Konten Media Partner

Mapesa Temukan Makam Kuno Petinggi Kesultanan Aceh Abad ke-16

ACEHKINIverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nisan kuno peninggalan sejarah Kesultanan Aceh Darussalam. Dok. Mizuar/Mapesa
zoom-in-whitePerbesar
Nisan kuno peninggalan sejarah Kesultanan Aceh Darussalam. Dok. Mizuar/Mapesa

Makam kuno dengan nisan bernilai sejarah ditemukan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) di Meunasah Baet, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Para relawan Mapesa kemudian menggelar meuseuraya atau gotong royong untuk membersihkan dan menata kembali lokasi itu, Minggu (27/09)

Kegiatan gotong royong yang rutin digelar Mapesa, kali ini diikuti oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Aceh, Dedy Yuswadi; Pemerhati Sejarah Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, para pengurus dan relawan Mapesa, dan masyarakat setempat.

Relawan Mapesa menata kembali makam kuno abad ke-16. Dok. Mizuar/Mapesa
Memperbaiki kembali nisan kuno. Dok. Mizuar/Mapesa

Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, mengatakan makam kuno yang dipenuhi artefak nisan adalah peninggalan akhir abad ke-16 dan ke-17, saat periode puncak kemajuan Kesultanan Aceh Darussalam. Makam yang ditemukan itu terindentifikasi sebagai kompleks makam para petinggi istana Kesultanan Aceh Darussalam.

Menurutnya, yang menarik pada komplek makam tersebut bukan hanya batu Nisan yang bercorak ragam peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam, tetapi ada juga tipe nisan berasal dari Kerajaan Samudera Pasai (Aceh Utara), Biheue Pedir (Pidie) dan Lamuri.

"Ini pertanda ada satu komitmen visi bersama beberapa kerajaan di Aceh tersebut, sebagai lambang persatuan dalam mengusir Portugis dari bumi Aceh," kata Mizuar Mahdi.

Nisan-nisan kuno setelah ditata kembali. Dok. Mizuar/Mapesa

Dia menjelaskan, bahwa letak kompleks makam ini sangat spesial di atas gundukan tanah, ciri ini sering didapat dalam sejumlah penemuan makam kuno di tempat lain. “Ini dipastikan milik keluarga istana,” katanya.

Batu-batu nisan tersebut kebanyakan sudah rusak, patah dan tidak mendapat perawatan, sejak ratusan tahun lalu. Padahal nisan-nisan di sana sangat berharga, dan bertulis kalimat-kalimat tauhid yang terpahat rapi.

Dedy Yusnadi saat melihat makam kuno peninggalan sejarah Aceh. Foto: Tarmizi Abdul Hamid

Kepala Dispora Aceh, Dedy Yuswadi, memberikan apresiasi atas kerja nyata para relawan dari Mapesa, yang setiap minggu melakukan kegiatan mulia, merawat nilai sejarah Aceh. "Pemuda Aceh ini telah berperan aktif dalam menyelamatkan artefak sejarah sebagai identitas Aceh sesungguhnya demi ilmu pengetahuan dan marwah Aceh, serta pengingat bagi generasi penerus," kata Dedi. []