Konten Media Partner

Keukarah, Kue Tradisional Aceh yang Wajib Ada Saat Lebaran Tiba

ACEHKINIverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kue karah, mirip sarang burung. Foto: Khiththati/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Kue karah, mirip sarang burung. Foto: Khiththati/acehkini

Mukhlisa, seorang pembuat kue karah khas Aceh itu terlihat sibuk mengaduk adonan tepung sambil bercampur air, sampai takarannya pas untuk membuat kue karah atau keukarah. Bentuknya rumit, mirip sarang burung, butuh ketelitian dan ketekunan tingkat tinggi membuatnya.

Rumitnya pola kue karah, membuat tak semua orang bisa membuatnya, perempuan yang akrab disapa Lisa itu mengakui telah 15 tahun lebih menjadi pembuat kue karah. Lisa belajar membuat kue dari ibunya, (Alm) Zainabun, yang dikenal sebagai pembuat kue tradisional Aceh di kawasan Tungkop, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Lisa sendiri sudah belajar membuat kue tersebut sejak tahun 2003.

Ibunya meninggal beberapa tahun lalu, Lisa meneruskan usahanya. Terus menekuni keahlian tersebut, membuatnya selalu banjir pesanan kue karah, terutama setiap menjelang hari raya Idul Fitri.

"Ini belum sempat istirahat, mulai dari pagi tadi," kata Lisa kepada acehkini, Minggu (2/6).

Ia biasanya dibantu oleh seorang saudaranya. "Hari ini dia ke pasar, buat beli beberapa bahan makanan," sambungnya lagi.

Cara membuat kue karah. Foto: Khiththati/acehkini

Kue ini masih digemari hingga kini oleh warga Aceh. Tak heran jika bertamu lebaran, kue karah masih mudah ditemui mengisi toples di meja-meja. Kue tradisional ini juga dikenal sebagai kue-kue hantaran dalam pesta-pesta perkawinan.

Terbuat dari campuran tepung beras, gula dan air, rasanya renyah dan gurih. Juga rapuh saat digigit, dan tahan lama. Cetakan kue ini terbilang cukup tradisional. Terbuat dari tempurung kelapa yang sudah dihaluskan dan diberi beberapa lubang kecil. Umumnya berbentuk 2 macam, bulat gulung seperti pipa dan bulan sabit.

Adonan dimasak dalam minyak panas, bersamaan dengan membentuk polanya yang rumit dan cantik. Proses inilah yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan ketelatenan. Karena sedikit keliru, adonan akan hangus.

Setelah jadi, kue karah berbentuk cokelat mempunyai pola seperti jaring-jaring atau tali-temali yang semrawut. Mirip sarang burung, sebagian orang dari luar Aceh mengatakannya sebagai kue sarang burung.

Lisa membuat kue karah ditemani anaknya, keahlian warisan ibu. Foto: Khiththati/acehkinii

Lisa mengakui, pesanan kue karah dari pelanggan mulai sebelum Ramadan. Ia menumbuk sendiri tepung yang ada. "Kalau bahan dari orang takutnya bisa berbeda, jadi kami menyiapkannya semua sendiri, termasuk menumbuk beras untuk menjaga kualitas," katanya.

Totalnya, mereka menumbuk 100 kilogram tepung beras. Tepung ditumbuk menggunakan jingki atau penumbuk tradisional. Setelah itu tepung dijemur agar betul-betul kering. Proses selanjutnya tepung diayak menggunakan selendang panjang, yang seratnya kecil.

"Untuk satu kilogram tepung, memerlukan 1 kilogram gula dan 1 kilogram minyak buat menggoreng," katanya.

Adonan dan cetakan kue karah, khas Aceh saat lebaran. Foto: Khiththati/acehkini

Dia membuat kue pesanan lebaran sejak Ramadan sampai dua hari menjelang Idul Fitri. "Dua hari menjelang hari raya, kami sudah berhenti (membuat kue), selain karena tepung terbatas, juga lelah," jelas Lisa.

Saat ini kue karah buatannya sudah banyak dikirim ke luar Aceh. "Permintaan pasar banyak, tapi tidak semuanya kita ambil," ungkapnya. Mereka biasanya menerima pesanan dari langganan atau kerabat mereka. Tidak ada yang dijual di pasar.

Harga kue karah buatannya dibanderol Rp 100 ribu untuk ukuran kotak besar dengan rasa original, dan Rp 120 ribu untuk rasa wijen. Kue ini sangat nikmat bila dinikmati dengan teh maupun kopi hangat. []

Memasak dan membentuknya di atas minyak mendidih. Foto: Khithathati/acehkini

Reporter: Khiththati