Konten Media Partner

Foto: Melihat Barang Antik dan Manuskrip Kuno Aceh di Pedir Museum

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Koleksi perhiasan Aceh di Pedir Museum. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi perhiasan Aceh di Pedir Museum. Foto: Suparta/acehkini

Ribuan koleksi manuskrip kuno serta barang antik bersejarah Aceh kini dapat dilihat di Pedir Museum, Punge Blang Cut, Banda Aceh.

Pendiri Pedir Museum, Maskur Syarifuddin, menjelaskan manuskrip dan benda-benda bersejarah tersebut dia kumpulkan sejak 2014, baik dengan cara membeli maupun hibah dari masyarakat. Kini Maskur mengoleksi sekitar 6.500 benda bersejarah, 462 di antaranya berupa koleksi manuskrip kuno.

“Di sini baru sekitar 30 persen dari koleksi saya tempatkan. Sisanya masih tersimpan di rumah orang tua saya di Pidie,” kata Maskur Jumat (14/10/2022).

Menurutnya, keterbatasan tempat salah satu alasan koleksinya belum dipamerkan di museum. “Jika sudah punya tempat yang lebih baik akan kita bawa ke sini semua,” jelasnya.

Bangunan yang difungsikan sebagai Pedir Museum. Foto: Suparta/acehkini

Benda-benda koleksi Maskur yang dapat dilihat di Pedir Museum antaranya; naskah kuno dari abad ke-19, koleksi mata uang sejak dari abad ke-12, perhiasan, arsip kesultanan, senjata, benda benda arkeologi, kain dan tekstil.

Antara benda yang paling bernilai koleksi Maskur yaitu; kitab karya Syeikh Nuruddin Ar-Raniry dari abad ke-17, koin emas masa Kerajaan Samudera Pasai dan senapan pasukan Aceh yang digunakan pada saat perang Belanda.

Lihat foto-foto berikut:

Maskur Syarifuddin (baju putih). Foto: Suparta/acehkini
Berbagai benda bersejarah koleksi Pedir Museum, Aceh. Foto: Suparta/acehkini
Stempel-stempel masa kerajaan Aceh koleksi Pedir Museum. Foto: Suparta/acehkini
Naskah kuno koleksi Pedir Museum. Foto: Suparta/acehkini
Benda bersejarah koleksi Pedir Museum. Foto: Suparta/acehkini
Tempat penyimpanan barang berharga. Foto: Suparta/acehkini
Ragam motif Aceh. Foto: Suparta/acehkini