kumparan
10 Sep 2019 12:04 WIB

Lapisan Tsunami Purba Aceh di Gua Ek Leuntie Bakal Diawetkan

Penelitian di Gua Ek Leuntie, Aceh Besar. Foto: BPBA
Lapisan endapan tsunami purba yang berada di Gua Ek Leuntie, Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Aceh, akan diawetkan dan disimpan di museum. Penelitian lebih lanjut di gua tersebut terus dilakukan peneliti dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), dan Nanyang Technological University Singapore.
ADVERTISEMENT
Nazli Ismail, peneliti dari Unsyiah, mengatakan penggalian di lokasi gua terus dilakukan hingga akhir pekan ini. Tim peneliti sudah mulai melakukan penggalian sejak Sabtu (7/9).
"Di sana kita menggali tiga lubang untuk menambah informasi-informasi yang sebelumnya dinilai kurang," kata Nazli kepada acehkini, Selasa (10/9).
Menurut Nazli, penelitian lanjutan dilakukan sekaligus untuk mempersiapkan bahan lapisan endapan di gua untuk diawetkan dan ditampilkan di tempat lain, seperti Museum Tsunami Aceh.
"Kita coba mengawetkan lapisan-lapisan tersebut, sehingga bisa ditampilkan apakah di Museum Tsunami nanti, kemudian di lokasi kalau seandainya dijadikan geopark, dan tempat lain," ujar Nazli.
Tetapi untuk saat ini, lanjut Nazli, tim peneliti masih berfokus untuk mencari informasi-informasi tambahan yang kurang dari penggalian sebelumnya.
ADVERTISEMENT
"Yang diawetkan tanah lapisan, tapi kita belum ke sana. Mungkin di akhir nanti, sekarang fokus dalam rangka menambah data dulu," tutur Nazli.
Salah satu peneliti, Kerry Sieh, dari Earth Observatory of Singapore (EOS) Nanyang Technological University, pada seminar di Aula Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Senin (9/9), menjelaskan pihaknya menemukan sebaran titik aktif tsunami selama periode 1100-1390 Masehi di wilayah Aceh dari hasil penelitian di Gua Ek Leuntie.
Penelitian di Gua Ek Leuntie, Aceh Besar. Foto: BPBA
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Sunawardi, mengapresiasi penelitian yang dilakukan di gua yang menyimpan jejak tsunami purba. BPBA pada tahun ini sedang melakukan pembebasan lahan warga di sekitar Gua Ek Leuntie untuk menjadikan kawasan itu sebagai geopark tsunami purba.
Gua Ek Leuntie menjadi pintu masuk menelisik jejak tsunami Aceh masa lalu melalui lapisan pasir di dalam gua, penggalian umur radioaktif unsur karbon, serta analisis fosil-fosil mikroskopis atau foraminifera.
ADVERTISEMENT
Peneliti menemukan tsunami besar pernah menghantam Aceh sebanyak tujuh kali: sekitar tahun 900, 1349, 1450, 1797, 1833, 1907, dan terakhir pada 26 Desember 2004. []
Pintu Gua Ek Leuntie di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Foto: Adi Warsidi
Reporter: Habil Razali
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·