaan, yang privat dan ilegal sekalipun.

instagram embed

Tetapi bukan itu masalahnya. Saat ini masalah ikatan pernikahan, administrasi pernikahan, hingga momen sosio-kultural perkawinan menerabas begitu saja problem protokol kesehatan. Padahal, secara administratif, gampong sebagai unit pemerintahan terkecil memiliki pageu gampong yang menjadi garda terdepan penyelamatan warga. Corona menimpa, gampong telah mengambil inisiatif substantif untuk mencegah masyarakat terinfeksi virus corona dengan melakukan pembatasan-pembatasan, penyemprotan disinfektan hingga mengusahakan bantuan bahkan sebelum pemerintah daerah sempat berbuat.

Sementara harapan terhadap gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 di gampong memproduksi lebih banyak upaya pencegahan dalam bentuk edukasi yang komprehensif, pemerintahan di level lebih tinggi masih gagap melakukan sesuatu, kecuali informasi tentang yang terinfeksi dan meninggal, menyebabkan ruang literasi bak film The Conjuring: horor vacuui! Jikapun terjadi penindakan, hanya aksi terakhir, sebelum semua pasien berjejal di bangsal Rumah Sakit.

Sosialisasi pakai masker saat razia masker di Banda Aceh. Foto: Suparta/acehkini

Seandainya, ada panduan/protokol pencegahan yang dijalankan dengan baik, kita bisa meminimalisasi resiko. Misalnya, wajib menggunakan masker atau disediakan masker sebagai cindera mata sehingga tamu yang lupa dapat langsung memakainya. Atau tuan rumah dan penyelenggara hajatan membuat aturan pengelompokkan para undangan. Demikian pula para tetamu dijarakkan dengan fase waktu hadir. Hal ini akan mengendalikan keramaian dan tak membuat tamu berjejalan datang dan antre di meja makan.

Terakhir, tugas kita sebagai masyarakat adalah patuh agar tidak ada lagi penambahan jumlah yang terinfeksi virus corona. Sebab, meski hampir berakhir tahun, pandemi khususnya di Aceh tampak masih jauh dari kata selesai. Jangan biarkan banyak cinta rubuh, janji setia ambruk, dan banyak orang yang harus berjejer sebagai korban berikutnya. []

Penulis: Azharul Husna Kepala Divisi Advokasi Kampanye KontraS Aceh