Kimchi, Makanan Paling Dicintai Warga Korea Selatan

Makanan apa yang paling dicintai orang Indonesia? Dari beberapa survei yang dilakukan, menempatkan sambal di posisi pertama. Hal yang sama juga berlaku di negara Korea Selatan. Warga di negeri gingseng ini sepertinya tidak bisa hidup tanpa kimchi.
Saat liburan, biasanya mereka akan membawa makanan ini sebagai pelengkap. Sama dengan sambal ada beragam jenis, kimchi juag tercipta sesuai dengan kebutuhan dan musim. kuniner ini hadir hampir di setiap acara makan, tak peduli pagi, siang, malam atau bahkah ketika menyantap mie saat sengang, dan sebagai cemilan.
Meja makan di Korea tak lengkap tanpa kimchi. Ada saja yang dihidangkan sebagai banchan atau makanan pendamping. Bahannya bisa bermacam-macam, paling umum yang digunakan adalah dari sawi putih, kubis, lobak Korea hingga timun sampai daun bawang. Ada yang harus melalui proses fermentasi, ada yang tidak. Bumbunya juga bisa berbeda-beda. Ada yang berkuah, dan ada yang kering.
Rasa dan sensasi bau yang tajam dari bubuk cabai merah kering, bawang putih dan berbagai bahan bumbu lainnya membuat beberapa orang asing mengelak untuk ikut icip-icip. Bagi orang Indonesia yang suka asinan mungkin tidak begitu asing dengan rasanya.
Banyaknya campuran bahan yang sehat dan segar membuat makanan ini tinggi akan kandungan vitamin dan zat baik lainnya yang penting untuk kesehatan tubuh. Sehingga tidak heran makanan satu ini memperoleh predikat sebagai salah satu dari lima makanan tersehat di dunia.
“Tradisi membuat kimchi ini sudah lama sekali berkembang di Korea, Ya dengan berbagai bahan yang bisa dimanfaatkan dan semuanya bisa dibuat menjadi kimchi,” kisah Kim Song Hwa, warga Seoul.
“Awalnya pada musim dingin tidak ada sayuran yang bisa dimakan, sehingga saat musim dingin tiba banyak yang kekurangan makanan, untuk bertahan hidup cara mengawetkan makanan dilakukan,” tambahnya lagi.
Menurut Song Hwa, akhirnya setelah menyelesaikan panen raya dan sebelum datang musim dingin, kimchi mulai dibuat. Tradisi ini kemudian dikenal dengan kimjang. “Kimjang dulunya dilakukan beramai-ramai bersama tetangga, ini juga sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang telah didapatkan setahun serta ajang silaturahmi,” katanya.
Pekan lalu, acehkini berkesempatan melihat proses pembuatan kimchi di rumah Kim Song Hwa. “Biasanya dibuat dalam jumlah banyak, namun karena di Seoul, warga tinggal di apartemen jarang sekali dikerjakan ramai-ramai takut ribut dan mengganggu tetangga,” katanya lagi sambil tertawa.
Kim Song Hwa, mengakui walau sudah membuat banyak saat akhir musim gugur lalu namun setelah dibagi dengan beberapa anaknya, persediaan mereka menipis. Hari itu Ia sudah memotong kubis dan merendamnya dalam air garam semalaman.
Di dapur, nenek seorang cucu ini sibuk mempersiapkan bumbu-bumbu untuk melumuri kubisnya yang sudah ditiriskan. “Jangan terlalu lama juga nanti bisa lembek dan tidak bagus hasilnya,” katanya sambil merajang bawang bombay.
Campurannya ada bawang putih, garam, cuka, paprika, jahe, cabai bubuk, bawang bombay, wortel, bawang prei, biji wijen, buah pir, tiram, ebi, chestnut, abalone, biji tanaman pinus, ganggang laut, sari apel, minyak dari kecap ikan teri dan lainnya. “Hari ini tidak ada pir, jadi saya menggantinya dengan beberapa gyul yang yang baru datang dari Jeju.” Gyul adalah sejenis jeruk dari Pulau Jeju yang panen saat musim dingin.
Song Hwa memblender semua bahan bumbu sampai halus. “Bisa kamu bayangkan kalau dulu sebelum ada mesin-mesin ini betapa repotnya,” katanya lagi sampai tersenyum.
Orang-orang Korea dulunya menyimpan kimchi yang sudah mereka buat di depan rumah dalam guci khusus dan menanamnya di halaman rumah. Guci ini terbuat dari keramik khusus dan berwarna coklat yang disebut onggi. Seiring perkembangan teknologi, dan pentingnya kimchi bagi masyarakat maka diciptakanlah kulkas khusus kimchi lengkap dengan kontrol suhu yang tepat untuk menyimpan asinan ini.
Makanan pelengkap ini juga dikenal dengan segudang manfaat karena kandungan A, B dan C dalam kandungannya. Bakteri baik yang bernama laktobasilus yang ditemukan dalam proses fermentasinya juga bisa membantu pencernaan. Studi terbaru bahkan menyebutkan, fermentasi kubis mempunyai senyawa yang dapat mencegah pertumbuhan sel kanker.
“Bagaimana kamu sudah terbiasakan makan kimchi?” tanya Mun, Suami Song Hwa yang sedang bersiap membantu istrinya melumuri kubis yang sudah ditiriskan dengan bumbu.
Ke Korea tanpa makan kimchi mustahil rasanya. Hampir setiap rumah makan menghidangkan kimchi sebagai makanan pelengkap. Bahkan di restoran cepat saji. Jangan heran nantinya melihat warga Korea makan burger atau pizza ditemani oleh si acar merah ini.
“Setiap musim dan daerah di negara ini punya kimchi andalan tersendiri, banyak juga yang mengatakan kimchi dari wilayah Jeolla Namdo sedikit unik dan lebih enak nanti kamu harus coba,” katanya. Kim Song Hwa sendiri lahir dan tumbuh dewasa di Gwangju, Ibu kota daerah Jeollado.
Banyak ragam jenis kimchi yang disukai masyarakat. Misalnya musim semi adalah saatnya mencicipi yangpa kimchi (daun bawang hijau), oi sobagi (mentimun) di musim panas, sawi putih pada musim gugur dan dongchimi (raddish) di musim dingin.
Selain itu setiap kawasan memiliki versi tersendiri, seperti Kota Jeonju yang memiliki kimchi dengan rasa dan aroma saus ikan dan seafood lebih kental. Bossam kimchi yang hanya tersedia saat acara acara khusus. Selain itu juga baek (kimchi tanpa bubuk cabe), kakdugi (kimchi lobak yang dipotong dadu), chongga (kimchi dari lobak kecil), nabak, dongchimi, gat. Bahkan kimchi daun bawang dan lainnya. Hingga saat ini ada ratusan jenis kimchi yang ada di Korea.
Namun kubis kimchi yang paling populer dan tersedia di segala suasana. Bahkan, beberapa penerbangan internasional menyediakannya.
Awal Mula Kuliner Kimchi Hingga Dicatat UNESCO
UNESCO telah mencatat makanan ini ke dalam representatif warisan budaya milik Korea Selatan dan Korea Utara. Awalnya bernama shimchie yang berarti pengasinan sayuran. Pengucapannya berubah fonetik dari shimche – dimchae – kimchae – kimchi.
Perkiraan tanggal menurut sejarah telah mencatat tentang proses fermentasi ditemukan sekitar 3.000 tahun lalu, ketika timun yang sudah dipotong dan diasinkan agar tahan lebih lama. Menurut catatan yang ada, asinan kubis yang dikenal seperti sekarang sudah dimulai sebelum zaman Tiga Kerajaan (Goguryeo, Baekje dan Silla) atau pada 57 sebelum masehi sampai 668 masehi di Semenanjung Korea.
Samguk Sagi, catatan sejarah Korea pada zaman Tiga Kerajaan yang ditemukan, menyebutkan tentang penggunaan tempat penyimpanan makanan fermentasi sayuran yang menandakan bahwa pada masa itu sudah ada jenis makanan yang diawetkan secara alami. Jumlah dan rasanya berevolusi sesuai dengan perkembangan zaman.
Makanan ini pertama kali mendunia setelah diperkenalkan pada Olimpiade Seoul tahun 1988. Sekarang, dengan merebaknya gelombang Korea ke seluruh dunia, berkat beragam program televisi dan drama terus memperkenalkannya, kimchi semakin terkenal.
“Kalau ada kimchi sama nasi hangat saja, semuanya sudah cukup,” katanya Kim Song Hwa kepada acehkini.
Rasa kimchi yang baru dibuat, terasa segar dengan aroma bawang putih yang sedikit menyengat. Saat dimakan dengan nasi putih, aroma itu menghilang, dan mashita. []
