Konten Media Partner

Inong, Bayi Gajah Sumatera yang Terjebak Lumpur di Aceh Mati dalam Perawatan

ACEHKINIverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bayi Gajah Sumatera yang diberi nama Inong saat mendapat perawatan intensif dari tim medis BKSDA Aceh di PKG Saree, Aceh Besar, Senin (15/2), usai terjebak lumpur di Tiro, Pidie. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Bayi Gajah Sumatera yang diberi nama Inong saat mendapat perawatan intensif dari tim medis BKSDA Aceh di PKG Saree, Aceh Besar, Senin (15/2), usai terjebak lumpur di Tiro, Pidie. Foto: Suparta/acehkini

Seekor bayi gajah Sumatera yang diselamatkan dari kubangan lumpur di Kecamatan Tiro, Pidie, Aceh, pada awal Februari lalu, mati. Bayi gajah betina yang diberi nama Inong tersebut mati ketika sedang menjalani perawatan di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Saree, Aceh Besar.

Gajah Inong awalnya merupakan anak gajah liar berusia sekitar 3 minggu yang diselamatkan oleh masyarakat setelah hampir seminggu terjebak dalam kubangan lumpur di Desa Panton Bunot, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Saat dievakuasi ke PKG Saree, bayi gajah itu dalam keadaan sangat lemah, malnutrisi, luka pada kedua bola mata, kaki depan kiri dislokasi, kaki belakang lumpuh serta prolapsus pada pusar dan kelaminnya sehingga saat urinasi meronta kesakitan dan urine berwarna kemerahan.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Agus Arianto menyampaikan, gajah Inong ditemukan mati pada Rabu (3/3) sekitar pukul 06.00 WIB. Sebelum dinyatakan mati, kondisi bayi gajah Inong sempat membaik setelah dilakukan perawatan secara intensif di PKG Saree.

"Kematian bayi gajah Sumatera yang diberi nama Inong terjadi pada Rabu (3/3) sekitar pukul 06.00 WIB, yang sedang dalam perawatan intensif di PKG Saree Aceh Besar," ujar Agus kepada jurnalis, Jumat (5/3).

Tim medis BKSDA Aceh merawat Inong, bayi gajah Sumatera di PKG Saree, Aceh Besar, usai diselematkan dari kubangan lumpur di Tiro, Pidie. Foto: Suparta/acehkini

Menurut Agus, setelah dilakukan perawatan secara intensif selama beberapa hari kondisi luka pada matanya dan prolapsus mulai membaik kecuali mata kiri masih belum berfungsi. Warna urine juga mulai normal dan telinga kirinya mulai bergerak dari yang sebelumnya tidak bergerak sama sekali, dan Inong mulai lebih aktif bergerak baik saat terbaring maupun saat satwa diberdirikan dengan alat bantu topang.

"Kondisi satwa kembali menurun pada 1 hingga 2 Maret 2021, tim medis terus berupaya melakukan treatment sampai saat kematian satwa," sebutnya.

Agus menambahkan, berbagai upaya intensif telah dilakukan untuk membantu mengurangi rasa sakit, pengobatan infeksi luka dan melatih merangsang otot-otot serta persyarafan bayi gajah dengan menggunakan alat bantu topang. Pemberian asupan nutrisi berupa susu formula sebagai pengganti ASI juga telah dilakukan.

Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim medis BKSDA Aceh, terdiri dari drh. Rosa Rika Wahyuni, drh. Ridwan, dan drh. Rika Marwati, kematian gajah Inong dikarenakan gangguan sistem pencernaan, organ jantung, dan abmormalitas.

"Organ jantung di mana konsistensi otot jantung mengeras dan dinding atrium kiri mengalami penebalan sehingga mengakibatkan penyempitan ruang atrium kiri dan jantung kesulitan memompa darah," jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, gangguan pada sistem pencernaan ditemukan hemoragi pada penggantung usus (mesentrium). "Abmormalitas pada tulang kaki dan persendian kaki depan kiri karena dislokasi," sebut Agus.

kumparan post embed