Foto: Melihat Proses Pengolahan Rotan di Banda Aceh

Bersama empat pekerja lainnya, Suwandi (45 tahun) sibuk memilah-milah rotan di tempat usahanya, Gampong Doy, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Kamis (10/10) lalu.
Rotan yang sudah siap, lalu dikeringkan, diikat rapi, kemudian ditumpuk pada sebuah tempat. Sementara rotan yang baru datang, dipilah kemudian direbus dengan minyak solar, selanjutnya dijemur sampai kering.
“Dalam sebulan terakhir harga beli sudah naik, sebelumnya Rp 13 ribu per kilogram, sekarang Rp 15 ribu,” jelas Suwandi.
Menurutnya, rotan-rotan di tempatnya ditampung dari pencari rotan di wilayah Aceh Besar. Wilayah pegunungan Aceh Besar dikenal kaya rotan liar, bermutu baik. Rotan itu tidak dimanfaatkan di Aceh, untuk memproduksi berbagai kerajinan, tetapi dikirim ke Pulau Jawa.
“Kami di sini hanya memproses pengawetan sampai kering. Selanjutnya dikirim ke industri di Cirebon, Jawa Barat,” jelasnya.
Pengirimannya tergantung bahan baku yang masuk, minimal sebulan sekali, atau ketika bahannya sudah mencapai 8 ton.
Kenapa tidak membuat industri rotan di Aceh? Suwandi beralasan, selain biaya produksi lebih mahal juga jauh dengan pasar. []
