Kemiskinan di Aceh: Perkara Lama yang Menanti Tuntas

Konten Media Partner
5 Agustus 2022 17:36
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Area persawahan di Aceh Besar. Foto: Abdul Hadi/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Area persawahan di Aceh Besar. Foto: Abdul Hadi/acehkini
ADVERTISEMENT
Meski musim panen padi baru selesai beberapa bulan lalu, Suwaibah sudah kelimpungan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Petani sawah di pedalaman Kabupaten Pidie, Aceh, ini terpaksa meminjam duit kerabat dekatnya.
ADVERTISEMENT
"Tidak ada lagi hasil panen yang tersisa," kata Suwaibah, nama samaran wanita 47 tahun ini, kepada acehkini, Jumat (5/8).
Gabah hasil panen sebelumnya telah ludes dijual untuk menutupi utang, termasuk menebus ongkos sewa traktor untuk bajak sawah. Sebagaimana lazimnya petani sawah di Pidie, Suwaibah tidak langsung bayar biaya itu saat musim tanam padi. "Seringnya bayar saat panen," ujarnya.
Duit penjualan gabah juga dipakai untuk bayar utang pupuk dan modal lainnya saat merawat padi. Karenanya, sawah seluas 1 naleh hitungan ukuran Aceh atau setara 1/3 hektare itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Suwaibah.
"Kadang-kadang beras juga harus beli atau utang," kata perempuan yang turut menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) ini.
ADVERTISEMENT

Yang Miskin karena Beras

Suwaibah hanya satu dari 806,82 ribu penduduk Aceh yang hidup di bawah garis kemiskinan per Maret 2022. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh yang dirilis 15 Juli 2022, komoditi makanan penyumbang kemiskinan terbesar di desa atau kota adalah beras. Disusul rokok dan ikan tongkol hingga tuna.
Adapun nomakanan yang turut mempengaruhi kemiskinan berupa perumahan, bensin, dan listrik.
Jumlah penduduk miskin yang tinggal di pedesaan seperti Suwaibah menurut BPS 613,49 ribu orang. Angka tersebut tentu lebih banyak kalau dibandingkan penduduk miskin di perkotaan 193,32 ribu orang. Untungnya, BPS mencatat kemiskinan di Aceh per Maret lalu itu turun 43,3 ribu orang dari jumlah 850,26 ribu orang per September 2021.
Potret pedagang sayur-mayur di Aceh. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Potret pedagang sayur-mayur di Aceh. Foto: Suparta/acehkini
Dalam menghitung kemiskinan, BPS memakai konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Karenanya, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.
ADVERTISEMENT
Adapun garis kemiskinan di Aceh per Maret 2022 sejumlah Rp 579.227 per kapita per bulan. Artinya, penduduk dengan rata-rata pengeluaran di bawah jumlah itu dalam sebulan tergolong sebagai penduduk miskin.
Komoditi beras yang mempengaruhi garis kemiskinan berbanding terbalik dengan luas areal persawahan di Aceh. Misalnya Kabupaten Pidie nomor kedua daerah penduduk miskin terbanyak di Aceh 88,53 ribu orang per Maret 2021 justru memiliki luas panen padi kedua terluas di Aceh pada 2021 yaitu 35.949,38 hektare.
Hal serupa juga dialami Aceh Utara. Daerah dengan penduduk miskin paling besar di Aceh 109,49 ribu orang per Maret 2021 juga menjadi daerah dengan luas panen padi paling besar di Aceh 62.689,44 hektare pada 2021.
ADVERTISEMENT
Bila merujuk data ini, apakah sebagian besar petani di Aceh juga bernasib seperti Suwaibah?

Fokus Tekan Kemiskinan

Kemiskinan di daerah bekas konflik kini memang jadi sorotan semua pihak. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian misalnya membebankan Penjabat Gubernur Aceh Achmad Marzuki untuk menekan jumlah penduduk miskin di Aceh. "PJ Gubernur Aceh untuk melakukan upaya dalam mengurangi kemiskinan…," kata Tito saat pelantikan Pj Gubernur, Rabu (6/7) lalu.
Hal serupa diulang Achmad Marzuki ketika melantik sejumlah penjabat bupati dan wali kota beberapa hari kemudian. “Lakukan upaya-upaya dalam mengurangi angka kemiskinan," ujarnya. []
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·