Konten Media Partner

Gubernur Aceh: Warga Mulai Abai Terapkan Prokes Corona

ACEHKINIverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi warga Aceh saat wisata ke pantai di tengah pandemi corona. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi warga Aceh saat wisata ke pantai di tengah pandemi corona. Foto: Suparta/acehkini

Gubernur Aceh bersama unsur Forkopimda Aceh, mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kedisiplinan penerapan protokol kesehatan (Prokes) demi memutus mata rantai penyebaran virus corona.

“Harus kita ingat, covid belum berakhir. Rasa kehati-hatian jangan sampai berkurang. Harus lebih waspada,” kata Nova Iriansyah, Gubernur Aceh, saat menyampaikan pandangannya dalam rapat rutin secara online yang digelar Satgas COVID-19 Aceh, Rabu (6/1/2021). Rapat tersebut diikuti oleh Forkopimda Aceh, pimpinan SKPA, para bupati/wali kota, serta para tenaga kesehatan.

Kata Nova, masyarakat Aceh terlihat mulai abai terhadap penerapan Prokes. Di warung-warung kopi dan pusat perbelanjaan, masyarakat terlihat sudah tidak memakai masker dan menjaga jarak. Belum lagi dengan pesta-pesta perkawinan. Hal itu punya potensi terjadinya kembali peningkatan penularan virus corona.

Padahal dilihat dari angka, dalam sepekan terakhir, Aceh menjadi salah satu daerah dengan potensi penularan COVID-19 terendah. “Harus disadari bahwa belum ada strategi lain selain 3M dan 3T itu dalam mencegah corona,” kata Nova.

Nova mengatakan, penerapan praktik 3T (tracing, testing, treatment) sama pentingnya dengan penerapan perilaku 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak).

Pemerintah Aceh sendiri sejauh ini telah melakukan berbagai gebrakan untuk mensosialisasikan 3M dan 3T ini. Terbaru adalah Gerakan Tenaga Kesehatan Aceh Cegah COVID-19 atau ‘Gencar’ tahap 2. “Pada ‘Gencar’ tahap 1, Aceh berhasil menekan kasus di bawah 100. Pada ‘Gencar’ tahap 2 Pemerintah Aceh bisa menekan kasus di bawah 20,” kata Nova.

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah bersama Jubir Satgas COVID-19 Aceh, Saifullah Abdulgani saat mengikuti rapat secara daring.

Selain itu, Nova meminta agar bupati dan wali kota yang daerahnya telah membuka izin sekolah tatap muka, untuk rutin melakukan sidak. Kunjungan yang dilakukan harus tanpa keprotokolan, atau bersifat rahasia. Dengan itu, pimpinan daerah bisa langsung mengetahui apa sekolah menerapkan Prokes dalam penerapan belajar tatap muka. “Yang kita kejar bukan sekedar angka-angka, tapi kalau goncangan COVID-19 terjadi lagi gara-gara kita abai,” katanya.

Sementara itu, Kapolda Aceh, Irjen Polisi Wahyu Widada mengajak seluruh pihak melakukan evaluasi terkait berbagai tindakan dan program yang telah dijalankan sejauh ini. Memang melihat angka, kasus positif di Aceh menurun. Namun jika melihat kondisi saat ini, di mana masyarakat mulai tidak patuh Prokes, angka itu bisa saja merangkak naik dalam waktu cepat.

Masyarakat kata Wahyu, memang mengetahui arti dari 3M. Namun, pada pelaksanaannya masyarakat jarang menerapkannya. “Ini PR kita bersama. Bagaimana menyadarkan masyarakat. Pesannya sampai, tapi tetap masyarakat tidak memakai masker dan berkerumun. Butuh langkah kongkrit dan agak keras mungkin,” katanya.

Menurutnya, angkutan umum dan pusat keramaian seperti warung kopi juga menjadi tempat yang warga tidak mematuhi Prokes. Irjen Wahyu meminta, agar pimpinan daerah dapat memberikan sanksi tegas. Sanksi bukan sebatas menyasar pengunjung/pengguna, melainkan pemilik angkutan dan pemilik warung kopi. “Harus kita evaluasi. Kalau tidak bisa lakukan Prokes, cabut izinnya,” kata Kapolda Aceh. []