Konten Media Partner

Fotografer Keliling di Masjid Raya Baiturrahman Aceh: Tergusur Kamera Ponsel

ACEHKINIverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tukang foto keliling masih bertahan di era digital, menawarkan jasanya mengabadikan pengunjung di masjid termegah Aceh. Mereka kian tergusur kamera ponsel.

Arul memotret pengunjung Masjid Raya Bairurrahman, Banda Aceh. Foto: Habil Razali/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Arul memotret pengunjung Masjid Raya Bairurrahman, Banda Aceh. Foto: Habil Razali/acehkini

Arul masih berdiri mematung di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh. Senja hampir usai, Kamis (11/3). Ia bergeming di tengah riuh rendah pengunjung rumah ibadah sekaligus saksi bisu pelbagai peristiwa sejarah di Tanah Seulanga itu.

Sore itu, Arul tampil dengan kemeja kotak-kotak, menyandang sebuah tas hitam di bahu. Seutas tali kamera melilit leher gempalnya. Kamera dibiarkan berjuntai-juntai. "Pengunjung ramai, tetapi belum ada yang meminta saya mengabadikan momennya," celetuk pria bernama lengkap Muhammad Zahrul itu, kepada acehkini.

Arul berusia 26 tahun. Sejak 8 tahun silam, ia sudah menenteng kamera di halaman masjid ikon Provinsi Aceh. Di Kota Banda Aceh, profesi Arul dikenal sebagai "Fotografer Masjid Raya". Saban hari, tugas Arul sama seperti fotografer keliling lain: menawarkan jasa foto ke pengunjung. Hasil potret diberikan dalam bentuk cetak.

kumparan post embed

Tukang foto memang cita-cita Arul sejak kecil. Setamat Sekolah Menengah Atas di Padang Tiji, Kabupaten Pidie, Arul mengadu nasib ke Banda Aceh. Ia meminta izin bergabung bersama abang sepupunya menjadi fotografer masjid raya. Begitu dibolehkan, Arul membeli sebuah kamera.

Meski semua orang dapat mengambil foto di halaman Masjid Raya Baiturrahman, tetapi hanya mereka yang terdaftar yang boleh menjual jasa pengabadi momen di sana. Aturan inilah yang membuat Arul bergabung dalam Organisasi Fotografer Amatir Baiturrahman.

Muhammad Zahrul, fotografer keliling. Foto: Habil Razali/acehkini

Jalan yang dilalui Arul berliku. Selama sebulan, ia ditempa berbagai ilmu mengenai seluk-beluk fotografi. Ketika sudah dianggap mumpuni, dia dinyatakan lolos dan sah menjadi fotografer masjid raya. Ia pun bekerja menjual jasa foto pengunjung. Laiknya jam masuk kantor, saban hari, Arul sudah berada di halaman masjid sekitar pukul 8 pagi sampai pukul 6 sore.

Bagaimana Arul mencetak hasil potretnya? Setelah memotret pengunjung, Arul bergegas ke toko pencetak foto di seberang masjid. Sebelum itu, ia terlebih dahulu mengantongi panjar supaya pengguna jasanya tidak "kabur". Dalam rentang waktu 15 menit, sang pengguna jasanya sudah menerima hasil foto dalam bentuk cetak.

Harga jasa foto di Masjid Raya Baiturrahman, yaitu Rp15 ribu berukuran 4 inci, Rp30 ribu berukuran 10 inci, dan Rp40 ribu berukuran 12 inci. Harga ini sudah termasuk biaya cetak. Ketika tahun-tahun awal bekerja, dalam sehari, Arul meraup uang Rp150-200 ribu.

Namun, pendapatannya sekarang sering tidak menentu. Bukan akibat pandemi COVID-19, tapi di era digital hampir semua orang memiliki telepon seluler berkamera sehingga bisa mengambil foto masing-masing. "Mungkin orang-orang seperti kami ini tidak terlalu dibutuhkan lagi," ujar Arul, dengan nada rendah.

***

Pengunjung mengabadikan dirinya dengan ponsel. Foto: Habil Razali/acehkini

Syamsuddin sudah kadung menjadi seorang fotografer masjid raya. Ia pernah berpikir meninggalkan pekerjaan yang telah dilakoni sejak 2012 silam itu. Namun, langkah itu urung terlaksana setelah ia menimbang-nimbang berulang kali. "Sekarang saya sudah berkeluarga, usia pun sudah tua. Tidak mungkin lagi mencari pekerjaan bergaji tetap," ujar pria 33 tahun ini.

Bila sehari saja Syamsuddin berhenti menawarkan jasa foto di Masjid Raya Baiturrahman, dapur rumahnya tidak bakal mengepul. Belum lagi kebutuhan sehari-hari yang lain. Karena itu, ia memilih bertahan sebagai fotografer keliling. "Dibanding tidak ada pendapatan sama sekali, lebih baik di sini, meskipun kurang," tuturnya.

Pendapatan Syamsuddin kini tergerus kamera ponsel. Alhasil, pengunjung tidak lagi membutuhkan juru foto bila hendak mengabadikan momen. Mereka sudah lihai mengambil foto sendiri menggunakan telepon seluler. "Sampai sore ini baru selembar foto yang tercetak," katanya, getir.

Syamsuddin bergegas pergi ketika azan Magrib terdengar melalui pengeras suara masjid. Ia menolak acehkini memotretnya. "Biarlah saya berada di belakang kamera saja," ujarnya sambil berlalu.

Di sudut lain, Arul terlibat obrolan dengan dua pengunjung: lelaki dan perempuan. Berselang beberapa saat, dua pengunjung itu berdiri membelakangi masjid. "Krek.. krek.. krek..," terdengar jepretan kamera Arul.

"Tidak usah dicetak ya Bang fotonya, kami perlu file mentahnya saja," sebut pria itu. Zaman sudah menggerus nasib fotografer keliling. []