Foto: Sisa Bukti Kedahsyatan Tsunami Aceh 17 Tahun Silam
ยทwaktu baca 1 menit

Tepat di Minggu pagi, 26 Desember 2004, pukul 07.58 WIB, gempa 9,2 magnituno melanda Aceh. Berpusat di sekitar perairan Simeulue, berlangsung sekitar 8-10 menit. Warga panik keluar rumah. Sejumlah bangunan roboh. Kepanikan belum hilang, kala tsunami menghantam sekitar 30 menit kemudian.
Ombak raksasa bergerak dari laut menyapu bangunan dan orang-orang yang berlari di radius 4 kilometer dari pantai. Air menggenangi permukaan tanah yang berserak puing-puing bangunan dan mayat-mayat.
Pesisir Banda Aceh dan Aceh Besar rata, kota Calang (Aceh Jaya) hilang, pesisir Meulaboh (Aceh Barat) musnah, sebagian pesisir Nagan Raya, pesisir Pidie dan Pidie Jaya, kepulauan Simeulue serta sebagian wilayah pesisir Aceh lainnya berdampak, termasuk Kabupaten Nias (Sumatera Utara). Sebagian wilayah pantai negara tetangga, Thailand, Malaysia, Srilanka dan India ikut merasakan gelombang tsunami.
Saban tahun setelahnya, peringatan selalu dilakukan di Aceh untuk mengenang bencana dan belajar mitigasi, sekaligus mendoakan 200 ribu lebih korban yang meninggal dunia.
Setelah 17 tahun tsunami melanda, Aceh telah bangkit kembali dengan bangunan yang lebih baik mengisi lokasi bekas bencana. Tapi sejumlah peninggalan masih tersisa, atau dijaga menjadi situs sejarah untuk kenangan dan pembelajaran generasi ke depan.
