Pencarian populer
PUBLISHER STORY
9 Maret 2019 1:21 WIB
0
0

Lawan Kekerasan Seksual, Flower Aceh Ajak Komunitas Peduli

Diskusi publik komunitas perempuan di Banda Aceh. Foto: Dok. Flower Aceh

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Sedunia (Internasional Women’s Day) 2019, Flower Aceh melaksanakan diskusi publik komunitas di Kota Banda Aceh, Pidie dan Aceh Utara yang bertemakan melawan kekerasan seksual dan mewujudkan pemilu bersih untuk Aceh hebat.

Koordinator Divisi Pemberdayaan Masyarakat Flower Aceh, Ernawati menegaskan pentingnya pelaksanaan diskusi untuk membangun kesadaran kritis kelompok perempuan menyikapi isu seputar pemilu dan diskursus RUU penghapusan kekerasan terhadap perempuan yang saat ini diperbincangkan. “Kegiatan diskusi ini kami laksanakan secara paralel di 3 kabupaten/kota, dalam rangka mengkampanyekan Hari Perempuan Sedunia, 8 Maret 2019,” sebutnya dalam pernyataan tertulis, Sabtu (9/3).

Dalam diskusi, mereka juga membedah substansi RUU PKS dari sudut pandang pengalaman RPUK dalam menangi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan di komunitas. Lembaga tersebut ikut mendorong inisiatif masyarakat dan aparatur desa untuk mendukung lahirnya kebijakan perlindungan perempuan secara khusus dan konfrehensif.

Para peserta diskusi publik dari kalangan perempuan untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia di Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh. Foto: Dok. Flower Aceh

Di Banda Aceh, diskusi digelar di Gampong Blang Oi, diikuti oleh puluhan perempuan dengan menghadirkan narasumber Presidium Balai Syura Norma Susanti, Direktur RpUK Laela Jauhari, dan Pendiri LSM Flower Aceh, Suraiya Kamaruzzaman.

Leila menekankan penting disahkannya RUU PKS karena sebagai payung hukum untuk perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan. “Kami menyadari ada banyak pro dan kontra terhadap keberadaan RUU PKS ini, namun kami percaya keberadaannya dapat melengkapi aturan-aturan yang belum secara menyeluruh berpihak korban kekerasan seksual,” jelas Leila.

Terkait Pemilu 2019, Norma Susanti mengatakan pentingnya partisipasi masyarakat untuk menggunakan hak suara. “Menjadi golput bukanlah pilihan yang bijak, karena setiap suara yang berikan akan menentukan baik-buruknya pemimpin dan perubahan pembangunan di Aceh selama lima tahun ke depannya,” jelasnya.

Kegiatan diskusi komunitas di Pidie dan Aceh Utara juga membahas tema yang sama dengan diiringi kegiatan pentas seni, berupa tarian tradisional, stand up komedi, dan pembacaan puisi. []

Reporter: Adi Warsidi

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22