Melihat Pembuatan Kue Seupet, Camilan Khas Lebaran di Aceh

Adonan putih dijepit dalam piringan ceper panas, lalu cetakan dengan gagang panjang itu diletakan di bara api. Asap mengepul, tak berselang lama beberapa cetakan lainnya ditaruh berjejer.
Nuridah tekun membalik-balik cetakan itu, dan juga membukanya guna melihat apakah adonan itu sudah terbakar rata. Tak lama kemudian, tangannya cekatan merapikan kelebihan adonan di pinggir cetakan dengan pisau kecil. Saat matang, dia membuka, mengambil, serta memberikannya kepada rekan di sampingnya.
Rekannya mengurus lembaran bulat kue sesuai keinginan, entah itu model lipat atau digulung. Begitulah proses membuat Kue Seupet, camilan khas Aceh yang hampir ada di setiap rumah warga saat Lebaran.
Nuridah adalah pembuat Kue Seupet andalan di kawasan Darussalam, Aceh Besar. “Kami selalu banjir pesanan menjelang Hari Raya,” katanya, Minggu (2/6), tiga hari jelang Idul Fitri 1440 Hijriah.
Kue itu dibuat dari tepung gandum, gula pasir, mentega, dan telur, yang dengan cepat dicampur air dan diaduk terus-menerus sampai kental. Di bulan Ramadan, Nuridah membuatnya sampai dua hari menjelang lebaran, setelah itu setop, karena harus bersiap menghadapi Idul Fitri.
Nuridah adalah salah satu orang yang masih membuat Kue Seupet secara tradisional. “Sekarang, banyak yang membuatnya dengan menggoreng dengan minyak di kompor atau membakarnya di kompor,” ungkap Nuridah.
“Saya masih membakarnya dengan tungku memakai tapeh (sabut kelapa),” sambungnya.
Nama Kue Seupet diambil sesuai proses pembuatannya. 'Seupet' berarti 'jepit', karena adonan harus dijepit di antara cetakan lalu dibakar di atas tapeh yang ditata sedemikian rupa agar adonan matang merata. Bentuk kue ini sepintas sama dengan Kue Sapik yang terkenal di Sumatera Barat. Sebagian wilayah lain menyebutnya Kue Semprong.
Masing masing cetakan memiliki motif yang berbeda, sehingga satu toples kue bisa beraneka ragam motif bunga. Nuraidah mendapat cetakan dan ilmu dari ibunya. Warisan turun temurun. Cetakan ini dibersihkan setiap hari setelah dipakai agar tidak karatan. Cetakan dengan bentuk bulat, dengan pegangan panjang ini susah didapatkan di pasaran. Ia sendiri memiliki delapan cetakan yang tersisa.
Dari peracik tradisonal di seluruh Aceh, Kue Seupet berpindah ke rumah-rumah warga, terhidang dalam toples di meja-meja tamu. Kue ini mudah ditemui, bahkan dijual di pasaran sebagai oleh-oleh khas lebaran Aceh. Bagi pemudik yang akan balik, kue ini kerap dibawa serta. []
Reporter: Khiththati
