Foto: Penutupan Aceh Culinary Festival, Sebelum ‘Base Jam’ Dibubarkan

Kegiatan Aceh Culinary Festival 2019 yang berlangsung selama tiga hari di Taman Sultanah Safiatuddin, Banda Aceh, resmi ditutup pada Minggu (7/7) malam. Perputaran uang di festival kuliner tersebut ditaksir mencapai Rp 5 miliar.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Jamaluddin, dalam laporannya menyebutkan, nilai itu didapat dari kunjungan puluhan ribu masyarakat yang berbelanja di 172 stan yang meramaikan acara yang berlangsung sejak Jumat (5/7) malam.
Aceh Culinary Festival 2019 ditutup oleh Asisten Deputi Strategi dan Komunikasi Pemasaran Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Indonesia, Heriyanto. Penyelenggaraan Festival Kuliner Aceh ini masuk dalam 100 Calendar of Events 2019 Kemenpar.
"Kuliner Aceh adalah ikon kuliner halal dunia," kata Hariyanto dalam sambutannya saat menutup Aceh Culinary Festival 2019. Untuk itu, seiring penyelenggaraan Aceh Culinary Festival, ia menyampaikan harapannya agar kuliner Aceh bisa masuk dalam restoran Indonesia milik diaspora di mancanegara yang menjadi mitra co-branding Kemenpar.
Malam penutupan Aceh Culinary Festival 2019 yang diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran, kemudian dimeriahkan penampilan kesenian Aceh Rapai Geleng dan band lokal Seuramoe Reggae, juga grup band Base Jam. Selain itu, juga dilakukan pengumuman pemenang lomba masak serba ikan dan cipta menu B2SA tingkat Provinsi Aceh dan pemilihan duta makan serta pemilihan anjungan kabupaten/kota peserta terbaik di ajang festival kuliner Aceh.
Seusai prosesi penutupan yang ditandai dengan pembacaan doa, kegiatan dilanjutkan dengan acara hiburan yang menampilkan band lokal Seuramoe Reggae dan grup band nasional, Base Jam.
Tampil di Aceh Culinary Festival 2019, Base Jam mengawali penampilannya dengan menyanyikan lagu daerah Aceh, Bungong Jeumpa. Penampilan band yang populer di tahun 1990-an ini, kemudian sekitar pukul 23.20 WIB terpaksa dihentikan seiring aksi desakan pembubaran oleh sekelompok massa. []
acehkini
