Konten Media Partner

Kisah Para Siswa SMP di Aceh yang Ogah Divaksin Corona

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang siswa SMP Peukan Bada menjalani vaksinasi. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Seorang siswa SMP Peukan Bada menjalani vaksinasi. Foto: Suparta/acehkini

Menyasar para siswa, vaksinasi akan dimulai di SMP Negeri 2 Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Tim vaksinator dari Puskesmas setempat, telah bersiap sejak pukul depalan pagi di sebuah ruang belajar, Kamis (23/9/21).

Hampir satu jam menunggu, belum ada siswa yang masuk ke ruang tempat vaksinasi corona. Rupanya mereka berkumpul di luar dan tidak mau divaksin. Hanya tiga murid lelaki yang saat itu bersedia.

Kepala Sekolah SMP 2 Peukan Bada, Elvina Wati, kemudian menghampiri mereka, dan bertanya alasan tidak mau divaksin. Setelah pertanyaan yang sama diulang, seorang murid menjawab “Belum diizinkan orang tua, Buk.”

“Baik, jika orang tua tidak mengizinkan, tidak akan divaksin. Tapi anak-anak masuk saja dulu ke dalam. Ibu menjamin, yang tidak diizinkan orang tua, yang takut divaksin, tidak akan divaksin. Kita di dalam hanya mendengar sosialisasi dari petugas,” kata Elvina Wati.

Menurut Elvina, sebenarnya sosialisasi telah mereka lakukan jauh-jauh hari, termasuk telah memberi pemahaman kepada orang tua murid agar anaknya diizinkan untuk divaksin.

Setelah tahu banyak siswa yang tidak mau disuntik vaksin COVID-19, vaksinator kemudian memberi pemahaman singkat. Termasuk bertanya alasan mereka tidak mau divaksin.

kumparan post embed
Guru dan tenaga kesehatan memberikan penjelasan kepada siswa terkait vaksinasi. Foto: Suparta/acehkini

Seorang siswa menjawab, takut meningal setelah divaksin. Sang Vaksinator menjelaskan, pengalaman dia yang telah memvaksin ribuan orang, belum ada laporan yang meningal setelah divaksin. “Yang akan divaksin juga tidak langsung disuntik, tapi diperiksa dulu oleh kakak-kakak petugas, hanya yang sehat dan siap yang akan divaksin,” kata dia.

Setelah itu, vaksinasi pun dimulai. Anak-anak tetap dibiarkan di dalam ruangan untuk melihat prosesnya. Usai tiga murid laki-laki divaksin, seorang murid perempuan mengajukan diri. Setelah itu, sebagian kawan-kawannya juga mulai ikutan divaksin.

Kepala Sekolah meminta, hanya mereka yang sudah diizinkan orang tua yang didahulukan. Sementara yang belum, diizinkan pulang terlebih dahulu untuk meminta izin.

Dalam proses screening, selain masalah riwayat penyakit yang ditanya, juga soal sarapan pagi. Bagi yang belum, diminta untuk sarapan dahulu dan minum dahulu, setelah itu baru akan divaksin. []