kumparan
11 Mar 2019 10:14 WIB

Menikmati Kopi Boh Manok Kocok Aceh di Keude Ie Leubeue

Kopi boh manok kocok, rasanya unik. Foto: Taufik Mubarak/acehkini
Hari Kopi Nasional, 11 Maret 2019. Tangan Asri (45) tampak cekatan memainkan mixer di dalam gelas. Puluhan gelas berisi kuning telur yang sudah dipisahkan dari cairan putihnya tersusun rapi di hadapan Asri. Dia akan mengambil gelas itu satu persatu, tergantung berapa banyak pelanggan yang mampir di warungnya.
ADVERTISEMENT
Kuning telur yang sebelumnya utuh seketika mengembang, berubah menjadi buih. Kemudian Asri mengambil sapu lidi yang sudah diikat rapat dan mulai mengocok pelan-pelan agar buih telur tadi merata.
Gelas itu kemudian ditaruh di atas dapur kupi yang dilapisi seng. Ia mengambil saringan kopi dan teh, lalu menuangkan kopi dan teh secara bergantian. Kopi mendapatkan urutan pertama yang dituangkan, baru disusul dengan teh.
Selanjutnya, Asri mengambil susu kaleng dan menuangkan ke dalam gelas sesuai takaran, tak lupa ditaburkannya sedikit susu Milo saset. "Milo ini untuk menguatkan rasa," katanya saat acehkini mampir ke warungnya, Senin (11/3).
Asri di warung kopi miliknya. Foto: Taufik Mubarak/acehkini
Asri melakukan 'ritual' itu setiap kali ada pengunjung yang masuk ke warung kopi miliknya. Semua dia lakukan sendirian. Namun jika pengunjung ramai, sang istri yang berjualan putu dan penganan khas Keude Ie Leubeue akan membantunya.
ADVERTISEMENT
Istri Asri mengambil gelas-gelas berisi boh manok kocok berbuih-buih itu dan menghidangkannya untuk pelanggan. Sementara gelas-gelas yang sudah kosong di atas meja segera berpindah tempat, ditaruh di dalam bejana. Seorang pelayan membantunya membersihkan gelas-gelas itu, kemudian menyusunnya kembali di dapur beralaskan seng.
Kuning telur disiapkan dalam gelas, untuk dicampur dengan kopi. Foto: Taufik Mubarak/acehkini
Asri sudah puluhan tahun berjualan kopi boh manok kocok (telur kocok) di Gampong Keude Ie Leubeue, Kecamatan Kembang Tanjung, Kabupaten Pidie, Aceh. Meski menyediakan minuman khas kuliner tradisional Aceh, warung miliknya sama sekali tidak instagramble.
Dinding kedai yang tampak sudah 'berumur' itu dibuat dari papan kayu yang dicat hijau muda. Begitu pula dengan meja yang disusun rapi di sisi kanan dan kiri dinding dibuat dari kayu yang alasnya dilapisi papan kayu.
Kopi rasa telur yang menjadi andalan di kawasan Pidie, Aceh. Foto: Taufik Mubarak/acehkini
Bahkan warung lain yang sederet dengan milik Asri juga berbahan sama. Kedai itu terkesan tidak cocok bagi kaum milenial untuk berswafoto. Menurut Asri, pernah ada rencana memugar warung yang pernah hancur saat gempa dan tsunami 26 Desember 2004 itu. Bangunan yang berhadapan dengan pasar ikan itu sudah saatnya dibangun permanen.
ADVERTISEMENT
"Tidak jelas lagi," jawab Asri saat disinggung soal rencananya itu. "Padahal melihat intensitas pengunjung, pasar pagi ini sudah saatnya dilakukan peremajaan," sambungnya.
Kawasan Gamong Keude Ie Leubeue. Foto: Taufik Mubarak/acehkini
Menurut pantauan acehkini, ruas jalan yang sempit di lokasi itu hanya muat dilalui satu mobil. Pengemudi pun harus melambatkan laju mobilnya saat melewati ruas jalan ini. Sebabnya banyak sepeda motor diparkir sembarangan di sisi kiri jalan, sementara pada sisi satunya lagi berjejer meja milik ibu-ibu pedagang yang berjualan nasi gurih, putu, dan kue adee khas Keude Ie Leubeue.
Pasar Keude Ie Leubeue hanya ramai pada pagi hari. Warung di pasar itu buka hingga pukul 10 pagi. Setiap hari, Asri menyiapkan lebih dari seratus gelas kupi boh manok kocok. Segelas kopi itu dibandrol Rp 5.000. "Kadang-kadang kurang dari jumlah itu. Tergantung rezeki para nelayan yang pulang melaut," katanya.
ADVERTISEMENT
Bagi Anda yang ingin mencicipi kupi boh manok kocok khas Keude Ie Leubeue, datanglah pagi-pagi sekali. Mereka mulai buka pukul 06.30 WIB. "Kalau datang siang, hanya ada kambing dan biri-biri di sini," pungkas Asri. []
Pasar ikan di Keude Ie Leubeue. Foto: Taufik Mubarak/acehkini
Reporter: Taufik Mubarak
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan