Foto: Terdampak Corona di Aceh, Magister Hukum Tak Gengsi Budidaya Ikan Lele
Terdampak wabah corona hingga usaha travelnya bangkrut, Sarwoko yang bergelar magister hukum memulai bisnis budidaya lele. Ternyata menjanjikan.

Jelang siang, Sarwoko (37 tahun) bersama 5 pekerjanya masih menyortir ikan lele yang dipanen dari 20 petak kolam keramba, di Gampong Rima Keuneurum, Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.
Usaha budidaya lele tergolong baru bagi magister hukum ini. Sebelumnya, ayah dua putri ini merupakan pengola sebuah travel di Banda Aceh dengan omset lumayan. Pandemi corona telah membuat usahanya gulung tikar. Tak berpaku tangan, sejak awal wabah virus, Sarwoko banting stir memulai bisnis baru, budidaya lele.
Pengetahuan tentang memelihara lele diperolehnya dari hasil bertanya ke tempat-tempat budidaya milik kenalannya, selain dari membaca.
Kini, dalam 20 petak keramba miliknya, Sarwoko telah melepas sekitar 300 ribu ekor bibit lele. “Sementara kita hanya membesarkan saja, bibit masih kita beli, saat ini harganya di kisaran Rp 300 per ekornya,” kata Sarwoko, Selasa (8/12).
Dari 300 ribu ekor bibit, jika angka mati minim atau normal, Sarwoko menaksir hasil panennya bisa mencapai 30 ton lele siap jual.
Saat ini, Sarwoko mulai memanen dengan cara menyortir, di mana lele yang ukurannya sudah mencukupi diambil, lainnya dilepas kembali ke kolam. “Yang ini (hasil panen), setelah kita bersihkan, dikirim ke sejumlah sekolah asrama di Banda Aceh dan Aceh Besar,” katanya.
Di puncak panen, selain dipasarkan di Banda Aceh, lele Sarwoko juga akan dikirim ke 20 Kabupaten kota se Aceh. “Harga kita lepas ke pengepul antara Rp 18-20 ribu perkilonya, dan harga ikan lele relatif normal, beda dengan ikan laut.” []
Lihat foto-foto aktivitas di tambak lele berikut ini:
