Konten Media Partner

Keliling Tinjau Program BEREH, Jalan Terang Menuju Aceh Unggul

ACEHKINIverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekda Aceh, Taqwallah (kiri) dan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Rachmat Fitri (pakai peci) saat meninjau salah satu sekolah. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Sekda Aceh, Taqwallah (kiri) dan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Rachmat Fitri (pakai peci) saat meninjau salah satu sekolah. Foto: Suparta/acehkini

Pemerintah Aceh sedang gencar mengkampanyekan penerapan program bersih, rapi, estetis, dan hijau (BEREH). Bermula di lingkaran dinas-dinas provinsi, kini BEREH diberlakukan di Puskesmas, meunasah di tingkat gampong, hingga ke sekolah-sekolah di pelosok Aceh.

Dinas Pendidikan Aceh ikut mewujudkan penerapan BEREH di sekolah-sekolah. Penting dijalankan di lembaga pendidikan tersebut, untuk mewujudkan generasi Aceh unggul di masa depan.

Medio Oktober 2019, Rachmat Fitri begitu semangat melakukan kunjungan kerja ke semua kabupaten dan kota di Aceh. Di setiap daerah yang didatanginya, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, itu mengecek kebersihan, kerapian, estetis, dan kehijauan di sekolah-sekolah.

Kunjungan dilakukan Rachmat bersama Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah, sejak 10 hingga 21 Oktober 2019. Lawatan maraton dalam jangka sebelas hari penuh itu merupakan bagian dari blusukan mengecek program BEREH.

Rombongan bergerak dari Banda Aceh melintasi jalur Pantai Barat Selatan Aceh hingga ke Singkil. Dari sana, mereka menembus ke Aceh Tenggara dan mengunjungi jalur tengah Aceh hingga turun ke Aceh Utara. Dari Aceh Utara, rombongan bergerak mengikuti Pantai Timur Utara Aceh, hingga ke Aceh Tamiang.

Dari ujung perbatasan dengan Sumatra Utara itu, mereka bergerak ke Banda Aceh. Setiba di Kutaraja, rombongan kembali terbang ke Sinabang dan Sabang.

Visitasi dinas itu bertajuk percepatan penerapan program BEREH di sejumlah fasilitas umum, seperti sekolah, puskesmas, kantor camat, masjid, dan meunasah di seluruh Aceh.

Di setiap kabupaten, Taqwallah bersama Rachmat Fitri memeriksa satu persatu ruangan di sekolah-sekolah untuk memastikan Bereh benar-benar berjalan hingga pelosok daerah. Setiap sudut ruangan diperiksa kebersihan dan kerapian. Tidak ada yang luput dari perhatian mereka, termasuk kamar mandi.

***

Taqwallah memaparkan program bereh kepada para guru di Aceh. Foto: Suparta/acehkini

Gerakan BEREH bermula atas inisiatif Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Program ini pada mulanya dilaksanakan oleh Sekda Aceh sebagai bagian dari tugas meningkatkan kinerja aparatur sipil negara (ASN). Kala itu implementasinya pun hanya di lingkungan kerja Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA).

Seiring pentingnya program BEREH, Pemerintah Aceh pun memperluas ruang lingkup penerapan program ini ke semua daerah di Aceh. Dengan dukungan bupati atau wali kota, serta Sekda kabupaten/kota di Aceh, maka program BEREH dijalankan untuk meningkatkan kinerja agar pelayanan publik semakin maksimal dan meluas.

Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah, mengatakan program BEREH diterapkan Pemerintah Aceh sebagai upaya menjadikan Aceh daerah unggul di masa depan. Anak yang lahir di masa sekarang, menurutnya, adalah generasi yang nantinya akan memimpin Aceh. Karenanya mereka perlu dijaga demi kemajuan kelak.

“Para kepala sekolah dan guru, camat, hingga kepala desa adalah mereka yang telah diberikan salah satu slot masuk surga. Namun tiket itu bisa gugur jika layanan bagi masyarakat tidak maksimal. Semua pelayan masyarakat harus dapat memberikan layanan terbaik sehingga tiket surga itu memang benar-benar menjadi hak mereka,” kata Taqwallah saat lawatan kala itu.

Dia menyebutkan, sedikitnya ada tiga hal yang harus dipenuhi oleh pelayan masyarakat ini, yaitu sabar, komunikatif, dan cita rasa. Sehingga akan lahir pelayanan yang maksimal kepada masyarakat.

“Kita harus sabar dalam memberi pelayanan. Sebagai pemimpin kita harus komunikatif dalam melayani ke bawah dan kita harus punya cita rasa. Tidak ada yang langsung sempurna. Semua perlu perbaikan. Jangan pernah kecewa dengan yang gagal. Gagal itu adalah pembelajaran,” tuturnya.

Taqwallah saat meninjau sekolah bersama Rachmat Fitri. Foto: Suparta/acehkini

Taqwallah berharap dengan program BEREH itu, nantinya akan membangun sikap keteladanan oleh Sekda kabupaten/kota di Aceh. Menurutnya, pada saat ASN menjadi teladan, maka manfaat besar akan dipetik langsung oleh masyarakat dalam wujud pelayanan publik maksimal.

"Dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, saya kerap terhadirkan visualisasi rakyat yang mendapatkan haknya bersebab produktivitas ASN yang berkerja di lingkungan tempat kerja yang makin bereh (bagus)," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Rachmat Fitri, menyambangi sekolah-sekolah untuk memastikan program BEREH berjalan dengan baik di daerah, bahkan pelosok Aceh.

Saat ini, BEREH telah menggerakkan usaha untuk berbenah, tidak terkecuali pada lingkungan sekolah di seluruh Aceh. Sebanyak 524 SMA dan 74 SLB di Provinsi Aceh yang dikelola oleh Dinas Pendidikan Aceh. Bukan hanya itu, Disdik Aceh juga mengelola 217 SMK yang tersebar di seluruh Aceh.

“Sekolah sebagai tempat belajar harus terlihat indah dan rapi agar guru dan siswanya nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran,” kata Rachmat.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Rachmat Fitri.

Dia telah menginstruksikan kepada 20 Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh Kabupaten/Kota serta seluruh kepala sekolah untuk membenahi kondisi sekolah di daerahnya masing-masing. “Dengan budaya bersih, kita akan sehat dan pekerjaan menjadi nyaman untuk dilaksanakan. Dan saya ingatkan kepada guru-guru, awali aktivitas dengan melaksanakan Shalat Subuh berjamaah, sehingga apapun yang kita inginkan saya yakin Allah SWT meridhainya,” ujarnya.

Selain itu, Rachmat juga meminta agar ASN di lingkungan Dinas Pendidikan Aceh agar sabar dan bercita rasa dan komunikatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Kalau sekolah bersih dan menarik, maka akan menambah kenyamanan bagi kita dalam menjalankan proses pembelajaran disini. Kepala sekolah harus menjadi motor penggerak dalam mewujudkan program Bereh ini kepada warga sekolah lainnya,” ujarnya.

Sebelum kembali, dia berpesan kepada seluruh dewan guru dan kepala sekolah, agar saat membangun ruang kepala sekolah tidak boleh lebih bagus dari ruang dewan guru, begitu juga ruang dewan guru tidak boleh lebih bagus dari ruang siswa.

“Jangan di balik, ini sekarang banyak yang membaliknya. Adanya fasilitas sekolah ini semua karena adanya murid, guru, dan kurikulum. Jika tidak maka semua ini tidak mungkin ada. Barang yang diberikan oleh pemerintah ini tolong dijaga dan dirawat semua,” ungkapnya.

Saat meninjau salah satu sekolah di Langsa. Dok. Dinas Pendidikan Aceh

Di sejumlah sekolah, Kadisdik Aceh masih menemukan beberapa fasilitas belajar yang sudah mulai rusak dan tidak terawat. Sehingga membuat pemandangan kurang indah dipandang mata.

“Rawatlah sekolah ini seperti rumah kita sendiri, karena lebih dari setengah umur kita habiskan di tempat ini dan anggaplah ini sebagai ibadah kita kepada Allah. Barang yang tidak terpakai lagi segera dibuang dan setiap dokumen penting diletakkan di tempatnya,” ujarnya.

Di sekolah-sekolah, Rachmat juga memantau sejumlah fasilitas belajar seperti kursi, meja, jendela, pintu, dan atap pada setiap ruangan belajar dan ruangan lainnya.

Rachmat bahkan mengajak kepala sekolah berkeliling di lingkungan sekolah sembari memberikan saran dan masukan agar lingkungan sekolah dapat lebih indah dan rapi. “Kepala sekolah (Kepsek) jangan sering tugas keluar kalau tugasnya di sekolah masih belum siap. Kepsek harus menjalankan fungsi manajerial bagi seluruh warga sekolah dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Jika nantinya tetap tak ada perubahan, Rachmat Fitri meminta kepala sekolah meletakkan jabatannya karena dianggap tidak mampu menjalankan roda organisasi sekolah dengan baik. Menurutnya peningkatan mutu pendidikan itu dimulai dari sekolah yang nyaman bagi seluruh warganya.

“Kami akan terus turun untuk memantau sekolah-sekolah yang ada di kota dan desa dengan waktu yang tidak tentu. Jika kondisinya tidak lebih baik maka kita akan memberikan sanksi,” ungkapnya.

Taqwallah memaparkan program BEREH kepada pegawai. Foto: Humas Aceh

Meski demikian, Kadisdik Aceh merasa puas sudah melihat langsung kondisi sekolah-sekolah di penjuru pelosok Aceh. Dia merasa masih ada kelemahan yang perlu diperbaiki bersama-sama ke depannya. Dia pun memberikan apresiasi terhadap sekolah yang sudah menerapkan program Bereh sesuai dengan perintah dari Pemerintah Aceh melalui Sekda Aceh.

“Tetaplah menjaga lingkungan sekolah ini supaya terlihat bersih, rapi, indah dan nyaman. Kerjasama di antara Cabang Dinas Pendidikan, Pengawas, komite, Kepala Sekolah, guru, dan siswa merupakan energi besar untuk mewujudkan Aceh Carong dan Aceh Hebat,” ujarnya.

Rachmat Fitri bersama sejumlah pejabat Dinas Pendidikan Aceh. Dok. Dinas Pendidikan Aceh

Saweue Pulo Aceh

Setelah mengecek program Bereh di sekolah-sekolah daratan Aceh, Dinas Pendidikan kembali mengecek program Bereh pada sekolah di pulau ujung barat Indonesia, yaitu Pulo Aceh.

Kunjungan itu dilakukan Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PKLK, Zulkifli didampingi Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, Lila Rosnilawati. Lawatan itu bertajuk Program Saweu Pulo Aceh, pada Rabu dan Kamis (6-7/11/2019).

Kabid SMA dan PKLK Zulkifli bersama para pengawas dan kepala sekolah SMA se-Aceh Besar turun langsung memimpin kegiatan gotong royong bakti sosial yang dipusatkan di SMAN 1 Pulo Aceh yang terletak di Pulau Nasi.

“Kami di sini untuk mengajak para guru dan siswa yang ada di daerah kepulauan untuk dapat menerapkan program Bereh. Hal ini sesuai dengan program dari Sekda Aceh yang telah diterapkan di seluruh Aceh,” ujarnya.

Selain itu, para rombongan juga ikut melaksanakan gotong royong dan menanam sejumlah pohon dan bunga di lingkungan sekolah. Hal itu diyakini dapat memberikan kenyamanan pada saat dilaksanakan proses pembelajaran di sekolah.

“Selama dua hari di sini, kami ingin merasakan perjuangan yang dialami oleh guru-guru yang sebagian besarnya berasal dari luar pulau Aceh,” ujarnya.

Dinas Pendidikan Aceh saat Saweu Pulo Aceh. Dok. Dinas Pendidikan Aceh

Zulkifli menambahkan pihaknya berkomitmen penuh melaksanakan program safari subuh berjamaah di setiap daerah yang dikunjungi, hal itu seperti yang sudah dijalankan oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh pada setiap kegiatan beliau di daerah.

Tanda-tanda kesuksesan gerakan Bereh sudah mulai terlihat. Selain sukses diterapkan di lingkungan SKPA, kini mulai juga diterapkan di beberapa puskesmas dan kantor kecamatan.

Dengan dukungan ASN yang berkinerja baik, semakin maksimal dalam memberi pelayanan publik, maka upaya menghadirkan inovasi yang didukung teknologi, atau usaha mewujudkan Aceh Smart Province makin mudah serta cepat diterapkan dalam kerja nyata melayani untuk membangun daerah. [adv]

kumparan post embed