kumparan
8 Oktober 2019 11:51

Kala Siswa Aceh Siaga Bencana, Bersiap Diri di Tanah Tsunami

Siswa mengevakuasi rekannya yang luka-luka saat mengikuti simulasi gempa dan tsunami. Foto: Suparta/acehkini
Rangkaian simulasi siaga bencana digelar Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Baitussalam, Kajhu, Aceh Besar, Selasa (8/10).
ADVERTISEMENT
Dalam simulasi itu gempa besar terjadi pukul 09.45 WIB di kawasan laut Aceh. Lewat pengeras suara, pihak sekolah meminta para siswa berkumpul di halaman. Ratusan siswa berlarian ke luar ruangan, berkumpul di lapangan sekolah yang luas.
Saat berlarian, sebagain siswa terjatuh dan luka. Mereka ditolong rekannya, beberapa terpaksa ditandu. Selang 10 menit kemudian, sirene terdengar mengaung keras. Anak-anak diarahkan berlari menyelamatkan diri ke lokasi aman, sebuah musala di Desa Kajhu, Kacamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.
Tak lama kemudian, pihak sekolah menerima informasi dari BMKG. Tsunami tak terjadi, para pelajar kembali ke sekolah. Mereka kembali dibahani pengetahuan bencana.
“Ada 300 lebih siswa dan para guru yang ikut serta. Ini untuk menanamkan pengetahuan bencana kepada mereka,” kata Faisal Ilyas, panitia simulasi kepada acehkini, Selasa (8/10).
Seorang siswa pingsan saat mengikuti simulasi gempa dan tsunami di Kajhu, Aceh Besar. Foto: Suparta/acehkini
Pengetahuan itu penting bagi siswa di sana. Mengingat kawasan Kajhu dan sekitarnya pernah rata diamuk tsunami pada 26 Desember 2004. Daerah itu dekat dengan laut, menjadi salah satu area dengan kerusakan terparah saat bencana dulunya.
ADVERTISEMENT
Sebagian siswa tidak merasakan tsunami besar itu, tetapi banyak mendengar dari kerabat dan orang tuanya. “Karena wilayah rawan, mereka harus diajarkan pengetahuan siaga bencana, fokus kepada gempa dan tsunami,” jelas Faisal.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBA, Bobby Syahputra, mengatakan simulasi kerap digelar di seluruh Aceh. Kegiatan hari ini di SMP 1 Baitussalam, digelar bersamaan dengan simulasi di SMP 11 Banda Aceh, di kawasan Lamjabat.
Selain di Banda Aceh dan Aceh Besar, simulasi serupa menyasar para siswa juga digelar di Meulaboh, Aceh Barat. “Ada beberapa lokasi, selain sekolah juga kampus UIN Ar-Raniry dan Hotel Kyriad, Banda Aceh,” kata Bobby.
Simulasi bencana tidak sepenuhnya tentang siaga gempa dan tsunami. Tetapi dibedakan sesuai kebutuhan dan data ancaman kawasan yang ada. Misalnya, daerah rawan banjir akan digelar simulasi banjir, seperti pernah digelar di kawasan Trumon, Aceh Selatan, dua bulan lalu.
ADVERTISEMENT
Menurut Bobby, selain difasilitasi BPBA, beberapa kabupaten/kota juga menggelar hal serupa di bawah koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. “Kami juga ikut support untuk beberapa kegiatan di daerah,” katanya.
Siswa SMP 1 Baitussalam, Aceh Besar mengikuti simulasi gempa dan tsunami. Foto: Suparta/acehkini
Kepala Pelaksana BPBA, Sunawardi, mengungkapkan pentingnya simulasi di Aceh sebagai wilayah rawan bencana. “Beberapa bencana yang telah terjadi menimbulkan bencana baru lainnya (bencana turunan) yang sama-sama memiliki dampak,” katanya.
Aceh tercatat pernah mengalami gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Bencana mengakibatkan sekitar 200 ribu jiwa meninggal dunia. Hampir setengah juta warga kehilangan tempat tinggal, hidup di pengungsian. []
Reporter: Adi Warsidi
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan