Konten Media Partner

Konflik Aceh dalam Lukisan Fariz

ACEHKINIverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Konflik panjang berakhir di Aceh setelah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia sepakat damai di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005 silam, dikenal dengan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki. Memperingati 14 tahun damai Aceh, sepanjang Agustus 2019, redaksi acehkini menurunkan laporan kilas balik konflik. Tentang korban, penyintas, dan kenangan para pihak bertikai. Bukan untuk mengungkit luka lama, tapi untuk belajar agar perang tak terulang.

Lukisan Fariz tentang kisah konflik dalam pameran di Museum Tsunami. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Lukisan Fariz tentang kisah konflik dalam pameran di Museum Tsunami. Foto: Suparta/acehkini

Wajah pria itu menengadah ke atas. Sehelai kain terikat dari belakang kepala hingga menutupi kedua bola mata. Di samping kanannya, perempuan berhijab berurai air mata. Mulut dan hidungnya tertutup kain yang mengikat ke belakang.

Di sekeliling pria dan perempuan ini terdapat senjata laras panjang, pria berwajah beringas, dan pria mengenakan topi pakaian dinas harian (PDH) tentara. Orang-orang itu diapit sebuah helikopter bertuliskan RI di bagian atas dan seekor merpati terikat di bagian bawah.

Di atas kanvas berukuran 60 kali 80 sentimeter, Fariz Albar melukis orang-orang lapisan bawah yang terdampak perang dalam karya yang dinamakannya ‘Muslihat Hasrat’. Lukisan ini dipamerkan pada pameran seni rupa Kotak Hitam di Lantai 3 Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Aceh.

Seniman 21 tahun itu, dalam lukisannya, mengangkat kisah konflik Aceh antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia (RI) yang berlangsung selama 1976-2005. Ia berpesan agar semua orang untuk menolak lupa terhadap tetesan darah yang tumpah di Tanah Rencong.

"Ini rekam jejak masyarakat. Beberapa orang tidak berani untuk mengungkapkan jadi mereka diam," tutur Fariz kepada acehkini, Senin (5/8).

Lukisan Fariz Akbar, berjudul Muslihat Hasrat. Foto: Habil Razali/acehkini

Lukisan bergaya hatching kontemporer dengan teknik menggambar dengan menggunakan tinta di atas kanvas itu diselesaikannya selama sepekan. Melalui goresannya di kanvas, Fariz ingin mencerminkan kondisi kerabat dan keluarga, atau masyarakat biasa selama konflik berlangsung di Aceh.

Pria dan wanita yang wajahnya terikat merupakan kondisi korban konflik Aceh yang seharusnya tidak menjadi korban. Orang-orang tersebut adalah gambaran dari masyarakat sipil yang tertindas dan menjadi korban ketika konflik terjadi.

"Masyarakat-masyarakat yang terpaksa harus jalan dan mengalami konflik karena efek dari para petinggi-petinggi," ujar dia.

Selama konflik, kedamaian dari orang-orang biasa di lapisan bawah direnggut dan ruang gerak kehidupan mereka dikekang. "Kebebasan mereka itu ibaratnya dibatasi."

Selain karya Fariz, pameran seni rupa Kotak Hitam turut memamerkan 34 karya lukisan dari seniman lainnya. Pameran yang melibatkan 35 perupa muda Aceh ini berlangsung selama 3 hingga 8 Agustus 2019.

Karya yang dipamerkan adalah seni rupa terbaik selama proses penggarapan dalam jangka 20 hari. Ragam hasil dari perupa itu kemudian diseleksi oleh tiga kurator, lalu dipamerkan.

Pameran seni rupa Kotak Hitam digagas oleh Ceudahate, sebuah komunitas pelukis perempuan di Aceh. Ketua Ceudahate, Nurul Wahyuni, mengatakan Kotak Hitam adalah ruang kreatif dan imajinasi anak-anak muda Aceh untuk berkarya.

Nurul Wahyuni, Ketua Ceudahate. Foto: Habil Razali

"Apa saja yang akan dikeluarkan dari Kotak Hitam tersebut ide-ide yang akan dituangkan ke dalam karya, sehingga Kotak Hitam itu penuh dengan warna," ujar Nurul kepada acehkini. []

Reporter: Habil Razali