Hikayat Musang: Agar Anekdot Aceh Tak Jadi Kisah Usang

Konten Media Partner
23 Juli 2022 17:21
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
ADVERTISEMENT
Kisah Nabi Adam ini barangkali tidak ditemukan dalam kitab suci. Tapi saya membacanya dalam Hikayat Musang, sebuah anekdot Aceh.
Buku hikayat musang. Foto: Habil Razali
zoom-in-whitePerbesar
Buku hikayat musang. Foto: Habil Razali
Mula-mula diceritakan pada masa awal kehidupan manusia di bumi. Adam dan anak-anaknya tidak berambut. Kondisi ini membuat Adam diprotes anak-anaknya karena kepanasan saat tersorot matahari sebab tak berambut dan silau karena tiada bulu mata. Adam diminta bermohon ke Tuhan supaya mereka dianugerahi rambut.
ADVERTISEMENT
Permintaan itu dikabulkan Tuhan sehingga mengutus malaikat Jibril ke Arab untuk mengirim rambut. Adam memberi titah ke anak-anaknya supaya mengambil rambut lalu berkelana ke seluruh dunia.
Pengambil pertama tersebutlah Sam. Rambut berwarna diambil semuanya. Ia lantas pergi ke tanah Eropa. Anak Adam lain berkulit cokelat memilih rambut hitam, lalu berkelana ke jazirah Arab.
Ham mengambil rambut keriting dan acak-acakan. Karena kecewa dengan bentuk rambut itu, ia menempelnya di kepala tanpa rasa ikhlas kemudian pergi ke Afrika.
Anak Adam dari bangsa Cina datang paling telat sehingga rambut hampir habis. Beberapa helai dia taruh di bawah bibir dan sebagiannya di kepala. Karenanya anak ini menangis sampai matanya bengkak sehingga menjadi sipit seperti sekarang.
ADVERTISEMENT
Kisah ini tentu saja bukan riwayat nyata. Ini sebuah anekdot pembuka buku Hikayat Musang, Kumpulan Kelakar Orang Ac/neh. Bandar Publishing, penerbit di Banda Aceh, merilis karya Riazul Iqbal Pauleta ini Maret 2022.

Judul: Hikayat Musang Penulis: Riazul Iqbal Pauleta ISBN: 978-623-5669-80-9 Penerbit: Bandar Publishing Tahun terbit: Maret 2022 Tebal: xvi+164 halaman, ukuran 13x19 sentimeter

Rio, begitu dia disapa, menghimpun 24 cerita-cerita lucu bangsa Aceh dalam bentuk tulisan. Selama ini warita itu hanya didistribusikan secara tutur: dari mulut ke mulut. Anekdot memang jadi cara orang Aceh menertawakan diri sendiri di tengah kehidupan yang berat saat masih dan sesudah konflik.
Penulis buku Hikayat Musang, Riazul Iqbal Pauleta alias Rio. Foto: dok. pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Penulis buku Hikayat Musang, Riazul Iqbal Pauleta alias Rio. Foto: dok. pribadi
Perang puluhan tahun melanda Aceh tidak menghilangkan selera humor orang-orangnya. Cerita kesepuluh Hikayat Musang misalnya menuturkan sejumlah kekerasan yang dialami rakyat Aceh dengan jenaka. Latarnya salah paham masyarakat Aceh yang kurang menguasai bahasa Indonesia saat berhadapan dengan tentara.
ADVERTISEMENT
Suatu malam warga yang berjaga di pos ronda didatangi tentara. Mulanya tentara menanyakan jumlah orang berjaga di pos itu. Seseorang di antara warga menjawab, "Tidak kubilang!". Jawaban itu dibalas tamparan oleh tentara.
Pertanyaan yang sama diulang lagi oleh tentara dan jawaban sama juga diulang oleh seseorang itu. Dan, tentara kembali menamparnya. Padahal maksudnya dia tidak menghitung–yang dalam bahasa Aceh berarti bileung. Namun, secara asal diterjemahkan bilang ke bahasa Indonesia.
Dua kali tamparan itu membuat dia dan sejumlah orang lain di Aceh yang bernasib serupa menderita radang telinga sehingga sulit mencari rezeki. Dan itulah diduga alasan Aceh menjadi daerah miskin.
Musmarwan Abdullah, penulis sejumlah buku asal Pidie, menyebut Rio terlalu nekat menggembalakan imajinasinya untuk melabrak batas pemisah wilayah historis para pemilik kekhususan transenden (di luar kesanggupan manusia) yang bahkan nama mereka disebutkan dalam kitab-kitab suci.
ADVERTISEMENT
"Jauh sebelum Rio nekat meliterasikannya dalam sebuah buku, ada kebudayaan yang jauh lebih dulu telah menjadikannya bahkan nyaris sebagai cerita rakyat yang diwariskan bersalin-salin generasi," tulis Musmarwan dalam kata pengantarnya.
Bagi Musmarwan belum seberapa apa yang Rio lakukan dengan menulis sosok nabi sebagai cerita rekaan. Sebab, Ali Akbar Navis pernah menghadirkan Tuhan dalam cerita pendeknya berjudul "Robohnya Surau Kami".
Manusia sebagai hamba Tuhan, menurut Musmarwan, boleh tersedak dalam segala gerak, tapi daya khayal dan kreativitas imajinasinya tidak bisa dikungkung. "Bukan hanya oleh otoritas kekuasaan, agama, adat dan tradisi, bahkan oleh dirinya sendiri."
Musmarwan meyakini genre fiksi jadi jalan terakhir manusia membebaskan diri bila semua ruang menjadi wilayah pantangan. Misalnya, ketika masyarakat ditindih tekanan hidup dan depresi kolektif penduduk militer asing, mereka harus menemukan jalan untuk bertahan.
ADVERTISEMENT
"Seandainya pun badan kurus kering dan daya nalar sudah mati, tapi ketika perang usai mereka tetap bisa menemukan dirinya dalam keadaan semuanya masih bisa diperbaiki," tulis Musmarwan.
Cerita lucu orang Aceh yang agak gelap (dark joke) tersebut dalam pandangan Musmarwan bukan saja keisengan tapi obat yang diminum tanpa rasa pahit.
Rio dalam membukukan anekdot ini punya keinginan agar cerita fiksi yang kerap dituturkan kalangan tua di Aceh itu tidak usang. Generasi muda Aceh yang mulai sibuk dengan telepon pintar sehingga tidak bisa mendengarnya dari pos jaga barangkali bisa membacanya.
"Saya merasa bertanggung jawab menulis ini, walaupun cerita di dalamnya tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya," tulis Rio. []
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020