Konten Media Partner

Merawat Tradisi, Menjaga Cita Rasa Kopi Aceh dengan Cara Tradisional

ACEHKINIverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mengolah bubuk kopi secara tradisional. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Mengolah bubuk kopi secara tradisional. Foto: Suparta/acehkini

Lelaki muda itu duduk di sisi tungku perapian. Kedua tangannya bergantian memutar tuas yang tersambung ke tabung besi yang terus menggelinding di atas bara. Sesekali dia menambah kayu bakar, menjaga api menyala rata.

Pekerjaan seperti itu lebih 20 tahun dilakoni Irwansyah, warga Lamreung, Aceh Besar, merawat usaha yang diwariskan orangtuanya. Mengolah bubuk kopi rosbusta dengan cara tradisional.

Selasa siang (10/7), pria 37 tahun itu sedang menggongseng biji kopi milik pelanggannya, dengan jasa 5 ribu rupiah perkilogramnya. Setelah dirasa cukup, tabung diangkat dan penutup dibuka. Dari dalamnya keluar biji kopi yang menghitam bersama gumpalan asap serta aroma khas kopi.

Bubuk kopi yang ditumbuk dengan jeungki. Foto: Suparta/acehkini

Selanjutnya, kopi diaduk dengan kuning telur, mentega, susu cokelat serta gula yang telah disatukan.

“Sekali gongseng maksimal cuma muat 20 kilogram. Sementara campurannya tergantung permintaan pelanggan,” jelas Irwansyah.

Setelah dingin, sang istri dibantu anak-anaknya menumbuk dengan jeungki, sejenis alat tumbuk tradisional. Di Aceh, jeungki dulunya digunakan untuk menumbuk padi, tepung dan lain sebagainya. Sementara Irwansyah kembali pada kesibukan semula.

Cara pengolahan kopi secara tradisional warisan dari orang tua. Menurut Irwansyah, dia telah sering membantu menumbuk kopi sejak usia tujuh tahun.

Tabung untuk menggongseng biji kopi secara tradisional. Foto: Suparta/acehkini
Biji kopi kerap dicampur telur sesuai permintaan warung-warung. Foto: Suparta/acehkini

Hingga kini, Irwansyah masih tetap bertahan mengolah bubuk kopi dengan cara tradisional. Walau sejak beberapa tahun silam dia telah memiliki mesin, namun tak pernah digunakannya.

“Kopi yang ditumbuk dengan jeungki beda rasa serta aroma dari yang diolah pakai mesin. Langganan saya juga masih meminta olahan tradisional,” jelas Irwansyah.

Dalam sehari, dirinya hanya mampu mengolah sekitar 100 kilogram kopi. Selaian menerima jasa, dia juga menumbuk punya sendiri untuk langganannya. Bubuk kopi miliknya dijual Rp 70 ribu per kilogramnya.

Bisnis keluarga ini telah diwariskan turun-temurun. Foto: Suparta/acehkini
Mengayak bubuk kopi. Foto: Suparta/acehkini

Menurut Irwansyah, di kampungnya ada tujuh usaha rumahan yang menerima jasa tumbuk bubuk kopi. Tapi hanya dua yang masih mempertahankan cara tradisional; dia dan saudara lelakinya, M Nur. Selebihnya telah menggunakan mesin.

Seiring makin ramai pengguna jasa mereka, setahun belakangan Irwansyah membuka jambo (pondok) jeungki baru. Sementara warisan orang tua dikelola abangnya.

Firman Hamzah, pemilik Warung Sekretaris Bersama (Sekber) Wartawan di Banda Aceh, satu di antara pelanggan setia Irwansyah. Tiap pekan ia membawa 15 kilogram biji kopi Robusta asal Lamno, Aceh Jaya, bersama campurannya ke tempat Irwansyah.

Selain untuk usaha warung kopinya, bubuk itu juga dikirim ke luar daerah. “Ada teman buka usaha di Pulau Jawa, dia minta bubuk kopi dari saya,” ujarnya. []

Menumpahkan biji kopi dari tempat gongseng ke wadah yang telah disiapkan. Foto: Suparta/acehkini
Biji kopi yang telah digongseng. Foto: Suparta/acehkini
Asap mengepul di pondok Irwansyah, harum dengan aroma kopi. Foto: Suparta/acehkini
Bubuk kopi yang telah diolah. Foto: Suparta/acehkini
Anak Irwansyah memperlihatkan tangannya yang hitam karena mengaduk kopi. Foto: Suparta/acehkini
Firman, pemilik warung Sekber di Banda Aceh meracik kopi. Bubuknya diolah Irwansyah. Foto: Suparta/acehkini

Reporter: Suparta