Ditelanjangi dan Disetrum, Tragedi Pinto Sa saat Konflik Aceh (2)

Konten Media Partner
2 Agustus 2019 16:49
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
ADVERTISEMENT

Konflik panjang berakhir di Aceh setelah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia sepakat damai di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005 silam, dikenal dengan Memorandum of Unsderstanding (MoU) Helsinki. Memperingati 14 tahun damai Aceh, sepanjang Agustus 2019, redaksi acehkini menurunkan laporan kilas balik konflik. Tentang korban, penyintas, dan pengalaman para pihak bertikai. Bukan untuk mengungkit luka lama, tapi untuk belajar agar perang tak terulang.

Salah satu bangunan bekas Pos Pinto Sa. Foto: Habil Razali/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu bangunan bekas Pos Pinto Sa. Foto: Habil Razali/acehkini
Pocut, bukan nama sebenarnya, dijemput aparat negara dari rumah pada suatu siang medio 1997. Perempuan paruh baya asal Kecamatan Tiro, itu dituduh menyuplai pasokan logistik untuk pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia lalu diboyong ke Pos Pinto Sa. Kala itu, Pocut tengah mengandung anak kedua dengan usia kehamilan empat bulan.
ADVERTISEMENT
Pos Pinto Sa, kini hanya lahan kosong dengan bekas bangunan dan sisa tembok, terpaut sekitar 100 meter dari Bendungan Tiro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh. Lokasi itu terkenal di masa konflik, sebagai pos tentara dalam bertugas membasmi GAM.
Pocut masih ingat gambaran Pos Pinto Sa. Bangunan berbentuk petak. Memasuki ke dalam, di bagian tengah terdapat lorong yang tembus ke belakang. Di lorong tersebut cuma ada kursi, tempat tentara biasanya duduk.
Di kiri dan kanan lorong itu, masing-masing ada dua kamar. Empat kamar di dalam bangunan tersebut punya fungsi beragam. Satu kamar tempat tentara menginap, dua kamar untuk tahanan laki-laki dan perempuan, dan kamar terakhir menjadi ruang pemeriksaan, persisnya ruang penyiksaan.
ADVERTISEMENT
Pocut ditahan di kamar tahanan perempuan. Saban pagi sekitar pukul 09.00 WIB, dia dibawa ke ruang pemeriksaan. Di sana, terdapat balok, rotan besar, dan alat setrum listrik. Pocut kemudian didudukkan di kursi rotan dengan posisi tangan dan kaki diikat ke kursi.
Bendungan Tiro yang mencekam semasa konflik Aceh. Foto: Habil Razali/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Bendungan Tiro yang mencekam semasa konflik Aceh. Foto: Habil Razali/acehkini
Ada dua tentara yang menginterogasi Pocut. Hingga kini, Pocut masih ingat nama tentara itu. Pocut kemudian ditanya soal hubungannya dengan GAM. Ia dituduh memberikan nasi untuk pasukan GAM. "Saya bilang tidak pernah beri makanan untuk GAM. Kemudian tentara bilang, bukan itu yang saya tanyakan, lalu saya dipukul lagi," cerita Pocut.
Di hari lain, Pocut ditelanjangi lalu disetrum di beberapa bagian tubuh, termasuk di kemaluan dan puting payudara. Dia tetap bersikukuh dengan jawaban pertama, karena memang sama sekali tidak terlibat GAM. "Mendengar jawaban saya, tentara lalu menyetrum seluruh tubuh saya, di perut, di kemaluan, semuanya pokoknya," tuturnya. Terus menerus disiksa, pada hari kelima di Pinto Sa, Pocut keguguran.
ADVERTISEMENT
Pocut berada tiga bulan di Pos Pinto Sa. Ia kemudian dibebaskan setelah tentara yakin dengan jawabannya yang tidak terlibat GAM.
Sisa salah satu bangunan di Pos Pinto Sa setelah dihancurkan warga. Foto: Habil Razali/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Sisa salah satu bangunan di Pos Pinto Sa setelah dihancurkan warga. Foto: Habil Razali/acehkini
Menurut Pocut, warga yang pernah dibawa ke Pos Pinto Sa ada tiga kemungkinan kelanjutannya. Pertama dibawa ke Rumoh Geudong (pos lain di Bilie Aron, Kecamatan Geulumpang Tiga, Pidie), dipulangkan jika tidak terbukti atas tuduhan, dan terakhir hilang tanpa jejak.
Saat massa membakar Pos Pinto Sa, suami Pocut datang ke sana untuk mengambil kursi rotan. Kursi itu lalu dibawa pulang ke rumah dan disimpannya hingga kini. "Ini kursi tempat saya duduk dan disiksa dulu, ini menjadi saksi bisu, agar Tragedi Pinto Sa terus diingat sampai anak cucu," ujar Pocut dengan mata lembab.
ADVERTISEMENT
Harus Dikenang
Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, Hendra Lawhan Saputra, mengatakan Pos Pinto Sa salah satu peninggalan konflik Aceh pada masa lalu yang wajib dirawat oleh banyak pihak. "Karena di situ begitu banyak meninggalkan kenangan untuk menjadi ingatan kita supaya konflik tidak berulang," kata Hendra kepada acehkini, Senin (29/7).
Hendra Lawhan Saputra.
zoom-in-whitePerbesar
Hendra Lawhan Saputra.
Menurutnya, bekas Pos Pinto Sa menjadi tempat mengenang pahitnya kejadian pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu. Dari sana, kata dia, masyarakat dapat belajar untuk memperbaiki masa depan yang lebih baik supaya tidak berulang lagi.
KontraS Aceh meminta Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pidie agar bisa memuat semacam memorial atau tugu di bekas Pos Pinto Sa agar bisa menjadi ingatan bagi generasi muda.
ADVERTISEMENT
"Bisa membangun memorialisasi di lokasi kejadian sebagai pengingat bagi generasi mendatang untuk belajar supaya tidak berulang," ujarnya. []
Reporter: Habil Razali
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020