Foto: Agar Gerabah Aceh Tetap Ada di Era Milenial
·waktu baca 2 menit

Di usia 75 tahun, tangan dan mata Juwariyah masih cekatan mengolah tanah liat menjadi alat untuk memasak atau gerabah. Usaha itu telah dilakoninya sejak masih gadis. Keahlian diperoleh turun-temurun dari leluhurnya, hingga menjadi sebuah tradisi di Aceh.
Profesi ini juga telah diwarisi kepada anak-anak perempuanya; Rukaiyah (50 tahun) dan Nuraida (46 tahun). Keluarga besar Juwariyah dikenal sebagai perajin gerabah di Gampong Ateuek Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.
Di era milenial, mereka masih menjaga keberlangsungan gerabah sebagai tempat memasak tradisional di Aceh. Kini, hanya sebagian kecil warga yang masih menggunakan gerabah untuk wadah memasak, atau satu dua rumah makan yang memakainya guna mempertahankan tradisi. Alat masak berganti aluminiun dan besi.
Walau sudah berkeluarga, Juwariyah, Rukaiyah dan Nuraida masih tinggal berdekatan. Memanfaatkan ruang kosong di dapur rumahnya masing-masing, setiap hari mereka memproduksi gerabah. Ada kalanya mereka saling membantu.
Rukaiyah mengaku, dari membuat gerabahlah mereka bertahan hidup. Bagi keluarga ini, tiada hari tanpa bergelut dengan tanah liat. Beragam alat dapur mereka buat, mulai sangku, periuk, sampai cobekan. “Dalam sehari kalau sendiri mampu membuat 15-20 gerabah, tergantung jenis dan ukuran,” jelas Rukaiah, Rabu (4/8/21).
Menurutnya, setiap gerabah akan dijual mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 30 ribu rupiah, tergantung ukuranya. “Cuma baru bisa dijual setelah proses pembakaran. Dan itu tergantung cuaca, kalau lagi terik bisa dilakukan minimal semingu sekali,” katanya.
Kendala yang dihadapinya sekarang adalah ongkos angkut tanah liat. Menurutnya, untuk tanah liat yang digalinya sendiri di Gampong Gurah, Aceh Besar, ongkos angkut menggunakan mobil pick-up mencapai Rp 400 ribu sekali jalan. Harga kayu bakar yang terus naik juga menjadi kendala lainnya.
“Selama ini terpaksa beli kayu bakar yang diangkut becak, sekali jalan Rp 60 ribu, itu bisa untuk dua kali pembakaran. Kalau yang pakai mobil bisa Rp 800 ribu (sekali angkut),” tutupnya. []
